Kisah Perang Badar, Pertempuran Penting dalam Sejarah Islam (Bagian 2)

Kisah Perang Badar, Pertempuran Penting dalam Sejarah Islam

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Perang Badar, Pertempuran Penting dalam Sejarah Islam - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sementara itu, kaum Quraisy semakin waspada. Sean W. Anthony dalam Muhammad and the Empires of Faith: The Making of the Prophet of Islam, mengisahkan, para kepala suku telah mengirimkan seorang mata-mata untuk melaporkan pasukan musuh. Sang mata-mata terperangah menyaksikan tekad kuat di wajah-wajah kaum muslim dan memohon suku Quraisy untuk tidak bertempur. 

Namun Abu Jahal tak bisa menerima alasan apa pun dan menuduh mata-mata itu pengecut. Abu Jahal lantas berpaling kepada saudara lelaki seorang pria yang dibantai oleh penyerang muslim di Nakhlah. Lelaki itu lalu meneriakkan pekik peperangan, dan orang-orang keras kepala melangkah menuju nasib buruk mereka. 

Suku Quraisy mulai bergerak maju dengan perlahan melintasi gurun pasir. Muhammad menolak menyerang terlebih dahulu, bahkan setelah pertempuran dimulai. Dia tampak enggan untuk melepas orang-orangnya, hingga Abu Bakar mengatakan kepadanya untuk menyudahi doa dan memimpin pasukan. 

Dalam pertempuran sengit, kaum Quraisy segera menyadari bahwa mereka sedang menghadapi kemungkinan terburuk. Mereka berperang dengan semangat nekat dan ceroboh, seolah-olah ini adalah turnamen kekesatriaan, dan tidak punya strategi yang terpadu. 

Sebaliknya, kaum muslim memiliki rencana yang matang. Mereka mengawalinya dengan menyerang musuh menggunakan panah. Setelah itu baru menghunus pedang untuk bertarung satu lawan satu pada menit-menit terakhir. 

Menjelang tengah hari, suku Quraisy telah kabur, meninggalkan sekitar lima puluh pemimpin mereka, termasuk Abu Jahal yang tewas. Sementara korban di pihak muslim hanya empat belas orang. 

Kaum muslim dengan gembira mulai mengepung tawanan dan menarik pedang-pedang mereka. Dalam perang kesukuan, tidak ada tempat untuk pihak yang tertaklukkan. Korban biasanya dimutilasi, sedangkan tawanan entah dipenggal atau disiksa. 

Namun Muhammad dengan segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri. Sebuah wahyu turun untuk memastikan bahwa para tawanan perang harus dibebaskan atau ditebus. 

Setelah Perang Badar 

Menurut Ahmed Al-Dawoody, dalam The Islamic Law of War: Justifications and Regulations, Muhammad bukanlah seorang pasifis. Muhammad yakin bahwa peperangan kadang tidak terelakkan dan bahkan perlu. Pasca perang Badar, kaum muslim melihat bahwa hanya masalah waktu sebelum Makkah akan melancarkan serangan pembalasan, dan mereka menyediakan diri untuk jihad nan panjang dan berat. 

Akan tetapi, arti utama itu, yang begitu sering kita dengar, bukanlah “perang suci”, melainkan “upaya” atau “perjuangan” yang dituntut untuk menegakkan kehendak Tuhan dalam tindakan. Kaum muslim diminta untuk berjuang dalam pelbagai bidang: intelektual, sosial, ekonomi, spiritual, dan domestik. Terkadang mereka harus berperang, tetapi itu bukan tugas utama mereka. 

Dalam perjalanan pulang dari Badar, Muhammad mengucapkan sebuah hadis penting yang sering dikutip: “Kita baru kembali dari Jihad Kecil (peperangan itu) dan menuju Jihad Besar”—perjuangan yang jauh lebih penting dan sulit, yakni mereformasi masyarakat dan diri mereka sendiri. 

Menurut Lesley Hazleton, dalam The First Muslim: The Story of Muhammad, Badar telah mengangkat Muhammad ke tingkat yang lebih tinggi di Madinah. 

Tatkala mereka mempersiapkan diri untuk serangan balik dari kaum Quraisy, disepakati sebuah perjanjian antara Nabi dan kaum Arab serta Yahudi di Madinah. Mereka akan hidup rukun bersama kaum muslim, dan berjanji tidak akan mengikat perjanjian yang liyan dengan Makkah. 

Seluruh warga diminta untuk membela oasis itu terhadap setiap serangan. Konstitusi anyar dengan hati-hati menjamin kebebasan beragama bagi klan-klan Yahudi, tapi mengharapkan mereka untuk memberi bantuan bagi siapa pun yang berperang melawan orang-orang yang bermufakat dalam perjanjian itu. 

Muhammad perlu mengetahui siapa yang berada di pihaknya, dan sebagian orang yang tidak bersedia menerima ketetapan dalam perjanjian itu harus pergi meninggalkan Madinah. Mereka mencakup beberapa hanif—istilah Arab yang merujuk kepada agama tauhid yang bukan Yahudi ataupun Kristen—yang pemujaan terhadap Ka’bah menuntut mereka untuk tetap bersetia kepada kaum Quraisy. 

Bagi mereka, Muhammad masih merupakan figur kontroversial. Tetapi, sebagai akibat kemenangannya di Badar, sebagian suku Badui bersedia menjadi sekutu Madinah dalam pertempuran yang akan datang. 

Dalam keluarga Muhammad pun terjadi beberapa perubahan. Martin Lings dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, menyebutkan, sekembalinya dari Badar, Muhammad mendapat kabar duka bahwa putrinya, Ruqayyah, telah wafat. 

‘Utsman sedang berduka, namun dengan senang hati menerima uluran tangan saudara perempuan mendiang istrinya, Ummu Kultsum, dan mempertahankan hubungan dekat ‘Utsman dengan Muhammad. 

Salah seorang tawanan perang adalah menantu pagan Muhammad, Abu al-‘Ash, yang tetap setia pada agama tradisional. Istrinya, Zainab, yang masih tinggal di Makkah, mengirimkan uang tebusan ke Madinah bersama sebuah kalung perak yang dulu dimiliki oleh Khadijah. Muhammad segera mengenali kalung itu dan untuk sesaat diliputi rasa duka. 

Menurut Kecia Ali dalam The Lives of Muhammad, Nabi Muhammad membebaskan Abu al-‘Ash tanpa mengambil uang tebusan itu, berharap akan mendorongnya untuk menerima Islam. Namun Abu al-‘Ash menolak untuk memeluk Islam, tapi dengan berat hati menyetujui permintaan Nabi agar dia mengirimkan Zainab dan anak perempuan mereka, Umamah, ke Madinah. 

Di waktu ini juga putri bungsu Muhammad, Fathimah, menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib. Pasangan itu membangun rumah di dekat masjid.

Related

Moslem World 917099441432972975

Recent

item