Menakar Nasib Asgardia, Negara di Luar Angkasa

Menakar Nasib Asgardia, Negara di Luar Angkasa

Naviri.Org - Asgardia, negara yang didirikan di luar angkasa, adalah cetusan ide Dr. Igor Ashurbyli. Dia adalah peneliti keturunan Azerbaijan-Rusia, yang lahir pada 9 September 1963. Igor Ashurbyli dikenal sebagai Penemu Pusat Penelitian Kedirgantaraan Internasional dan Ketua Komite Ruang Angkasa UNESCO. Dia pula yang mengumumkan keberadaan negara Asgardia ke dunia, dan kini menjabat sebagai Kepala Negara Antariksa Asgardia.

Dalam upaya mewujudkan impiannya untuk membangun negara di luar angkasa, Igor Ashurbyli mengumumkan negara itu di Hong Kong pada Selasa (13/6/2017), dengan meluncurkan satelit pertamanya, Asgardia-1, ke luar angkasa yang akan dilakukan pada September 2017.

Satelit yang akan diluncurkan oleh perusahaan NanoRacks itu akan turut membawa informasi terkait konstitusi, bendera, dan data diri dari 1,5 juta warga Negara Antariksa Asgardia. Satelit kedua dijadwalkan untuk meluncur pada tahun setelahnya.

Rencananya, Asgardia akan didesain seperti stasiun ruang angkasa permanen, tempat para warganya memiliki peraturan sendiri, layaknya negara di bumi, dan mereka dapat bekerja dan hidup secara normal. Konstitusi negara telah tersedia di website resmi, dan para pendaftar tinggal memilih untuk menyetujuinya atau tidak.

Jika Igor Ashurbylim selaku pemilik ide negara di luar angkasa sepertinya sangat yakin idenya akan terwujud, bagaimana dengan pakar lain? Mungkinkah rencana mewujudkan negara luar angkasa benar-benar akan bisa dilaksanakan?

Bagaimana pun, mendirikan negara di luar angkasa adalah proyek dengan skala yang sangat besar, yang juga membutuhkan biaya sangat besar pula. Sampai saat ini, segala pengeluaran terkait hal itu masih berasal dari kantong pribadi Igor Ashurbyli. Meski NanoRacks, perusahaan Igor, tak merilis berapa dana yang dikeluarkan untuk peluncuran satelitnya, namun proyek serupa diperkirakan perlu dana sebesar $700.000.

Itu baru satelit, belum pesawat luar angkasa raksasa sebagai koloni permanen di orbit bumi. Dalam catatan Bussines Insider, pembangunan Stasiun Antariksa Internasional (ISS) saja berbiaya $100 miliar. Penerbangan ke stasiun tersebut menyedot biaya hingga lebih dari $40 juta dalam sekali peluncuran.

Asgardia dinilai seambisius proyek Mars One yang ingin menempatkan koloni permanen di Mars. Keduanya memang mungkin untuk terwujud, namun selain kendala dana, ada juga kendala waktu pengerjaan. Kedua proyek ini tak akan selesai dalam beberapa dekade ke depan, atau bahkan lebih lama lagi. Orang-orang yang mendaftar sekarang, kemungkinan besar sudah meninggal saat proyeknya telah rampung.

Christopher Newman, ahli hukum antariksa di Universitas Sunderland, Inggris, berkata pada The Guardian bahwa proyek Asgardia merefleksikan fakta bahwa lanskap geopolitik di ruang angkasa belum berubah sejak Perjanjian Luar Angkasa yang digagas pada era 1960-an.

Ia belum terlalu memahami bagaimana Asgardia akan cocok di dalam regulasi internasional di tengah keraguan atas status legal Asgardia di hadapan PBB, hingga isu terkait apakah nanti stasiun koloni mereka benar-benar layak ditinggali. Di dalam Perjanjian Luar Angkasa disebutkan bahwa negara yang mengirim misi ke luar angkasa bertanggung jawab atas segala kerusakan yang terjadi.

Christopher Newman menyatakan, “Perkembangan dari wacana Asgardia memang menggairahkan dalam banyak hal, sebab menarik dilihat ke depan seperti apa. Tetapi ada hambatan berat menyangkut hukum internasional untuk mereka atasi. Apa yang sebenarnya mereka advokasi adalah peninjauan lengkap dari kerangka hukum antariksa yang ada saat ini.”

Baca juga: Mengenal Asgardia, Negara di Luar Angkasa

Related

Insight 5519945297013445010
item