Penyebab Otak Jadi Makin Lemot, dan Cara Mengatasinya


Sejumlah orang acap mengeluh, kemampuan otaknya berasa makin lemot, atau bahkan stuck. Ibarat hape yang kepenuhan beban dan kinerjanya makin lemot, orang merasakan hal yang sama. Otaknya terasa makin lelah dan capek karena kepenuhan beban.

Kenapa bisa seperti itu? Kenapa otak kita makin lelah dan terasa kian lemot?

Salah satu penyebabnya adalah “decision fatigue”. Ini adalah istilah yang merujuk pada kondisi saat otak atau pikiran kita mengalami kelelahan akut, karena terlalu banyak hal yang harus diputuskan.

Decision fatigue terjadi karena terlalu banyak keputusan yang mesti kita pikirkan dan kita pilih.

Yang mengejutkan, keputusan yang bikin otak kita lelah tidak mesti yang berskala besar. Bahkan keputusan-keputusan kecil yang kelihatan remeh, ternyata lama-lama juga bisa membuat otak kita kepenuhan beban.

Berikut contoh keputusan-keputusan kecil yang ternyata juga bisa bikin kita mengalami decision fatigue:
Nanti siang mau makan apa ya?
Besok mau pakai baju apa ya, pas saat kondangan?
Nanti pulang kantor sebaiknya lewat mana?
Kapan ya kerjaan ini mesti mulai saya lakukan?
Kapan saya harus balas email ini?
Banyak pilihan makanan, saya bingung mau milih mana?
Besok saya ke kantor harus pakai baju apa, ya?
Kapan ya saya harus mulai rajin olahraga?
Dan lain-lain

Aneka keputusan kecil seperti di atas, kalau diulangi tiap hari, ternyata akan membuat kita mengalami decision fatigue dan membuat otak kita lelah.

Apalagi jika kemudian muncul aneka keputusan skala menengah dan besar yang juga harus kita pilih dan putuskan, misal: produk investasi apa yang harus dibeli, kapan harus mulai menabung untuk beli rumah, apakah perlu pindah kerja, hingga berbagai masalah pekerjaan penting di kantor yang harus diselesaikan.

Beragam keputusan itu, baik yang skalanya kecil dan kelihatan remeh namun annoying, hingga aneka keputusan skala menengah dan besar, akan membuat kita mengalami decision fatigue. Saat kondisi ini terjadi, otak kita makin lemot. Sebab ibarat hape, bebannya sudah penuh, sementara memori terbatas.

Saat terlalu banyak keputusan yang mesti dipikirkan, dan akhirnya membuat kita mengalami decision fatigue, maka kinerja otak kita jadi makin tidak optimal.

Lalu apa solusinya agar kita bisa menghindari jebakan decision fatigue? Berikut tiga langkah praktis yang layak dijalani.

Ciptakan Otomasi Perilaku

Salah satu solusi mudah untuk menghindar dari decision fatigue adalah menciptakan “otomasi” dalam beragam pilihan perilaku harian kita. 

Contoh otomasi yang simpel namun powerful misalnya meminta penyedia katering menyiapkan menu makan siang mingguan; dan kita tinggal memakannya (jadi tiap siang kita tak pelu lagi bingung mau milih makan siang dimana). Atau kita minta orang rumah menyiapkan bekal makan siang seminggu penuh, dan kita tinggal menyantapnya saat makan siang tiba.

Contoh otomation hack lainnya adalah memakai baju yang sama tiap hari saat ke kantor. Ini yang dilakukan Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Barack Obama. Saat ditanya kenapa, jawaban mereka bagus: kapasitas otak kita terlalu penting untuk memikirkan baju apa yang harus kita pakai ke kantor tiap hari.

Contoh lain otomasi misalnya melakukan autodebet investasi. Dengan otomasi ini, kita tidak perlu lagi mikir tiap bulan harus menyisihkan berapa untuk menabung dan berinvestasi. Sebab prosesnya sudah dibikin otomatis oleh fitur autodebet investasi (fitur ini sekarang banyak disediakan oleh bank-bank besar).

Intinya adalah ciptakan otomasi untuk beragam keputusan harian dan mingguan yang selama ini perlu kita lakukan. Dengan otomasi, otak kita tak perlu lagi mikir saat keputusan itu datang. Kita bisa menghemat beban pikiran kita; dan tak perlu lagi membuangnya untuk urusan-urusan kecil yang berulang datang.

Ciptakan Habit untuk Menghemat Beban Pikiran

Studi tentang neurologi (ilmu tentang saraf otak) menunjukkan, salah satu kekuatan habit adalah mampu mengurangi secara signifikan beban pikiran dalam otak kita. Kenapa? Sebab saat sebuah perilaku menjadi habit, otak kita tak perlu banyak mikir lagi. Sebab secara otomatis atau refleks, perilaku itu akan dikerjakan sesuai kebiasaan.

Contohnya kebiasaan Anda mandi pagi dan gosok gigi. Tiap pagi, secara otomatis Anda tahu kapan harus mandi pagi dan gosok gigi. Anda tak perlu mikir lama untuk melakukannya, sebab semuanya sudah jadi kebiasaan yang secara refleks Anda lakukan.

Nah, beban otak Anda akan lebih ringan kalau Anda punya beragam perilaku baik yang menjelma habit atau kebiasaan.

Misal, orang yang punya kebiasaan olahraga tiap pagi, tak perlu lagi butuh banyak mikir untuk melakukannya. Ia tak perlu menggunakan kapasitas otaknya buat mikir : kapan harus mulai olahraga, berapa lama, jenis olahraga apa yang harus dilakukan, dst. 

Saat sebuah perilaku baik sudah jadi habit, hal-hal kecil semacam itu tidak perlu lagi dipikir ulang. Dan persis pada titik ini, beban pikiran kita jadi berkurang secara signifikan.

Itulah kekuatan habit. Dengan membuat beragam perilaku positif menjadi habit, kita akan bisa menghindar dari jebakan decision fatigue yang melelahkan.

Hindari Mikir dan Memutuskan Urusan Orang Lain

Tak jarang, dalam keseharian kita di kantor atau dalam kehidupan personal, ada banyak informasi yang menganggu pikiran kita. Mungkin informasi ini datang dari informasi di Grup WA atau dari media online dan media sosial yang kita simak.

Sering beragam informasi itu membuat kita kepikiran. Lalu tanpa sadar, kita jadi ikut dalam proses decision making berkaitan dengan beragam informasi itu (misal kita ikut memutuskan siapa yang benar, atau nge-judge pihak mana yang lebih salah, dst).

Nah, lama-lama kondisi seperti ini juga membuat kita terjebak dalam decision fatigue. Proses ikut-ikutan memikirkan urusan orang lain benar-benar menguras energi pikiran dan kapasitas otak. Kita seolah membuang energi pikiran kita untuk hal yang tidak berguna sama sekali.

Related

Inspiration 2300798630474344249

Recent

Hot in week

item