Sejarah Keluarga Rothschild dan Asal Usul Konspirasi (Bagian 4)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah Keluarga Rothschild dan Asal Usul Konspirasi - Bagian 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Setelah Inggris berhasil dikuasai dan para tokoh Mason Amerika berhasil memproklamirkan kemerdekaan negara itu, Yahudi Internasional berusaha untuk menaklukkan Prancis. Baron Rothschild merupakan salah satu tokoh sentral dalam konspirasi Yahudi Internasional untuk menaklukkan Prancis.

Tahun 1773, Baron Rothschild dan 12 tokoh Yahudi lainnya berkumpul di kediamannya di Bavaria. Mereka membahas berbagai perkembangan Eropa terakhir, termasuk mengevaluasi hasil-hasil upaya Konspirasi di Inggris. Dalam pertemuan inilah, nama Adam Weishaupt disebut oleh Rothschild sebagai seseorang yang bisa dipercaya untuk menjalankan tugas konspirasi.

Dalam pertemuan itu, Baron Mayer juga membacakan 25 butir strategi penguasaan dunia, yang kelak dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel-Swiss tahun 1897 disahkan dengan nama Protocolat Zionis.

Baron Mayer atau Rothschild I juga mengatakan jika konspirasi dianggap terlalu lamban dalam melakukan program yang direncanakan untuk Inggris, akibatnya penguasaan Inggris secara total terhambat oleh hal-hal kecil. 

Namun, hal-hal kecil ini bisa dianggap tidak berpengaruh besar bagi upaya penguasaan oleh konspirasi. Walau demikian, hal-hal kecil ini dianggap tidak boleh dibiarkan. Beberapa kelompok berpengaruh di Inggris ada yang masih mampu bertahan menghadapi konspirasi.

Rothschild memerintahkan agar pelaksanaan program dipercepat dan menyingkirkan oposisi secepatnya, dengan segala cara yang bisa diambil. Jika perlu, segenap lapisan masyarakat Inggris harus dikuasai dengan jalan teror atau kekerasan.

Dalam pertemuan itu, Rothschild juga menekankan kepada para undangan bahwa yang telah dihasilkan di Inggris sesungguhnya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan yang akan mereka perbuat atas Prancis. Skema besar untuk meletupkan Revolusi Perancis pun dibahas dengan serius.

Ini merupakan satu mata rantai dari sejumlah pertemuan para konspirator untuk menggodok Revolusi Prancis. Dalam pertemuan di Frankfurt itu, agenda yang telah dirancang dimatangkan, dan upaya penggalangan dana pun di mulai dari ‘markas’ Rothschild tersebut. 

Menurut penilaian sosiologi dan psikologi massa yang dilakukan konspirator, situasi yang tengah dihadapi Prancis saat itu memang menggambarkan dengan baik apa yang sebenarnya tengah terjadi di Eropa: perekonomian tengah lesu, utang menumpuk, pengangguran di mana-mana, lapangan kerja nyaris tidak bergerak, sektor industri macet, dan bencana kelaparan di ambang pintu.

Jurang kesenjangan ekonomi yang terjadi antara buruh dan rakyat kebanyakan dengan para bangsawan, pemilik modal, dan raja-raja, demikian besar dan dalam. Menurut teori revolusi, dalam kondisi demikian buruk, massa rakyat telah siap untuk menyambut siapa pun yang tampil secara meyakinkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. 

Massa rakyat telah menjadi semacam tumpukan jerami kering yang hanya dengan percikan api sedikit saja akan terbakar dan meluas dengan sangat cepat. Kondisi di Prancis merupakan yang terparah.

Di tengah kondisi demikian, lewat corong media yang dikuasainya, konspirator meniupkan aneka slogan yang muluk-muluk dan melemparkan semua kesalahan kepada penguasa dan orang-orang kaya, sehingga rakyat Prancis kian membenci mereka. Kehancuran dan kerusuhan tinggal menunggu hitungan hari. Sebuah rencana besar siap digelindingkan.

Salah satu rumus baku dalam gerakan massa adalah: menjelek-jelekkan masa sekarang, di saat bersamaan mengingatkan massa rakyat akan kegemilangan masa lampau dan meyakinkan massa rakyat bahwa masa depan akan menjadi lebih gemilang, mengulangi masa-masa keemasan di zaman silam, jika massa rakyat mau dan siap bergerak menumbangkan status-quo. Ini berlaku di mana saja.

Untuk menyatukan langkah gerakan massa, konspirator menciptakan tiga slogan gerakan: Liberté, Egalité, dan Fraternité (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan). 

