Mengapa Banyak Orang Menyukai Ramalan?

Mengapa Banyak Orang Menyukai Ramalan?

Naviri.Org - Ada banyak orang menyukai ramalan, dan ada banyak jenis ramalan yang tersedia di sekitar kita. Dari ramalam zodiak, ramalan menggunakan media tarot, ramalan shio, dan lain-lain. Orang senang membaca ramalan zodiaknya minggu ini, melihat bagaimana perkiraan nasibnya seminggu ke depan, dan semacamnya. Bahkan, ada banyak orang yang rela mengeluarkan uang untuk membayar peramal demi meramalkan nasibnya.

Mengapa banyak orang suka diramal atau menyukai ramalan?

Studi psikologi mengenai persepsi risiko menyatakan bahwa ketidakpastian merupakan salah satu pengaruh paling kuat dari rasa takut. Semakin sedikit informasi yang dikumpulkan, maka perasaan “terancam” semakin kuat. Kurangnya informasi membuat manusia merasa tak dapat melindungi keselamatannya.

“Di masa mendatang, orang masih akan mencoba memprediksi apa yang akan terjadi. Untuk memberi kontrol atas takdir,” ujar David Ropeik, seorang instruktur di Harvard Extension School dan penulis "How Risky Is It, Really?” seperti dikutip Psychology Today. 

Ketakutan akan ketidakpastian menurut Ropeik tak ubahnya seperti mengemudi dengan mata tertutup. Tak bisa melihat medan, membuat pengemudi merasa diterkam bahaya. Informasi sekecil apa pun, meski tidak lengkap, atau salah, merupakan kekuatan untuk menghadapi takdir. Itulah fungsi ramalan.

Dalam psikologi, alasan orang percaya terhadap ramalan disebut efek Barnum, yaitu kondisi psikologis ketika kondisi umum dibuat seolah berlaku khusus pada individu atau kondisi tertentu. Singkatnya, Efek Barnum merupakan bentuk manipulasi psikologis.

Sebutan ini merujuk pada Phineas Taylor Barnum, seorang penghibur, pesulap, dan pemilik sebuah sirkus di Amerika. Ia menggunakan taktik tersebut untuk membuat orang-orang percaya ramalannya sangat spesial, unik, dan tak berlaku untuk orang yang sama.

Seorang psikolog bernama Stagner pernah melakukan tes kepribadian kepada responden manajer personalia di suatu perusahaan. Ia memberi hasil palsu kepada responden dalam bentuk pernyataan yang lazim pada horoskop, analisis tulisan tangan (grafologi), dll. Namun lebih dari setengah responden merasa hasil tesnya sangat akurat dan sesuai.

Pada tahun berikutnya, seorang profesor bernama Forer menguji teori tersebut pada mahasiswanya dengan memberikan "evaluasi" acak dan asal. Ada tiga poin hasil tes kepribadian yang ia karang dengan jawaban umum:

“Kamu mempunyai hasrat besar supaya orang menyukai dan mengagumimu.”

“Kamu cenderung kritis terhadap diri sendiri."

“Kamu punya potensi besar dalam dirimu yang belum kamu maksimalkan.”

Mahasiswanya diminta menilai validitas pernyataan yang mereka dapat dengan skala 1 sampai 5 untuk menunjukkan deskripsi paling bagus. Evaluasi seluruh mahasiswa sekelas menghasilkan rata-rata 4,26. Semakin detail paparan yang diberikan, maka semakin dipercaya pula ramalan tersebut. Hal inilah yang diterapkan dalam ilmu horoskop. Spesifikasi kepribadian diberikan berdasar info spesifik: ada tanggal dan bulan lahir.

Orang cenderung mempercayai hasil tes kepribadian yang palsu, asalkan pernyataan yang diberikan bersifat generik dan bernada positif. Contohnya terjadi dalam pembacaan karakter berdasarkan astrologi (horoskop) dan grafologi.

Sifat manusia yang mudah tertipu membuat mereka cenderung menerima klaim-klaim sesuai keinginannya, ketimbang klaim empiris berdasar standar non-subjektif. Kita, manusia, pada dasarnya senang mendengar hal-hal positif tentang diri kita daripada yang bernada negatif.

Baca juga: Mengapa Ramalan Zodiak Sering Terasa Benar?

Related

Psychology 6238300258120494361

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item