Mengapa Banyak Anak Muda yang Menyukai Netflix?

 Mengapa Banyak Anak Muda yang Menyukai Netflix?

Naviri Magazine - Banyak remaja dan anak muda yang menyukai Netflix, televisi streaming yang hit di mana-mana, termasuk di Indonesia. Seiring makin maju dunia teknologi, acara menonton televisi juga ikut berubah. Salah satunya dengan menyaksikan layanan televisi sreaming. Dalam hal ini, Netflix menjadi primadona anak-anak muda.

Pada 2017 silam, survei semi tahunan Piper Jaffray—lembaga riset investasi dan pasar—menyebutkan sebanyak 38 persen populasi muda menghabiskan waktu untuk menonton Netflix. Jumlah itu lebih banyak dibanding mereka yang menonton YouTube yang hanya 26 persen, TV kabel 23 persen, Hulu 4 persen, dan Amazon 3 persen.

Apa yang membuat Netflix begitu spesial di mata anak-anak muda?

Bagi yang mengikuti Netflix, pastinya paham bahwa dewasa ini, Netflix seringkali menyajikan film atau serial yang didasarkan dari kehidupan remaja maupun coming of age. Inilah yang dianggap banyak pihak sebagai faktor kunci Netflix dalam menggaet penonton milenial.

Di tangan Netflix, remaja diolah jadi barang dagang. Masa keemasannya yang terakhir terlacak pada 1980-1990an melalui The Breakfast Club, Dazed and Confused, 10 Things I Hate About You, That’s 70 Show, sampai Almost Famous, coba dihidupkan kembali oleh perusahaan layanan streaming asal California ini.

Alexa & Katie, yang berkisah mengenai relasi dua kawan di tengah serangan kanker, hanyalah sebagian kecil contoh jualan remaja dari Netflix. Sebelumnya, Netflix sudah lebih dulu punya 13 Reasons Why, On My Block, Riverdale, Stranger Things, American Vandal, Everythings Sucks!, sampai Atypical. Itu baru dari serial.

Di film sendiri, produk remaja ala Netflix juga tak kalah banyak. Contohnya: Dude, Babysitter, The Kissing Booth, To All the Boys I’ve Loved Before, hingga Alex Strangelove.

Setiap produk tersebut dibangun atas fondasi yang sama, yakni kehidupan remaja. Namun, masing-masing produk remaja Netflix punya pengembangan yang bermacam rupa. Riverdale, misalnya, dibalut dengan misteri pembunuhan di tengah realitas sehari-hari anak SMA yang berupaya mengejar mimpinya.

Sementara The End of F***ing World adalah petualangan dua anak muda, James (Alex Lawther), pemuda 17 tahun yang percaya bahwa dirinya psikopat, serta berupaya membunuh manusia untuk kali pertama. Ia bersama Alyssa (Jessica Barden), gadis yang muak akan kehidupan keluarganya yang tak stabil. Keduanya lalu kabur dan menciptakan petualangan.

Selain berjualan bumbu romantisme maupun sikap memberontak anak remaja, produk dagang remaja ala Netflix juga memuat kritik terhadap masalah sosial yang sedang hangat. Alex Strangelove, contohnya, menyentil mengenai bagaimana respons lingkungan sekitar terhadap LGBTQ.

Juga ada 13 Reasons of Why, yang mengangkat narasi bullying, bunuh diri, hingga kekerasan seksual. Tak ketinggalan, di On My Block maupun Jane the Virgin, menyodorkan persoalan rasisme serta imigran.

Karen Han, dalam “Teenage Stream: How Hetflix Resurrected the High School Movie”, yang dimuat di The Guardian, menegaskan Netflix telah membuktikan dirinya menjadi penyedia layanan streaming yang menarik perhatian anak-anak muda. Produk-produk jualan Netflix, di samping membangkitkan gairah film remaja, juga telah membawa narasi tentang remaja untuk diperbincangkan lebih lanjut.


Related

Entertaintment 7443322068916007498

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item