Bagaimana Agar Kita Bisa Sepintar Sherlock Holmes?


Naviri Magazine - Sherlock Holmes, sebagaimana tokoh-tokoh ikonik lainnya, memiliki banyak penggemar fanatik. Daya tarik Sherlock Holmes yang paling utama tentu kecerdasan dan kemampuannya berpikir hingga bisa menguraikan dan memecahkan kasus-kasus yang sangat rumit. Sejak pertama kali diperkenalkan ke dunia, Sherlock Holmes segera meraih banyak penggemar.

Kisah petualangan Sherlock Holmes dan sahabatnya, John Watson, pertama kali terbit pada 1887. Sejak itu, Arthur Conan Doyle—sang pencipta sosok tersebut—telah menghasilkan empat novel dan 56 cerpen tentang detektif konsultan yang tinggal di Jalan Baker nomor 221B, London. 

Pesona Holmes tak lekang waktu. Hingga kini, kisah-kisahnya masih dibaca orang, serta dialihwahanakan dalam puluhan film dan serial televisi.

Pesona terbesar Holmes adalah kemampuan observasi dan deduksinya yang tajam. Conan Doyle menggambarkannya sebagai orang yang mampu mengelola emosi secara ketat, sehingga hampir selalu bisa berpikir rasional dan objektif dalam segala situasi. Karenanya, ia tampak bak sosok pemikir yang dingin. Hampir-hampir seperti mesin.

Dengan semua kualitas itu, ditambah kepribadiannya yang eksentrik, tak mengherankan jika ia tidak pernah kehabisan penggemar fanatik. Kemampuannya seakan-akan tak terjamah orang biasa, lebih-lebih di dunia nyata. 

Namun, asumsi ini ditolak psikolog Maria Konnikova. Menurutnya, kemampuan Holmes adalah pengejawantahan dari apa yang oleh ilmu psikologi disebut mindfulness alias “kesadaran penuh”.

Konsep ini bukan barang baru dalam ilmu psikologi. Psikolog Ryan M. Niemiec, seperti dikutip laman Psychology Today, menjelaskan bahwa definisi umum mindfulness adalah memfokuskan perhatian pada suatu objek dengan tujuan tertentu, dan menghindari penilaian subjektif. Itu adalah sebentuk pengaturan atas sikap keingintahuan, keterbukaan, dan penerimaan kita terhadap suatu objek.

Pada dasarnya, itulah yang selalu dilakukan Sherlock Holmes saat menangani sebuah kasus. Jadi, kemampuan Sherlock Holmes sebenarnya bukan hal yang langka atau bakat istimewa. Kemampuan itu bisa dipelajari, dan digunakan dalam keseharian kita.

“Sherlock Holmes bukanlah psikolog. Ia bahkan bukan tokoh nyata. Namun, ia bisa jadi panduan mempelajari bagaimana semestinya kita berpikir,” terang Maria Konnikova dalam artikelnya, “Sherlock Holmes, The Mindful Detective”, yang tayang di situs Scientific American.

Lalu, pelajaran apa yang bisa diperoleh dari sosok Sherlock Holmes?

Observasi adalah Kunci

“Kau tampaknya memperoleh banyak hal dari penampilannya, yang tak kelihatan olehku,” ujar John Watson kepada Sherlock Holmes. 

Klien mereka, Mary Sutherland, baru saja pulang dan memberi kasus sepele tapi unik pada Sherlock Holmes.

John Watson heran bagaimana Sherlock Holmes bisa tahu bahwa Mary Sutherland adalah juru ketik yang menderita rabun dekat. Padahal keduanya baru pertama kali bertemu, dan Sherlock Holmes hanya memperhatikannya sebentar.

“Bukannya tak kelihatan, tapi kaulah yang tak memperhatikan, Watson,” jawab Sherlock Holmes. 

Si detektif konsultan lantas meminta sahabatnya memaparkan kesan dan apa saja yang ia lihat dari klien mereka.

John Watson memerinci semua yang dilihat dari klien yang tunangannya menghilang secara tiba-tiba beberapa saat sebelum pemberkatan itu. Mulai dari segala yang dikenakannya, warnanya, juga kesan tentang si nona.

Kesimpulan yang didapatnya, “Penampilannya bak orang kaya, tapi gayanya santai, seenaknya, dan agak kampungan.”

Mudah saja bagi Holmes berkomentar bahwa sahabatnya itu telah melewatkan banyak hal penting. Watson tak tahu hal mana yang mesti diperhatikan untuk menyusun kesimpulan, dan hanya terpaku pada kesan-kesan umum.

