Misteri Bencana Alam yang Akan Menyebabkan Kiamat (Bagian 2)

Misteri Bencana Alam yang Akan Menyebabkan Kiamat

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Misteri Bencana Alam yang Akan Menyebabkan Kiamat - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Meskipun lapisan atmosfer dapat melindungi kita dari serangan sinar gamma dan sinar -X, namun pancaran-pancaran berenergi tinggi ini dapat membuat lapisan atmosfer menjadi panas dan menghasilkan nitrogenoksida, yang dapat secara serius merusak ozonosfer (lapisan ozon).

Yang lebih parah, ini dapat secara langsung mengacaukan proses fotosintesis plankton di samudera (mereka dapat menyuplai oksigen bagi atmosfer), merusak ekologi, sekaligus juga menghancurkan rantai makanan.

Jarak sinar gamma yang ditemukan saat ini sangat jauh dari kita. Meski pengetahuan yang diketahui ilmuwan atas hal ini sangat terbatas, namun dapat dibayangkan akibat yang mengerikan seandainya secara tiba-tiba ia menyinari bumi.

Meteorit menabrak bumi

Pada 1908 silam, sebuah meteorit komet setinggi kurang lebih 200 kaki (sekitar 60 meter) pernah melintasi lapisan atmosfer, mengenai kawasan Siberia, dan akibatnya terjadi ledakan di kawasan tersebut.

Menurut perhitungan astronom, peristiwa sejenis akan terjadi setiap 100-300 tahun. Peristiwa ini, seandainya terjadi di samudera atau daerah yang jarang penduduknya, yang meskipun rasio kemungkinan manusia terhindar dari bencana ini sedikit lebih besar, ilmuwan mengatakan: terhadap planet besar, tidaklah penting di mana posisi yang diterjang meteorit.

Jika meteorit selebar ½ mil (sekitar 800 meter) menabrak bumi (kira-kira setiap 250 ribu tahun), meski tidak sampai menyebabkan kepunahan seluruh umat manusia, namun cukup memusnahkan pembangunan peradaban umat manusia sekarang.

Jika sebuah meteorit selebar 5 mil menabrak bumi, dapat menimbulkan gempa, tsunami, letusan gunung berapi, dan mengakibatkan kepunahan yang lebih dahsyat, sama seperti akhir zaman dinosaurus.

Pada 1994 silam, ilmuwan berhasil mengamati seluruh proses tabrakan Comet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter. Hal ini menjelaskan bahwa meteorit menabrak bumi bukan tidak mungkin, juga bukan peristiwa mengerikan yang baru akan terjadi ratusan tahun kemudian.

Lubang Hitam

Sistim galaktik pada umumnya dipenuhi Lubang Hitam (Black Hole). Menurut prediksi ilmuwan, secara garis besar dalam sistem galaktik terdapat sekitar satu juta Lubang Hitam, dan benda-benda ini beredar sama seperti bintang lainnya.

Seandainya ada sebuah planet sedang mendekati bumi, hal itu bisa kita prediksi. Jika sebuah planet akan menabrak bumi, para ilmuwan bisa mengamati dan memprediksikan waktu maupun energinya secara konkret. Tetapi jika itu adalah Lubang Hitam, maka kita tidak akan mendapat peringatan.

Memang, lubang hitam tidak akan menabrak atau menghancurkan bumi. Tetapi ia, dengan kekuatan gravitasinya yang luar biasa, dapat mengacaukan orbit peredaran benda langit, sehingga suhu di bumi akan mengalami perubahan drastis.

Badai matahari

Selama beberapa tahun terakhir, matahari sudah memasuki perubahan periodik medan magnetik, yang terjadi setiap 10-11 tahun. Dalam masa demikian, partikel dan pancaran kemungkinan akan menerpa ke bumi dengan kecepatan 1 juta km/jam. Dan ancamannya terhadap bumi adalah suatu hal yang tak dapat diperhitungkan para ilmuwan.

Pada April 2001 silam, sebagaimana yang diperkirakan ilmuwan, telah terjadi ledakan bintik matahari yang dahsyat di permukaannya, dan ini merupakan salah satu ledakan terbesar yang tercatat selama ini. Untungnya, Solar Flare (letusan gas matahari) tidak mengarah ke bumi.

Karena itu, sebagian besar energi yang dilepaskan letusan protuberan tidak akan sampai menerjang bumi. Letusan protuberan atau gas matahari disebabkan ledakan tiba-tiba dari energi magnetik.

Letusan ini dapat menambah kecepatan gerak partikel matahari, hingga mendekati kecepatan cahaya dalam beberapa detik, sekaligus membuat suhu di permukaan matahari naik hingga jutaan derajat. Energi yang dilepaskan letusan protuberan bahkan mencapai miliaran ton energi yang dihasilkan ledakan bahan peledak.

Baca juga: Ngeri, Ternyata Ada Kehidupan di Bawah Lapisan Es Antartika

Related

Science 2011186783829488315
item