Inilah Rare Earth, Harta Karun Indonesia yang Jadi Rebutan Dunia (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Inilah Rare Earth, Harta Karun Indonesia yang Jadi Rebutan Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Padahal menurutnya, China sangat meminati rare earth asal Indonesia. Bahkan, dia bilang ada satu perusahaan asal China yang mau memborong semua hasil produksi rare earth yang ada di Indonesia.

"Selain itu, ada perusahaan China yang katakan mau beli semua kalau nggak ada yang mau beli," lanjut Achmad.

Selain China, Achmad mengatakan perusahaan pertahanan dan penerbangan dari Amerika Serikat, Lockheed Martin sudah menyatakan minatnya membeli logam tanah jarang dari Indonesia.

"Saat ini Lockheed Martin sudah menunjukkan ketertarikannya untuk membeli logam tanah jarang dari Indonesia," jelas Achmad.

Namun menurutnya, pihaknya tak bisa begitu saja memilih siapa pembeli rare earth. Harus ada peran pemerintah untuk menentukan apakah rare earth akan digunakan di dalam negeri atau boleh diekspor.

"Bisa juga pemerintah RI untuk kuasai apakah untuk penerbangan, pertahanan," ungkap Achmad.

Harganya

Logam tanah jarang alias rare earth menjadi salah satu komoditas yang dicap harta karun di Indonesia. Sumber daya yang satu ini pun mulai banyak diincar banyak negara.

Lalu seberapa berharga rare earth sampai dicap sebagai harta karun?

Menurut Direktur Utama PT Timah Achmad Ardianto, secara ekonomi sebenarnya harga rare earth tak terlalu mahal. Dia juga menduga teknologi untuk mengekstraksi rare earth pun tak butuh biaya besar. Hanya saja menurutnya, saat ini rare earth sedang banyak dibutuhkan dan dicari banyak orang.

"Sebenarnya harganya sih nggak hebat-hebat amat, cuma memang ini akan selalu dibutuhkan. Dugaan saya teknologinya juga nggak mahal, kelihatannya gitu. Karena produknya juga nggak mahal," ungkap Achmad dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (11/4/2022).

Achmad menyatakan produk rare earth paling mahal mungkin hanya berkisar di antara US$ 6.000 per ton. Bila dirupiahkan jumlahnya hanya sekitar Rp 86,1 juta dalam kurs Rp 14.350.

"Itu antara yang paling mahal, mungkin antara US$ 6.000-an per ton, yang bawah itu US$ 1500 hingga 2000-an per ton," kata Achmad.

Menurutnya, logam tanah jarang memiliki elemen strategis yang sangat tinggi dan sangat dibutuhkan di dunia. Sedangkan ketersediaannya tidak banyak.

"Logam tanah jarang ini memang memiliki elemen strategis yang sangat tinggi, sangat dibutuhkan oleh seluruh dunia, ketersediaan tidak banyak, dan pemilik teknologinya juga tidak banyak," jelas Achmad.

PT Timah sendiri sedang mencari teknologi untuk mengelola rare earth dari mineral monasit. Mineral tersebut banyak ditemukan di tambang timah. Untuk menemukan monasitnya saja sangat sulit, dari satu ton biji timah tak sampai 1% kandungan monasitnya.

Selepas monasit perlu ada teknologi untuk melakukan ekstraksi terhadap kandungan rare earth-nya.

"Dari satu ton biji timah, itu monasitnya cuma 0,95% nggak sampai 1%, ini kecil sekali. Namun nilainya ini luar biasa karena sangat dibutuhkan," papar Achmad.

Sementara itu, dilansir dari Reuters, harga rare earth di China sedang bergejolak tinggi-tingginya yakni di level ratusan ribu dolar per ton. Harga tanah jarang telah melonjak sejak paruh kedua tahun 2021 di tengah kekhawatiran ketidakpastian pasokan dari Myanmar.

Harga rare earth paduan praseodymium-neodymium China berada di level US$ 218.395 per ton di awal Maret. Artinya, bila dirupiahkan mencapai Rp 3,13 miliar. Material itu digunakan untuk membuat magnet super kuat untuk motor kendaraan listrik.

Related

News 5142985902225162341

Recent

item