Kisah Anak-anak Konglomerat, Hidup Mewah dan Uang Berlimpah

Kisah Anak-anak Konglomerat, Hidup Mewah dan Uang Berlimpah

Naviri Magazine - Apa yang lebih menyenangkan dibanding menjadi anak konglomerat? Bahkan sejak lahir pun sudah berlimpah dengan harta dan kemewahan. Berbeda dengan orang tuanya yang mungkin harus merintis usaha sejak nol dengan susah-payah, anak-anak konglomerat tidak mengalami hal serupa. Mereka bisa langsung menikmati hidup enak, uang berlimpah, dan barang-barang mewah.

Menurut Rupert Hoogewerf, Kepala Riset Hurun Report, ada sekitar 67.000 warga China yang memiliki kekayaan lebih dari 100 juta Yuan atau Rp 210 miliar, hingga September 2014 lalu. Kota Beijing, Shanghai, Shenzhen, Guangzhou, dan Hangzhou, menjadi rumah utama bagi para pemilik duit berlimpah. Punya banyak duit, orang-orang kaya ini, terutama anak-anak mereka, mulai mengincar kota-kota lain di dunia.

“Aku ingat mendapatkan dompet Chanel pertama kali saat masih umur sembilan tahun,” kata Pam Zhou, dikutip Business Insider. Sudah beberapa tahun Pam tinggal di Vancouver, Kanada, tapi orang tuanya masih menetap dan mengeruk duit di tanah leluhur Tiongkok.

Seperti Pam, teman karibnya, Diana Wang, 25 tahun, sudah beberapa tahun tinggal dan kuliah di Kanada. Di “kampungnya”, Shanghai, Diana biasa mengendarai sedan Ferrari atau Mercedes-Maybach. Tapi di Kanada, Diana “hanya” menunggang sedan Audi RS5. Di Indonesia, Audi RS5 harganya berkisar Rp 2,5 miliar.

Membeli mobil mewah seperti Ferrari, menurut Diana, merupakan investasi yang buruk, karena harganya sudah pasti bakal anjlok.

“Lebih baik membelanjakan setengah juta dolar untuk jam tangan atau berlian,” kata Diana, dikutip New York Times, menyarankan. Gadis ini punya puluhan tas Chanel dan mengkoleksi jam tangan mewah. Di pergelangan tangannya, melingkar jam Breguet yang harganya setara satu mobil BMW.

Vancouver yang nyaman dengan iklim tak terlampau dingin, memang jadi salah satu tempat tinggal favorit bagi anak-anak dan keluarga miliarder dan triliuner dari daratan Tiongkok.

Menurut catatan pemerintah metropolitan Vancouver, sekarang hampir seperlima penduduk kota itu merupakan keturunan etnis China. Mereka keturunan pengusaha kaya, tapi ada pula keluarga pejabat-pejabat tinggi China.

“Bukan salahku jika aku lahir sebagai orang kaya,” kata Blanche, kini 25 tahun, dikutip The Coverage, beberapa waktu lalu. Dia tinggal di Amerika Serikat, di apartemen yang dibelikan orang tuanya, seharga sekitar Rp 9,5 miliar, dan sehari-hari menyetir Porsche.

Saat masih kuliah, setiap bulan orang tuanya memberi uang saku HK$ 230.000, kurang lebih Rp430 juta per bulan. Lebih besar ketimbang gaji Direktur Utama perusahaan besar di Indonesia sekali pun. “Orang bilang aku pamer kekayaan, padahal memang seperti itulah hidupku.”

Ada banyak cerita soal para fuerdai di Tiongkok, juga anak-anak pengusaha super tajir di Indonesia, Malaysia, India, dan di mana pun, yang berfoya-foya dengan duit orang tuanya.

Tapi tak sedikit pula anak-anak pengusaha tajir yang bersekolah dengan sangat serius dan mengejar karir di atas kakinya sendiri. Wendy Yu, Kelly Zong, pewaris raksasa minuman Wahaha, Liu Cang, pewaris Grup New Hope, dan Lin Han, di antaranya.

Dia adalah putri pemilik Grup Mengtian, perusahaan besar di China. Wendy tak suka disebut sebagai fuerdai. Dia lebih suka disebut sebagai investor atau filantropis. Dia mendirikan perusahaan fashion, dan terus berinvestasi ‘membiakkan’ uangnya dan uang dari orang tuanya.

Sementara Lin Han mendirikan M-Woods, museum seni di Beijing. Sebelumnya, dia banyak menghabiskan uang untuk mengkoleksi mobil. “Tapi aku mulai bosan,” kata dia kepada BBC. Sejak beberapa tahun lalu, dia mulai mengumpulkan rupa-rupa karya seni.

Baca juga: #CrazyRichSurabayans, Kisah Orang-orang Super Kaya di Surabaya

Related

Lifestyle 7380245185841958280
item