Ini Penyebab Kita Sulit Bahagia, dan Cara Mengatasinya


Perjalanan meraih kebahagiaan bisa tidak mudah. Sebab sebagai manusia, kita sering terjebak dalam “negativity bias”. Kita ternyata lebih cepat dan lebih mudah menangkap apa-apa yang negatif di sekitar kita. Kita begitu mudah dan ahli dalam mendeteksi apa yang negatif dari pekerjaan kita, apa yang kita temui di jalanan, apa yang kita baca dari layar hape yang kita pegang, hingga apa saja yang negatif dari situasi di rumah kita.

Negativity bias ini makin kronis saat kita kemudian melakukan secara berulang dalam keseharian. Para peneliti mengatakan: otot pikiran kita jadi makin kuat dan ahli dalam hal melacak kekurangan dan hal-hal negatif di sekitar, karena kita memang terus melatih otot itu.

Persis olahraga, otot Anda akan makin mekar dan kuat jika Anda terus melatihnya tiap hari. Dan inilah yang terjadi dengan “otot pikiran negatif” yang ada dalam sel saraf kita. Karena kita terbiasa melatihnya tiap hari, maka otot pikiran negatif jadi makin powerful.

Sebaliknya dengan otot pikiran positif. Karena kita jarang menggunakannya, maka pelan-pelan otot ini makin melemah. Kekuatan dan kepekaan kita untuk melihat dan mengapresiasi apa-apa yang positif di sekitar jadi makin lemah.

Kenyataan semacam ini agak mencemaskan, sebab pikiran yang terlalu mudah dan terlalu sering melihat sisi negatif dari apa yang ada di sekitar, akan membuat jiwa pelakunya tidak akan pernah meraih kebahagiaan optimal.

Lalu bagaiman cara menaklukkan negativity bias? Ada tiga langkah solusi yang layak dilakukan.

Pertama, mulailah melatih otot pikiran positif dalam sel saraf kita.

Mulai hari ini, pelan-pelan arahkan pikiran untuk menemukan, merasakan dan mengapresiasi apa-apa yang positif di sekitar kita.

Alih-alih selalu melihat hal-hal negatif dari pekerjaan, lalu mengeluh dalam hati tanpa henti, maka fokuskan pikiran untuk lebih melihat sisi positif yang ada. Temukan dan apresiasi hal-hal positif yang pasti selalu ada di dalamnya.

Atau, alih-alih selalu melihat hal-hal negatif dari aktivitas keseharian yang Anda lakukan, luangkan waktu untuk lebih banyak fokus merasakan dan mengapresiasi hal-hal positif yang ada.

Sejak kita bangun, melakukan aktivitas, hingga malam saat hendak tidur, akan selalu ada banyak peristiwa dan kejadian yang kita lalui. Dan di dalamnya, pasti akan selalu ada hal-hal positif – betapa pun kecilnya — yang layak kita apresiasi. 

Selama ini kita luput melihat hal-hal kecil namun positif ini, karena otot pikiran kita memang tidak pernah kita latih untuk melakukannya. Atau karena otot pikiran kita selalu berhasil dibajak untuk hanya memikirkan yang negatif saja.

Jangan biarkan otot pikiran positif kita lemah lunglai, terus dihantam oleh kekuatan otot pikiran negatif yang kian powerful. Selalu luangkan waktu sejenak untuk berusaha menggali, menemukan, merasakan, dan mengapresiasi hal-hal positif (betapa pun kecilnya) yang ada di sekitar kita.

Solusi kedua masih berkaitan dengan solusi di atas. Yakni secara berkala, lakukanlah ritual bersyukur (gratitude ritual).

Sejumlah pakar human behavior telah banyak melakukan studi tentang efek kegiatan bersyukur bagi ketenangan batin dan kebahagiaan jiwa.

Dan hasilnya memang amazing: para responden yang rutin melakukan ritual bersyukur, ternyata sel saraf otaknya jadi lebih tenang, lebih resilien, dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Peneliti bahkan mengatakan: kalau Anda ingin selalu tumbuh secara positif, cukup lakukan hal yang sederhana dan sangat murah, yakni secara rutin bersyukur.

Secara spesifik, ritual bersyukur yang efektif adalah seperti ini. Tiap hari, misal tiap habis shalat Subuh atau shalat Maghrib, renungkan tiga hal atau kejadian (bisa berupa hal atau kejadian yang kecil, menengah atau besar) yang Anda layak syukuri di hari itu, atau hari kemarin.

Jadi tiap hari, Anda duduk diam selama sekitar 5 menit, lalu merenungkan tiga kejadian atau tiga anugerah atau tiga hal yang layak Anda syukuri. Lalu Anda ucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Yang Telah Memberikan Anugerah tersebut.

Ritual bersyukur ini kompatibel dengan solusi di atas, dimana kita harus terus melatih otot pikiran kita untuk menemukan dan merasakan hal-hal positif dalam hidup. Melalui gratitude ritual ini, kita melatih otot pikiran untuk melihat dan mensyukuri setidaknya tiga hal positif yang kita alami setiap hari.

Jika memang ritual ini belum bisa dilakukan setiap hari, setidaknya Anda bisa melakukannya seminggu sekali. Dengan demikian, Anda memikirkan dan merenungkan hal-hal positif yang terjadi pada Anda selama seminggu terakhir. Apa saja momen-momen positif yang layak Anda syukuri.

Solusi praktikal ketiga untuk menumbuhkan kecakapan melihat sisi positif kehidupan adalah dengan mengubah perspektif atau sudut pandang saat menghadapi sebuah masalah (reframing your perspectives).

Dalam menjalani hidup, kita pasti akan menemui sejumlah masalah (entah masalah pekerjaan, keuangan, kesehatan ataupun masalah keluarga). Saat menghadapi masalah, kita juga sering kembali terjebak dalam negativity bias. Artinya, pikiran kita lebih terobsesi untuk melihat hal-hal negatif yang ada dari masalah tersebut. Kita secara instingtif selalu melihat masalah atau problem identik dengan sesuatu yang negatif, dan merugikan.

Padahal tidak demikian. Di balik setiap problem yang muncul, pasti ada pelajaran berharga di baliknya. Atau di balik masalah yang ada, akan selalu ada jalan keluar sebagai solusi. Dan tak jarang dalam proses jibaku menemukan solusi ini, kita justru dilatih untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih kreatif.

Melihat problem hidup dari kacamata negatif, akan membuat kita lebih fokus pada kesulitan, kekhwatiran dan keluhan yang bikin hati makin sedih.

Melihat problem dari perspektf positif, akan membuat kita lebih fokus pada solusi, dan membantu kita menjalani proses pembelajaran yang berharga bagi tumbuhnya kematangan jiwa.

Related

Psychology 1186480583197261172

Recent

item