Kisah Idi Amin Dada, Diktator Gila dari Uganda

Kisah Idi Amin Dada, Diktator Gila dari Uganda

Naviri.Org - Sepanjang sejarah dunia, ada banyak diktator yang pernah memerintah di berbagai negara. Dari Adolf Hitler di Jerman, Stalin di Italia, Pol Pot di Kamboja, sampai Idi Amin Dada di Uganda.

Masing-masing diktator memiliki kisah kehidupan dan kepempinan sendiri yang bisa dibilang unik, dengan segala latar belakang bahkan aneka mitos dan misteri, yang kini tertulis di lembar-lembar sejarah.

Bersama para diktator lain yang pernah muncul, Idi Amin Dada adalah diktator abad ke-20 yang terkenal. Rekam jejaknya yang buas selama menjabat sebagai Presiden Uganda ke-3 dikenang seluruh dunia. Mengutip testimoni para sejarawan, Amin pernah memimpin rezim terburuk di Afrika, sebagaimana Pol Pot dahulu memimpin Kamboja.

Beberapa pengamat menjulukinya “Adolf Hitler dari Afrika.” Idi Amin Dada memang sekejam Hitler di Jerman; begitu kekuasaan berhasil digenggam, salah satu program utamanya adalah genosida alias pemusnahan massal kelompok etnis yang dianggap sebagai biang kerok kekacauan negeri.

Amin merebut kursi nomor satu Uganda dengan jalan kudeta militer, yang menyingkirkan Presiden Militon Oboye pada 25 Januari 1971. Saat Amin melancarkan kudeta, Oboye sedang berada di Singapura untuk mengikuti pertemuan negara-negara Persemakmuran Inggris.

Selain menjabat pucuk pimpinan tertinggi politik, Amin juga mendeklarasikan diri sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, Kepala Staf Angkatan Darat, dan Kepala Staf Angkatan Udara Uganda. Undang-undang militer ia letakkan di atas hukum sipil. Para perwira di bawahnya ia tunjuk untuk mengisi posisi gubernur dan jabatan-jabatan penting lainnya.

Amin menganggap siapa pun yang masih setia pada Obote (pemimpin sebelumnya) sebagai ancaman nomor satu. Para pembangkang yang kebanyakan berasal dari etnis Acholi dan Lango segera jadi target pembersihan massal.

Menurut riset Sue Lautze dari Harvard, tentara Lango dan Acholi dibantai di dua tangsi militer, Jinja dan Mbarara, pada Juli 1971. Pada awal 1972, lima ribu tentara Acholi dan Lango dibunuh. Dalam pembantaian tersebut, rakyat sipil ikut dihabisi dengan jumlah korban dua kali lipat lebih banyak dari korban militer.

Genosida juga menyasar pemuka agama lokal, jurnalis, seniman, birokrat senior, hakim, pengacara, mahasiswa, kaum intelektual, terduga kriminal, dan orang asing yang kebetulan sedang berada di Uganda. Banyak juga dari mereka yang berstatus sebagai korban salah sasaran.

Selama delapan tahun berkuasa (sampai 11 April 1979), mayat orang-orang yang tak disukai Amin tergenang di Sungai Nil dan danau-danau di Uganda. Jumlah pastinya tak diketahui. International Commision of Jurist menyebut angka 80.000-300.000 korban. Sedangkan Amnesty International mencatat 500.000 korban tewas.

Kisah kegilaan Amin adalah racikan testimoni para saksi sejarah dengan mitos yang sengaja dibangun demi kedigdayaan citra Amin. Beberapa di antaranya isapan jempol. Namun dua cerita yang sungguh-sungguh terjadi menggambarkan tingkat kekejaman Amin yang betul-betul di luar nalar. Ia pernah melemparkan mayat korban pembantaian ke buaya peliharaannya. Amin juga dikisahkan menyimpan kepala korban di lemari pendingin—beberapa di antaranya kadang diajak ngobrol.

Satu rumor yang masih sulit dipercaya, namun berkembang luas, menyebutkan bahwa Amin adalah seorang kanibal. Ketika seorang reporter menanyakan rumor tersebut dalam sebuah jumpa pers, Amin menimpali:

“Aku tak suka daging manusia, terlalu asin,” ujarnya sambil tergelak.

Baca juga: Kisah George Washington dan Berdirinya Amerika Serikat

Related

Insight 6870822007668760098

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item