Berdasarkan Survai, Pria Lajang Lebih Bahagia Daripada Menikah

Berdasarkan Survai, Pria Lajang Lebih Bahagia Daripada Menikah

Naviri Magazine - Benarkah menikah menjamin kebahagiaan? Mungkin benar bagi sebagian orang, dan tidak benar bagi sebagian lain. Pasalnya, kalau memang menikah pasti menjamin kebahagiaan semua orang, mestinya tidak ada perceraian. Fakta banyak pasangan yang bercerai, dengan jelas menunjukkan banyaknya orang yang tidak bahagia dalam pernikahan.

Kenyataannya, bahagia atau standar kebahagiaan tidak bisa dilekatkan pada hanya satu hal, dalam hal ini pernikahan. Penelitian yang begitu banyak jumlahnya mengungkap beragam temuan. Banyak hal perlu dipertimbangkan saat membicarakan hal ini. Pasalnya, kebahagiaan adalah sebuah gagasan kompleks.

World Happiness Report membuktikan, belum semua rakyat Indonesia merasa bahagia. Dari 156 negara dalam daftar, negeri ini bercokol pada nomor 96. Terhimpit antara Vietnam dan Bhutan.

Jika laporan tersebut memberi gambaran besar, mari menilik kondisi kebahagiaan orang Indonesia secara lebih detail.

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menggambarkan kebahagiaan terdiri atas berbagai karakteristik. Semakin tinggi nilai indeksnya, semakin bahagia.

Para lajang yang bisa dengan leluasa menjalani hidup dan punya lebih sedikit tanggung jawab, mengaku lebih bahagia. Mereka bisa mengisi waktu dengan hal-hal serta aktivitas yang membahagiakan diri sendiri.

Lain halnya saat punya pasangan. Mereka harus membagi waktu, kebutuhan, dan energi untuk dirinya sendiri dan pasangan. Menurut skor BPS, mereka yang lajang "sedikit" lebih bahagia—dengan selisih hanya nol koma.

Indeks kebahagiaan menurut karakteristik jenis kelamin penduduk laki-laki sebesar 71,12. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan perempuan sebesar 70,3. Artinya, laki-laki lebih bahagia dibandingkan perempuan.

Temuan lainnya, kebahagiaan orang Indonesia cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Usia 25 tahun adalah batasannya. Hal ini diperlihatkan karakteristik indeks kebahagiaan menurut kelompok usia—usia di bawah 25 tahun lebih bahagia.

Pada usia ini, sebagian orang mengalami quarter life crisis. Mereka bingung dengan identitas diri, memikirkan tujuan hidup yang salah arah, dan merasa telah melalui masa transisi yang sia-sia.

Perasaan cemas, takut, dan bingung, mau tak mau menimbulkan kegelisahan yang mengusik kebahagiaan. Ini fase hidup yang biasa dilalui kebanyakan orang.

Sementara itu, dari sisi pendapatan, 76 persen responden yang memiliki pendapatan lebih dari Rp7,2 juta per bulan menyatakan bahagia, lebih banyak daripada pengakuan mereka yang memiliki pendapatan kurang dari angka tersebut.

Secara keseluruhan, tiga dimensi ukuran indeks kebahagiaan, yakni kepuasan hidup (personal dan sosial), makna hidup, dan perasaan, memperlihatkan bagaimana orang memiliki kebahagiaannya masing-masing.

Penduduk yang belum menikah mungkin merasa lebih bahagia, tapi mereka yang sudah menikah memiliki indeks perasaan lebih tinggi. Dimensi ini terdiri dari perasaan tidak tertekan, perasaan tidak khawatir atau cemas, dan perasaan senang.

Dimensi dan indikator ini mungkin bisa menjelaskan, mengapa indeks kebahagiaan berlaku tinggi atau rendah. Misalnya dalam kasus penduduk lajang di atas—merasa bahagia belum tentu tidak khawatir, atau tidak tertekan.

Stres yang datang dan pergi seiring kerasnya kehidupan kota besar, misalnya, ternyata tak membuat kebahagiaan orang kota terpuruk. Yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat perkotaan (71,64) lebih bahagia dibanding perdesaan (69,57).

Meskipun demikian, masyarakat perdesaan punya indeks kepuasan hidup sosial lebih tinggi. Indikator kepuasan hidup sosial ini contohnya keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Begitu juga penduduk dengan kelompok usia di bawah 25 tahun. Indeks menunjukkan mereka lebih bahagia, tetapi penduduk dengan kelompok usia di atas 25 tahun punya indeks kepuasan hidup sosial lebih tinggi.

Menurut penulis The Happiness Project, Gretchen Rubin, kadang menjadi bahagia terasa seperti tujuan yang mustahil. Tak ada solusi yang berlaku sama rata untuk semua orang agar bisa mencapai kebahagiaan.

Pun demikian, ada hal-hal tertentu yang bisa membantu. Antara lain, tidur yang cukup, berolah raga, lingkungan bersih dan teratur, serta menjalin hubungan dengan sesama.

Baca juga: Hasil Studi, Perempuan Lebih Bahagia Melajang Daripada Menikah

Related

Male 1830084366021833250

Recent

item