Sejarah dan Perkembangan Peta Dunia dari Masa ke Masa (Bagian 2)

Sejarah dan Perkembangan Peta Dunia dari Masa ke Masa

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah dan Perkembangan Peta Dunia dari Masa ke Masa - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Buku Ptolomeus, Geographia, berhasil merangkum delapan ribu nama tempat—termasuk sungai, pegunungan, hingga semenanjung—lengkap dengan koordinatnya. Namun, meskipun dianggap sebagai catatan terakurat pada zamannya, terdapat pula kesalahan fakta geografis. Ptolomeus, misalnya, memasukkan "benua besar di sebelah Utara" agar bumi terlihat seimbang terhadap porosnya.

Usai Geographia terbit di sekitar abad ke-2 masehi, para kartografer (pembuat peta) menjadikannya sebagai patokan menciptakan, termasuk sebagai rujukan utama pada peta yang dibawa Columbus menemukan "India."

Karena bumi bulat, rujukan seakurat Geographia tak mudah ditranslasikan dalam bentuk kertas dua dimensi oleh para kartografer. Mereka terpaksa harus 'maklum' membuat peta sebuah wilayah yang di satu sisi melebar, dan mengkerut di sisi lainnya (kini, konsep peta ini disebut Plate Carree projection). 

Di Cina, misalnya, pejabat pemerintah bernama Phei Hsui membuat peta untuk Kekaisaran Chin hanya dengan merepresentasikan bumi yang bulat dengan kotak persegi panjang. Ia mengerjakannya seperti, tulis Taylor, "menebarkan jaring di atas bumi". 

Pada abad ke-8, cendekiawan Muslim di Arab memanfaatkan Geographia untuk membuat peta diplomatik yang menghubungkan dunia Arab dengan Cina. Absurdnya, peta tersebut dibumbui lokasi-lokasi dalam kisah Sinbad.

Namun, dunia Islam kala itu memperbarui peta dengan lebih baik, merepresentasikan wilayah di sekitaran Teluk Arab, Laut Merah, dan Mediterania dengan Gunung Sinai sebagai pusatnya. 

Peta Arab terbaik yang pernah dibuat dunia Islam saat itu adalah karya Ibnu Haukal, yang ia rilis dalam buku berjudul Kitab Jalanan dan Kerajaan (1068). Sementara itu, peta dunia terbaik dari kalangan Muslim dibuat oleh Muhammed al-Idrisi, cendekiawan asal Cordoba yang sukses memetakan dengan apik wilayah dari Afrika hingga Eropa.

"Peta buatan al-Idrisi merupakan peta paling akurat dari peta apapun yang ada di Eropa kala itu," tulis Taylor.

Dengan rujukan yang sama, kalangan kartografer di bawah kekuasaan Sri Paus di Roma menciptakan Mappaemundi, peta dunia dengan Jerusalem sebagai pusatnya.

Peta yang akurat baru muncul pada abad pertengahan. Pada waktu yang sama, Guttenberg berhasil menciptakan mesin cetak hingga membuat permintaan pasar atas peta meningkat drastis. Tak ketinggalan, peta yang akurat pun muncul karena peta-peta (merujuk Ptolemeus) yang digunakan pelaut/penjelajah kala itu sudah dianggap tidak berguna untuk navigasi jarak jauh. 

Untuk berlayar, selain membawa peta, pelaut/penjelajah harus membawa bagan "portolon" yang mendeskripsikan ciri pesisir yang dituju. Jika mereka hanya merujuk peta, kompas menjadi tidak berguna. Garis lurus di peta tak tepat menggambarkan lengkungan bumi. Tanpa portolon, pelaut/penjelajah mudah tersesat.

Ialah Gerardus Mercator yang berhasil menghadirkan peta akurat kepada dunia. Pada 1538, Marcator merilis peta dunia, yang selain memanfaatkan sebagian data milik Ptolemy, juga menghadirkan teknik baru merefleksikan bumi bulat dalam kertas datar. Teknik ini kemudian dikenal dengan sebutan "Marcator projection".

Karen Vezie, dalam studi berjudul "Mercator’s Projection: A Comparative Analysis of Rhumb Lines and Great Circles", menyebut bahwa proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder, dengan asumsi bahwa bumi bulat. 

Dengan asumsi tersebut, Mercator membuat peta dengan tiga kondisi, yakni arah Utara-Selatan adalah arah vertikal (garis lintang), arah Timur-Barat adalah arah horizontal di mana panjang ekuator wajib dipertahankan (garis bujur), dan semua garis lurus pada peta merupakan garis-garis yang memiliki bantalan konstan. 

Dengan asumsi ini, bumi yang diproyeksikan silinder akhirnya menghasilkan keadaan di mana semakin ke Utara atau ke Selatan, jarak antar garis lintang meningkat.

Mercator sendiri tidak pernah mengungkap resep di balik keakuratan petanya. Namun, sebagaimana ditulis Marc Vis dalam studi berjudul "History of the Mercator Projection", ada andil Pedro Nunes di balik keberhasilan Mercator. 

Nunes, pada 1537, memperkenalkan rhumb line atau loksodrom, yakni jalur antara dua titik di sebuah permukaan bola yang jika ditelusuri arahnya tidak pernah berubah. Jika seseorang terus mengikuti arah kompas secara konstan, ia akan menemukan bahwa garis-garis ini berputar mengelilingi bola dunia menuju kutub. Umumnya, meskipun sesungguhnya tak sama, loksodrom sering dianggap sebagai great circle. 

Dengan menggunakan rumus spherical trigonometry (trigonometri bola), Nunes merangkum tabel loksodrom berbagai titik di dunia. Dengan memanfaatkan tabel ini dan data dari Ptolemeus, Mercator sukses membuat peta yang akurat.

Tentu, maksud akurat di sini lebih merupakan "deal" antara bumi bulat dan kertas persegi panjang datar. Ini yang menjadikan Greenland terasa sangat besar di peta, atau kutub Utara dan Selatan seakan-akan memiliki luas tanpa batas karena Mercator memaklumkan garis lintang meningkat semakin ke arah kutub. 

Yang perlu diingat, proyeksi Mercator bukan satu-satunya usaha membuat peta seakurat mungkin. Pada 1921, misalnya, lahir proyeksi Winkel-Tripel (yang kelak digunakan National Geographic).

Lalu, ada pula proyeksi Gall-Peters pada 1973. Pada 1999, lahir proyeksi AuthaGraph oleh seorang Jepang bernama Hajime Narukawa. Terakhir, pada 2021, J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, menyarankan peta "double-sided circle," alias peta yang dibuat dua bagian, yang satu merepresentasikan Belahan Bumi Utara dan satunya lagi merepresentasikan Belahan Bumi Selatan.

Related

Science 8863290941994034736

Recent

item