Charles Darwin dan Kontroversi Teori Evolusi

Charles Darwin dan Kontroversi Teori Evolusi

Naviri.Org - Salah satu tokoh yang namanya terus disebut-sebut dari zaman ke zaman, salah satunya, adalah Charles Darwin. Ahli biologi asal Inggris ini menjadi sangat terkenal sekaligus kontroversial, karena mencetuskan teori evolusi, yang menyebutkan bahwa manusia adalah hasil perubahan atau evolusi yang berlangsung dari waktu ke waktu. Sejak dia mencetuskan teori tersebut, dan hingga sekarang, orang-orang masih dan terus terpecah dalam dua kubu. Sebagian menyetujui, sebagian lain menolak dan menentang.

Charles Darwin lahir di Inggris pada 12 Februari 1809. Ayahnya bernama Robert Darwin, dan ibunya bernama Susannah Wedgwood. Kakek Charles Darwin dari garis ayah, Erasmus Darwin, adalah ahli ilmu hayati, sedangkan kakek dari garis ibu, Josiah Wedgwood, merupakan seorang pendukung anti-perbudakan.

Semangat zaman di Eropa kala Darwin hidup dipenuhi kecurigaan atas penciptaan bumi (dan juga manusia) yang dikisahkan dalam Kitab Suci. Situasi ini terbentuk, salah satunya, karena fosil yang memiliki bentuk mirip makhluk hidup sekarang ini mulai disingkap oleh para ahli batuan bumi. Pada 1822, Gideon Mantell dan Mary Ann Mantel menemukan fosil dinosaurus, persisnya iguanodon—saat itu Darwin baru berusia 13 tahun.

Menurut Stefoff, temuan fosil itu membuat orang-orang bertanya, “Bagaimana mereka bisa berubah menjadi batu hanya dalam beberapa ribu tahun?” Sedangkan temuan fosil dinosaurus memperlihatkan ternyata ada "hewan" di masa lalu yang tidak memiliki kemiripan bahkan relasi dengan makhluk hidup sekarang ini. Mereka juga tidak diceritakan dalam Kitab Suci. Jelas, bumi pernah dihuni makhluk hidup yang telah punah. Mengapa ini terjadi?

Mereka yang berpikiran kreasionis mengklaim Tuhan menciptakan tiap spesies dalam bentuknya yang purna, sekali dan untuk selamanya. Makhluk-makhluk yang telah punah itu mati karena tenggelam saat banjir besar – sebagaimana diceritakan dalam Kitab Suci.

“Sebagai contoh, Robert Fitzroy, kapten kapal Beagle, percaya mammot punah karena mereka terlalu besar sehingga tidak dapat melewati pintu behtera (Nabi) Nuh. Inilah mengapa para penulis yang hidup semasa abad ke-19 sering menggambarkan dinosaurus, mammot, dan hewan punah lainnya sebagai antediluvian (yang berarti ‘sebelum banjir’),” sebut Stetoff.

Sedangkan para pemikir katastrofik menganggap bumi dengan segala isinya pernah luluh lantak karena bencana. Hewan, seperti dinosaurus, punah sebelum atau saat bencana terjadi. Menurut mereka, Kitab Suci menjelaskan penciptaan dan kehidupan setelah bencana.

Sementara itu, kelompok uniformitarianisme – dimotori oleh Theory of the Earth-nya James Hutton – menganggap kondisi bumi saat ini dibentuk tidak secara tiba-tiba karena bencana di masa lalu, melainkan secara perlahan selama ribuan tahun. Kala itu, visi uniformitarianisme dianggap revolusioner karena, untuk pertama kalinya, bumi dan segala isinya dianggap hasil proses kompleks yang sangat lama. Darwin pun awalnya mengamini argumen ini.

Serupa dengan para ahli batuan bumi, para ahli ilmu hayati pun resah atas pemikiran yang menganggap bahwa makhluk hidup diciptakan purna, sekali, dan tidak berubah. Mereka juga penasaran atas mekanisme keteraturan bentuk makhluk hidup yang ada – sebagaimana diperlihatkan sistem taksonomi Carl Linne, ahli ilmu hayati asal Swedia.

Pada 1802 Uskup William Paley meluncurkan Natural Theology. Segala keteraturan dalam alam dan makhluk hidup, menurutnya, telah diatur Tuhan. Dia mengajukan pengandaian yang dikenal dengan sebutan “argumen desainer” atau “argumen pembuat jam”. Konsepnya dapat diringkas sebagai berikut.

William Paley: “Misalkan Anda keluar berjalan dan menemukan jam saku. Anda belum pernah melihat jam seperti itu sebelumnya. Melihat jam itu terdiri dari mekanisme yang tepat dan rumit, Anda akan menyimpulkan itu tidak mungkin terjadi secara acak. Ia pasti dirancang dan dibuat pembuat jam. Mata, seperti jam saku, adalah mekanisme yang rumit. Begitu sempurna sehingga juga dirancang, dan perancangnya adalah Tuhan.”

Ahli hewan Jean-Baptiste Lamarck yang menulis bahwa spesies selalu menyesuaikan dan berubah supaya sesuai dengan lingkungan mereka. Tapi Lamarck tidak bisa secara meyakinkan menggambarkan bagaimana perubahan ini terjadi.

Baca juga: Penyakit Misterius di Balik Kegilaan Raja George III

Related

Insight 1260702134221651968

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item