Untuk kesekian kalinya, Holmes terpaksa menjelaskan deduksinya kepada Watson yang selalu kebingungan: 

“Seperti yang kau lihat, wanita ini berhiaskan bulu di lengan bajunya, dan ini meninggalkan jejak penting. Ada dua lekukan agak di atas pergelangan tangannya. Ini jelas menunjukkan dia seorang juru ketik, karena di bagian itulah tangannya menekan meja. 

“Seandainya dia sering menjahit dengan mesin jahit yang masih dijalankan tangan, bisa juga timbul lekukan seperti itu, tapi hanya di tangan kiri dan agak lebih jauh dari ibu jari. Tapi itu tak terjadi. 

“Aku lalu memperhatikan wajahnya, dan kulihat ada tanda bekas kacamata di hidungnya. Itulah sebabnya, aku lalu berkesimpulan ia menderita rabun dekat, dan pekerjaannya mengetik.”

Cuplikan dari cerpen “A Case of Identity” yang jadi bagian bunga rampai The Adventures of Sherlock Holmes (1891) itu dengan jelas menunjukkan perbedaan mendasar antara Holmes dan Watson—juga sebagian besar kita. Sementara yang lain hanya melihat secara sekilas, Holmes melatih dirinya untuk selalu mengobservasi.

“Holmes melatih dirinya sendiri untuk selalu melakukan observasi, hampir seperti manusia super [...] Dia tak pernah putus mengobservasi dan selalu menautkan diri dengan lingkungannya. Sebagian besar dari kita tak seteliti itu,” tulis Maria Konnikova yang meraih PhD di bidang psikologi di Columbia University.

Holmes hampir secara tepat merepresentasikan konsep kesadaran penuh. Seturut Niemiec, perhatian kita memang dapat dikendalikan, sebagaimana kita memilih untuk fokus pada gestur atau isi pembicaraan lawan bicara. Tergantung pada tujuan apa yang ingin kita capai. Tujuan spesifik itulah yang membedakan Holmes dan Watson.

“Pekerjaan saya memang mencari tahu tentang banyak hal. Saya mungkin telah terbiasa melihat hal-hal yang terlewatkan oleh orang lain. Itu sebabnya Anda datang meminta nasihat saya, kan?” ujar Holmes kepada Nona Sutherland, yang juga keheranan oleh ketajaman deduksinya.

Holmes punya tujuan untuk memahami kliennya, karena itu bagian dari pekerjaannya, sementara Watson tidak. Itu sebabnya Holmes sangat peduli pada hal-hal detail yang memberi petunjuk tentang pekerjaan Nona Sutherland. Sementara Watson berhenti pada hal-hal umum saja, seperti model baju dan warnanya.

Menghindari Subjektifitas

Ketika Watson berhenti pada kesan bahwa Nona Sutherland adalah orang kaya yang kampungan, Holmes menukik lebih dalam dengan mengulik latar keluarga dan sumber-sumber penghasilan kliennya. Nantinya, detail-detail itulah yang membuktikan dugaan Holmes atas motif utama pelaku menipu Mary Sutherland.

Dalam konsep kesadaran penuh, sangat penting untuk menghindari penilaian subjektif. Inilah pelajaran lain yang bisa dipetik dari sosok Holmes. Prasangka bisa mengaburkan kesimpulan, dan mendistraksi proses pengambilan keputusan.

Mengetahui apa yang benar-benar mesti dipertimbangkan dan apa yang harus diabaikan, adalah salah satu keterampilan mendasar dari pembuat keputusan yang baik. Karenanya, menurut Konnikova, sangat penting untuk mengabaikan apa yang disebutnya distracters—segala hal yang sebenarnya tidak relevan tetapi dapat memengaruhi penilaian seseorang.

“Distracter datang dalam banyak samaran: emosi dan kesan pribadi—meski kadang-kadang berguna, namun seringnya benar-benar tidak penting. Atau juga informasi tambahan yang tak signifikan tapi benar-benar memengaruhi keputusan kita. Misalnya, warna teks: kita mungkin memilih satu opsi di atas yang lain karena kebetulan berwarna biru, sementara yang lain memilih karena warnanya merah... 

“Tetapi banyak dari kita yang membuat penilaian subjektif terus-menerus, membiarkan preferensi kecil, takhayul, ritual, dan rutinitas menjauhkan kita dari apa yang seharusnya kita lihat,” tulis penulis buku Mastermind: How to Think Like Sherlock Holmes, dalam “Lessons from Sherlock Holmes II: Cultivate What You Know to Optimize How You Decide” yang tayang di laman Big Think.

Related

Science 3468854215832648349

Recent

item