Memahami Perbedaan Uang dan Mata Uang

Memahami Perbedaan Uang dan Mata Uang

Naviri.Org - Dulu ada pepatah terkenal, berbunyi, “Hemat pangkal kaya”. Yang dimaksud ‘hemat’ dalam pepatah itu adalah mengajak kita untuk rajin menabung—karena waktu itu menabung dianggap menguntungkan—uang kita terkumpul, dan kita pun memperoleh bunga dari hasil tabungan, sehingga jumlah uang tabungan bertambah banyak.

Tetapi sekarang sudah berubah—bahkan berubah jauh. Kalau dulu orang yang rajin menabung akan menjadi kaya, maka sekarang orang yang rajin menabung justru akan menjadi miskin.

Pernahkah kita merenungkan atau mempelajari apa perbedaan ‘uang’ dengan ‘mata uang’?

Sekilas, dua kata itu sama, bahkan terkesan tidak ada bedanya, kan? Tetapi dua hal itu mengandung perbedaan yang amat besar di baliknya. Apabila mau dibuat definisinya, seperti inilah kira-kira definisinya: ‘Uang’ adalah sesuatu yang dicetak untuk dijadikan alat pembayaran yang sah—dengan menggunakan standar emas sebagai padanan. Sementara ‘mata uang’ adalah sesuatu yang dicetak untuk dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah—titik.

Hari ini, uang yang kita pergunakan sehari-hari bukan lagi ‘uang’—tetapi hanya ‘mata uang’. ‘Uang’ memiliki nilai yang tinggi karena dicetak dengan di-back up emas di belakangnya, namun ‘mata uang’ tak memiliki nilai setinggi itu, selain hanya dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.

Mengapa dunia saat ini terus-menerus dilanda inflasi yang nyaris tak pernah henti? Karena masing-masing negara menciptakan uang sebanyak-banyaknya tanpa melakukan back up emas di belakangnya. Akibatnya, nilai uang terus menurun dan merosot—makin hari nilai uang semakin tak berarti.  Dan itulah mengapa, kalau kita rajin menabung, kita justru akan semakin miskin.

Sebelum tahun 1970-an, uang masih dicetak dengan menggunakan standar emas. Pada waktu itu, harga emas hanya 35 dollar per ons. Karena uang dicetak dengan di-back up emas, maka nilai uang pun stabil. Kalau rajin menabung pada waktu-waktu itu, jumlah serta nilai uang akan terus bertambah, plus ditambah adanya bunga.

Tetapi sekarang, harga emas telah mencapai 700 dollar per ons, dan uang hanya sekedar menjadi mata uang, karena pencetakan uang tidak lagi di-back up emas. Akibatnya, nilai uang pun lagi stabil. Alih-alih semakin naik, nilai uang justru terus merosot—dan karena itulah nilai uang yang kita tabung semakin jatuh nilainya, tak peduli sebanyak apa pun jumlahnya, tak peduli sebesar apa pun bunga yang kita terima setiap bulan.

Sekarang kita gunakan analogi. Umpama kita punya tabungan seratus juta hari ini, maka seiring bertambahnya hari, uang tabungan itu akan memperoleh bunga dari bank tempat menabung. Jumlah seratus juta itu pun akan bertambah, bertambah, dan bertambah, seiring makin bertambahnya nilai bunga yang ditambahkan pada jumlah tabungan.

Di atas kertas, jumlah tabungan semakin bertambah. Tetapi di dalam realitas yang terus-menerus mengalami inflasi, jumlah uang itu justru semakin berkurang—setidaknya berkurang nilainya—tak peduli sebesar apa pun bunga yang diperoleh dari tabungan itu. Di atas kertas, uang semakin bertambah. Namun, pada kenyataannya, nilai uang semakin berkurang—karena terus menerus dikikis inflasi yang semakin menurunkan nilai uang.

Dulu, menabung memang membuat kaya—sekarang, menabung hanya akan membuat miskin!

Baca juga: Apa yang Disebut Dana Pensiun?

Related

Money 1164704720812805758

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item