Mengapa Banyak Sinetron Indonesia yang Buruk?

Mengapa Banyak Sinetron Indonesia yang Buruk?

Naviri.Org - Banyak orang yang bertanya-tanya, mengapa banyak sinetron Indonesia yang buruk, atau dianggap tidak mendidik? Pertanyaan itu bahkan telah menjadi pertanyaan klasik, karena sudah sejak dulu diajukan, tapi sepertinya belum mendapatkan perubahan sebagai jawaban. Sampai saat ini, masih banyak sinetron yang bisa dianggap buruk.

Bagi televisi, sinetron mampu menghasilkan pendapatan atau pemasukan dalam jumlah besar melalui iklan yang tayang. Bagi sebagian penonton televisi, acara sinetron juga dianggap mampu memberi hiburan murah meriah, karena tidak perlu pergi ke bioskop untuk menonton film. Namun, bagi sebagian yang lain, sinetron Indonesia kerap dianggap buruk, tidak masuk akal, bahkan ceritanya tidak logis.

Persoalan kualitas sinetron memang masalah yang saling membelit. Bagaimana pun, ada berbagai pihak yang punya kepentingan dalam hal ini. KPI (Komisi Penyiaran Indoensia), misalnya, memiliki standar tertentu. P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) juga punya standar sendiri. Sementara pihak stasiun televisi berpatokan pada rating. Tiga standar dan kepentingan itulah yang kerap melahirkan konflik yang pada akhirnya menghasilkan sineton dengan kualitas buruk.

Kenyataannya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) beberapa kali mengeluarkan surat peringatan untuk pelbagai judul sinetron.

Ganteng-Ganteng Serigala, misalnya, pernah dihentikan sementara karena 3 kali melanggar berturut-turut. Begitu pula Anak Jalanan yang kena peringatan karena unsur kekerasan. Judul-judul sinetron itu mendapat rating tinggi. Kenyataan rating tinggi menjadikan stasiun televisi cuek dan terus menayangkan sinetron tersebut.

Kemudian, hal yang jelas menjadikan sinetron Indonesia sulit untuk mencapai kualitas yang baik adalah adanya sistem stripping, yaitu sistem tayang setiap hari. Akibatnya, para pekerja (artis, sutradara, penulis skenario, dan lain-lain) harus bekerja dengan terus dikejar jam tayang. Denagn sistem kerja semacam itu, yang menjadi korban akhirnya adalah kualitas sinetron yang dihasilkan.

Konsep tayangan setiap hari jelas melelahkan. Penulis naskah harus berjibaku menyetor naskah dalam waktu singkat. Kalau sinetron tersebut dapat rating bagus, penulis naskah harus membuat cerita meski harus mengorbankan logika cerita.

Menurut catatan Remotivi, dalam seminggu, seorang penulis naskah harus menulis 1 jam tayangan terus-terusan. Beban melelahkan diletakkan juga di bahu sutradara. Diperkirakan, satu sutradara memproduksi 1 menit sinetron dalam waktu 8-12 menit.

Ada cerita menarik terkait hal ini. Sinetron Tukang Ojek Pengkolan, yang tayang di RCTI, semula hanya direncanakan sampai 30 episode. Tetapi, karena ratingnya bagus, sinetron itu pun lalu diperpanjang hingga mencapai 700-an episode. Akibatnya, jalan cerita kadang jadi tidak nyambung, karena terlalu dipaksa untuk terus diperpanjang, padahal seharusnya cerita sudah selesai.

Mungkin, yang ideal adalah seperti drama Korea, yang rata-rata selesai dalam 100 episode. Dengan jumlah episode yang dibatasi, cerita dapat dirangkai secara masuk akal, dengan akhir yang sama masuk akal. Dan setelah suatu kisah (sinetron) selesai, penulis naskah bisa memikirkan cerita baru untuk sinetron baru.

Baca juga: Asal Usul dan Sejarah Popularitas Sinetron

Related

Insight 1448923273665545599
item