Sebuah slogan yang mampu membius massa rakyat Prancis sehingga rela mengorbankan apa saja demi memenuhinya. Slogan ini secara terus-menerus diperdengarkan ke telinga rakyat Prancis, sehingga setiap orang Prancis saat itu sangat hafal dengan tiga istilah di atas, bahkan kemudian dunia juga hafal.

Walau terdengar sangat indah, namun tiga istilah di atas bagi konspirasi Yahudi Internasional memiliki arti yang sama sekali beda. Bagi kelompok ini, Liberté sesungguhnya berarti kemerdekaan bagi mereka, kebebasan bagi mereka, bagi para pemilik modal, untuk berbuat apa saja terhadap Prancis.

Egalité yang sesungguhnya bermakna persamaan, bagi konspirator diartikan sebagai persamaan di kalangan mereka untuk bisa bersama-sama, gotong royong, di dalam usaha menguasai perekonomian Prancis.
Sedangkan Fraternité memiliki arti persaudaraan antara kelompok mereka sendiri, di mana di setiap usaha harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, agar kepentingan kelompok mereka bisa dicapai. Inilah hakikat tiga slogan Revolusi Prancis. Jadi persaudaraan hanya terbatas pada kelompoknya saja.

Pada 14 Juli 1789, massa rakyat berbondong-bondong menuju penjara Bastille, Prancis. Penjara yang bagaikan benteng itu dibakar. Para narapidana melarikan diri dan menimbulkan kerusuhan, dan perampokan di mana-mana. 

Penyerbuan ke penjara Bastille menandai dimulainya Revolusi Prancis. Hari demi hari berjalan dengan perkembangan yang tidak bisa diduga. King Louis XVI dan Marie Antoinette ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tidak lama kemudian, keduanya dihukum mati, di pancung di atas Guilotin.

Mirabeau

Mirabeau, yang awalnya didukung konspirator, kini malah diburu. Dia sebenarnya seorang yang cerdas, dan curiga, dan dengan cepat menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Namun Mirabeau terlambat, mesin propaganda konspirator telah bekerja begitu cepat dan efektif melancarkan fitnah terhadapnya. 

Gagal menyeret Mirabeau ke pengadilan, akhirnya pihak konspirator meracuni Mirabeau, hingga tokoh ini menemui ajal. Jenazah Mirabeau diatur sedemikian rupa untuk mengesankan bunuh diri. Sejumlah selebaran dan berita-berita yang mendukung ‘bunuh diri’ Mirabeau dicetak dan disebarluaskan ke Eropa.

Kematian Mirabeau kemudian diikuti dengan berkuasanya pemerintahan teror di Prancis. Pada masa itu, tiap hari rakyat Prancis menyaksikan ribuan orang digiring menuju pisau Guilotin. 

Roberspierre dan Danton ditugaskan untuk menjadi algojo. Setelah dianggap menyelesaikan tugas, Roberspierre dan Danton pun dibunuh dengan keji. Pemerintahan teror mencapai puncaknya antara tanggal 27 April hingga 27 Juli 1794.

Satu hari sebelum Roberspierre diseret ke tempat hukuman mati, di depan Majelis Nasional, Roberspierre sempat menyampaikan orasi yang menyerang konspirator dan membuka tirai mereka dengan mengatakan ada sebuah organisasi rahasia yang bekerja, dan menjadi dalang Revolusi Prancis. Roberspierre dengan tegas mengatakan,

“Aku tidak berani menyebut nama mereka di tempat ini dan di saat ini pula. Aku juga tidak bisa membuka tirai yang menutupi kelompok ini sejak awal terjadinya peristiwa revolusi. Akan tetapi, aku bisa meyakinkan Anda sekalian, dan aku percaya sepenuhnya, bahwa di antara penggerak revolusi ini ada kaki tangan yang diperalat dan melakukan kegiatan amoral dan penyuapan besar-besaran. Kedua sarana itu merupakan taktik yang paling efektif untuk menghancurkan negeri yang kita cintai ini…”

Roberspierre, seorang Mason yang diberi kesempatan lebih untuk mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya, ternyata dinilai 13 petinggi konspirator Yahudi Internasional telah bertindak melampaui batas. Mereka menetapkan Roberspierre harus mati. Maka, dalam waktu dekat, Roberspierre pun diseret ke tempat hukuman mati dengan tuduhan yang dibuat-buat.

Related

History 1938117576166006733

Recent

item