Kenapa Sudah Kerja Keras, tapi Penghasilan Tetap Pas-pasan? (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kenapa Sudah Kerja Keras, tapi Penghasilan Tetap Pas-pasan? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Jadi dalam faktor kedua ini, problemnya bukan karena low skills. Orang-orang dalam kategori ini rata-rata punya skill hebat dan semua adalah para pekerja keras. Namun kenapa penghasilan mereka acap masih mengecewakan?

Alasannya simpel: market yang memembutuhkan hasil karya mereka mungkin belum banyak, atau juga market tidak bersedia membayar mahal hasil pekerjaan mereka.

Kenapa begitu? Boleh jadi karena mereka memang tidak pandai memasarkan karyanya. Atau mungkin juga karena regulasi pemerintah. Atau juga mungkin karena kebijakan perusahaan dan lembaga yang mempekerjakan mereka.

Jadi orang-orang yang berada dalam kategori ini mungkin layak disebut sebagai “orang pintar yang jadi nestapa karena korban mekanisme pasar”.

Ada juga orang-orang yang merasa skills dan komptensinya tinggi, dan juga merasa skills-nya amat dibutuhkan pasar, namun penghasilannya tetap pas-pasan. Jika dia memang kondisinya seperti itu, maka solusinya mudah: dia pindah saja ke kantor atau perusahaan lain yang mampu membayar lebih mahal.

Sebab jika seseorang merasa skills-nya tinggi dan skills itu memang dibutuhkan pasar, maka market value atau harga jual dirinya pasti akan mahal dan akan ada banyak perusahaan yang bersedia membayar dia dengan mahal juga.

Kalau dia tetap bertahan di tempat yang sama dengan penghasilan yang rendah, artinya dia kurang pede dengan skills-nya atau terjebak dalam comfort zone.

Faktor Kali

Faktor terakhir kenapa sudah kerja keras namun penghasilan tetap pas-pasan, adalah karena pekerjaan orang itu tidak bisa memanfaatkan faktor kali.

Faktor kali maksudnya adalah memanfaatkan kekuatan orang atau sumber daya lain untuk melipatgandakan penghasilan. Misal: orang yang bekerja sebagai penjual buku, dan kemudian dia punya 100 reseller. Atau ada orang yang jualan warung mie rebus dan burjo, dan dia mengelola 10 warung.

100 reseller atau 10 warung itu adalah faktor kali yang akan membuat pengelolanya bisa mendapatkan penghasilan masif.

Pekerjaan para pengelola itu mungkin sama bebannya dengan orang lain. Semua sama-sama punya waktu 24 jam sehari. Namun pekerjaan para pengelola faktor kali bisa memberikan hasil yang jauh lebih banyak dibanding orang yang pekerjaannya tidak bisa memanfaatkan faktor kali.

Dengan kata lain, kenapa orang sudah kerja keras namun penghasilannya tetap pas-pasan adalah karena pekerjaan dia tidak bisa manfaatkan faktor kali. Pekerjaan dia hanya bisa dihasilkan satu sumber penghasilan (single income resource). Alhasil, karena hanya mengandalkan satu sumber, maka potensi penghasilannya juga akan terbatas.

Demikian tiga faktor yang bisa menjelaskan kenapa sejumlah orang sudah kerja keras banting tulang, namun penghasilanya tetap pas-pasan.

Faktor itu adalah: 1) karena skill-nya rendah atau 2) skill tinggi namun tidak bisa memasarkan atau konsumen enggan membayar dengan mahal; atau 3) pekerjaannya tidak mampu memanfaatkan kekuatan faktor kali.

Dengan logika sebaliknya, kita bisa meraih pekerjaan impian seperti ini: kerjanya tidak perlu pakai lama, bisa punya banyak waktu luang untuk jalan-jalan, tidak perlu kerja tiap hari, namun penghasilan bisa puluhan bahkan ratusan juta per bulan.

Pekerjaan impian semacam itu bukan hal yang mustahil, sepanjang kita punya formula ampuh seperti ini: skills level master untuk sebuah pekerjaan yang hasil karyanya dibutuhkan pasar + pasar bersedia membayar mahal untuk hasil kerja kita + kita juga bisa memanfaatkan faktor kali untuk menjual keahlian kita yang tinggi itu.

Related

Business 5445664647878201443

Recent

item