Sejarah dan Asal Usul Lahirnya Notifikasi Pada Ponsel

Sejarah dan Asal Usul Lahirnya Notifikasi Pada Ponsel

Naviri Magazine - Ponsel-ponsel zaman dulu sangat sederhana, jauh lebih sederhana dari ponsel-ponsel zaman sekarang yang disebut smartphone. Karenanya, fitur ponsel zaman dulu sangat terbatas, dengan kemampuan yang juga sangat terbatas.

Berbeda dengan ponsel kekinian, hampir semua yang kita butuhkan ada di dalamnya. Bahkan hal yang bisa dibilang sepele semacam notifikasi pun kini telah menjadi salah satu pelengkap pada ponsel mana pun.

Notifikasi pada smartphone merupakan petunjuk visual atau sinyal audio atau peringatan berbentuk getaran, dari suatu aplikasi smartphone, untuk mendapatkan atensi pengguna. Ada empat tipe notifikasi, antara lain: pertama, personal sebagai notifikasi dari game atau aplikasi privat lain.

Kedua, notifikasi pekerjaan, untuk notifikasi dari aplikasi seperti email atau pengingat. Ketiga, notifikasi sosial sebagai notifikasi dari aplikasi media sosial. Keempat, notifikasi sistem untuk notifikasi yang berhubungan dengan sistem smartphone seperti update.

Fitur notifikasi pertama kali muncul pada 2003 pada smartphone buatan Research In Motion (RIM) atau BlackBerry. Pada perangkat BlackBerry, fitur notifikasi bernama push email hadir dalam aplikasi email. Sistem notifikasi pada BlackBerry memungkinkan pengguna tak perlu sering masuk ke inbox email. Pengguna hanya perlu melihat notifikasi yang muncul, apakah layak untuk ditindaklanjuti atau sebaliknya.

Sekitar enam tahun berselang, tepatnya pada 2009, Apple meluncurkan sistem notifikasi pada perangkat mereka, bernama Apple Push Notification Service. Pada 2010, Google meluncurkan fitur serupa, bernama Google Cloud to Device Messaging, yang mengalami penyempurnan menjadi Google Cloud Messaging di 2012.

Belum lama ini, Vox memuat laporan berjudul It’s not you, Phones are designed to be addicting, bahwa notifikasi yang dikemas dengan tanda bulat merah berupa angka yang terletak di pojok kiri logo aplikasi, adalah cara agar pengguna kecanduan atau penasaran dengan notifikasi.

Abhinav Mehrotra dari University of Birmingham, dalam ulasan berjudul “My Phone and Me: Understanding People’s Receptivity to Mobile Notifications”, menyatakan bahwa notifikasi memantik pengguna untuk memeriksa smartphone. Namun, ada perbedaan respons dari notifikasi dalam bentuk audio dan getar. Notifikasi berbentuk audio atau suara yang paling tinggi memantik pemilik untuk memeriksa smartphone.

Dalam jurnal itu Mehrotra, menyebutkan 41,94 persen dari 20 responden menyatakan mereka “terbangun” atas notifikasi berbentuk audio. Pada keadaan ponsel diam (silent mode), notifikasi “membangunkan” 25,54 persen penggunanya. Sementara itu, dalam mode bergetar (vibrate), dan bergetar dan bersuara (vibrate and sound), ada 21,50 persen dan 11,03 persen pemilik yang akhirnya memeriksa smartphone.

Respons pengguna ponsel tak hanya tergantung bentuk notifikasi suara atau getar, tapi juga ditentukan oleh siapa, apa, dan seberapa besar bobot notifikasi.

Mehrotra menyebutkan ada 31,54 persen responden akan segera memeriksa notifikasi bila mengetahui notifikasi berasal dari sosok yang penting. Sebanyak 14,5 persen responden mengaku akan langsung memeriksa notifikasi saat mengetahui notifikasi berasal dari sesuatu yang penting.

Notifikasi akan tetap ada pada smartphone sebagai fitur untuk mencuri perhatian pengguna ponsel. Suka tidak suka, pengguna smartphone tak bisa lepas dari teknologi ini.

Baca juga: Bahaya, Jangan Mengisi Ulang Baterai Ponsel Saat Hujan Turun

Related

Smartphone 1011514669455870449

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item