Fakta di Balik Bisnis Pesan Antar Makanan

Fakta di Balik Bisnis Pesan Antar Makanan

Naviri.Org - Layanan jasa pesan antar makanan tidak hanya ada di Indonesia, namun juga di luar negeri. Kenyataan ini tampaknya berjalan seiring makin banyaknya orang yang menggunakan ponsel pintar dan internet. Layanan ini juga sukses menjaring pengguna, karena memang dirasa praktis dan menyenangkan. Pengguna tinggal membuka ponsel pintar, masuk aplikasi yang diinginkan, melakukan proses pemesanan makanan, lalu tinggal tunggu di rumah.

Dengan segala kemudahan dan kepraktisan semacam itu, tak heran kalau layanan jasa pesan antar makanan begitu digemari. Seberapa banyak penggunanya?

McKinsey & Company menyebut bahwa pasar pesan antar makanan berada di angka €83 miliar di seluruh dunia. Meskipun terlihat besar, angka tersebut hanya 1 persen dari keseluruhan pasar makanan di dunia. Namun, dalam beberapa tahun mendatang, angkanya diperkirakan akan semakin meningkat.

Dalam laporan Fortune, Panera Bread, gerai restoran yang beroperasi di Amerika Serikat dan Kanada, telah menambah 10 ribu pekerja yang khusus disiapkan untuk layanan antar makanan pada 2017. Langkah itu menurut mereka akan menambah sekitar 10 persen pendapatan di tiap gerai.

Layanan pesan antara makanan, secara konvensional, disediakan oleh pihak restoran, dengan memanfaatkan sambungan pesawat telepon atau website restoran. Namun, layanan pesan antar makanan kian berkembang. Aplikasi berbasis smartphone seperti Go-Food, GrabFood, UberEats, jadi contoh nyata dalam konteks Indonesia.

Patrick Doyle, Chief Executive Officer Domino, pada Fortune, menyatakan bahwa “teknologi jelas merupakan bagian besar dari apa yang telah mendorong bisnis selama lima tahun terakhir ini.”

Aplikasi berbasis smartphone terkait layanan pesan antar makanan, dalam laporan McKinsey & Company, disediakan dalam dua layanan sebagai aggregators dan new delivery. Kedua tipe ini memungkinkan konsumen untuk membandingkan menu, memilih, memberikan ulasan, dan memesan makanan pada restoran.

Namun, jika tipe aggregators hanya sampai pada tahap pemesanan dan pengantaran dilakukan oleh restoran, tipe new delivery memungkinkan restoran yang tak memiliki jasa pengantaran dibantu oleh sebuah aplikasi seperti Go-Food, GrabFood, UberEats atau lainnya. Secara sederhana, restoran hanya perlu fokus soal urusan makanan yang dijualnya. Segala proses order dan pengantaran, disediakan oleh tipe aggregators.

Salah satu pemain besar di bidang aplikasi pengantar makanan ialah Delivery Hero. Perusahaan yang berasal dari Jerman dan didirikan oleh Claude Ritter, David Bailey, dan kawan-kawannya pada 2011 itu, mengklaim telah bekerjasama dengan 150 ribu restoran di dunia. Pada 2016, mereka memproses lebih dari 170 juta order.

Keperkasaan Delivery Hero, tak berhenti sampai di situ. Mereka paling tidak mengakuisisi dua startup di bidang yang sama. Foodora pada 2015 dan Foodpanda pada 2016. Foodora mengklaim telah beroperasi di 60 kota di 10 negara.

Selain itu, ada lebih dari 9 ribu restoran yang telah bekerjasama dengan mereka. Sementara Foodpanda, yang dibeli senilai $500 juta, telah beroperasi di 190 kota di 12 negara. Ada 27 ribu restoran yang telah bekerjasama dengan mereka.

Hingga pertengahan 2017, Delivery Hero mengklaim memperoleh pendapatan €246,5 juta. Selain Delivery Hero, layanan pesan antar makanan berbasis aplikasi juga disediakan oleh startup yang awalnya fokus pada transportasi online, seperti Uber, Grab, dan Go-Jek.

Baca juga: Memahami Keamanan Makanan yang Diantar Ojek Online

Related

Food 7765175593974564977

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item