Media Sosial di Internet Bisa Menjadi Sumber Stres

Media Sosial di Internet Bisa Menjadi Sumber Stres

Naviri.Org - Dalam ilustrasi mudah, kakek atau nenek kita yang tidak mengenal internet dan tidak aktif di media sosial, mungkin menjalani kehidupan yang lebih damai dan lebih tenang. Mereka tidak harus menghadapi kemungkinan loading web yang lemot akibat jaringan internet yang lambat, tidak harus menghadapi orang-orang nyinyir di Twitter, juga tidak harus mendapati kabar buruk dari berbagai tempat di dinding Facebook.

Apakah benar begitu? Apakah orang yang tidak menggunakan internet, khususnya yang tidak menggunakan medsos, memang lebih jauh dari kemungkinan mengalami sres daripada yang aktif di mesdos? Kemungkinan, jawabannya, memang iya.

Stres dan kaitannya dengan internet tidak hanya berkaitan dengan masalah pada jaringannya, tapi juga konten dan bagaimana ketergantungan pemakaiannya. Pew Research pada 2015 lalu pernah mempublikasikan riset yang berkenaan dengan fenomena tersebut, bermodal dengan sebait pertanyaan pokok, “Apakah konsumsi medsos yang tinggi juga berkontribusi terhadap naik-turunnya level stres seseorang?”

Secara umum, analisis Pew Research menunjukkan bahwa tak ada kaitan langsung. Namun penggunaan medsos yang berlebihan berarti akan menerima lebih banyak informasi tentang peristiwa yang membuat stres orang lain. Situasi ini, menurut Pew Research, menuntun si pengguna medsos untuk lebih mudah terserang stres. Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan menjadi pihak yang lebih rentan untuk mengalami kondisi tersebut.

Dalam menjalankan penelitiannya, Pew Research menanyakan 12 jenis peristiwa pemicu stres kepada responden untuk mengetahui mana yang pernah mereka dengar/lihat dan yang belum. Peristiwanya bermacam-macam, mulai dari kematian orang terdekat sampai masalah finansial.

Hasilnya, secara rata-rata, responden perempuan memiliki pengetahuan yang lebih besar tentang 12 peristiwa pemicu stres tersebut, di antara orang-orang yang responden kenal atau berteman di medsos. Masih dalam angka rata-rata, tingkat pengetahuan responden pria tentang peristiwa pemicu stres yang dialami orang-orang terdekatnya di medsos sebanyak 7 persen lebih sedikit dibanding responden perempuan.

Lebih khusus lagi untuk kasus bagi pengguna Facebook, responden perempuan dengan jaringan pertemanan normal memiliki pengetahuan atas peristiwa pemicu stres 13 persen lebih tinggi ketimbang perempuan yang tak main Facebook. Sementara bagi responden laki-laki persentasenya hanya 6 persen. Pengetahuan responden perempuan atas peristiwa pemicu oleh orang-orang spesialnya di Facebook juga mencapai 14 persen, lebih tinggi daripada persentase pengetahuan responden laki-laki yang hanya sebesar 6 persen.

Stres barangkali akan selalu jadi harga yang mesti dibayar mereka yang tak bisa hidup tanpa internet. Hidup tanpa internet? Apakah bisa? Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, pernah merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika berada jauh dari gawainya, dari medsosnya, dari dunia sekundernya.

Dalam laporan yang dirilis pada Oktober 2016 tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56 persen konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat ponsel pintarnya. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53 persen konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70 persen konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik.

Ada harga ada rupa. Ada akses internet, ada juga stresnya.

Baca juga: Orang Pertama yang Punya 100 Juta Pengikut di Twitter

Related

Psychology 1056937544684372657

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item