Di Balik Maraknya Penjualan Obat Kuat di Kota-kota Besar

Di Balik Maraknya Penjualan Obat Kuat di Kota-kota Besar

Naviri Magazine - Di kota-kota besar, penjualan obat kuat bisa dibilang ada di mana-mana, bahkan di lapak-lapak. Obat-obatan itu dijual dalam aneka bentuk, bahkan dalam aneka sebutan, termasuk disebut jamu tradisional, dan semacamnya. Kenyataan itu mengindikasikan kalau pasar obat kuat memang memiliki konsumen. Yang menjadi masalah, banyak obat kuat yang ternyata dipalsukan. 

Temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) misalnya, menyebut bahan obat kuat banyak ditemukan di obat tradisional yang dijual di jalanan.

Kepala BPOM, Roy A. Sparringa menjelaskan, banyaknya obat tradisional dengan kandungan itu disebabkan permintaan yang tinggi. Pasokan di lapangan pun meningkat. Padahal, itu berbahaya bagi konsumen.

Sosiolog Universitas Indonesia, JF Warouw, menjelaskan fenomena di balik itu. Ia mengatakan, konsumen perkotaan memang lebih 'membutuhkan' dampingan obat kuat.

"Sebagian besar orang di kota memang mengalami masalah yang berkaitan dengan seksual," ujarnya menegaskan. Ada setidaknya tiga hal yang menyebabkan itu.

Pertama, kata Warouw, banyaknya racun yang membekap perkotaan. Toksin yang tinggi seperti polusi, dapat menurunkan gairah seksual. Akibatnya, masyarakat merasa membutuhkan obat sebagai pengganti itu. Yang dicari, tentu saja obat vitalitas.

"Orang kota mengenal dopping. Itu dianggap seperti suplemen untuk meningkatkan stamina. Karena orang kota stres, tidak sehat," Warouw menuturkan. Bukan hanya vitamin sehari-hari yang dicari, tetapi juga obat kuat penambah stamina pria.

Dijelaskan Warouw, secara seksual, pria kota memang berbeda dengan di desa. "Pria kota itu lebih suka artifisial," ucapnya.

Faktor kedua penyebab orang kota lebih butuh obat kuat, adalah intensitas hubungan. Di kota, kata Warouw, orang lebih intens berhubungan satu sama lain, terutama antar pria dan wanita.

"Hubungan orang lebih dekat secara seksual, sehingga butuh dopping obat vitalitas," Warouw melanjutkan lagi.

Faktor ketiga, fenomena stres di kota-kota besar. Banyaknya tekanan pekerjaan dan racun perkotaan mendorong orang lebih stres dibandingkan mereka yang hidup dalam bekapan udara segar. Itu juga berpengaruh menurunkan gairah serta vitalitas seksual.

Related

Indonesia 3109111983972562431

Ads

Topic

Recent

item