Kisah Penemuan Naskah Laut Mati yang Misterius (Bagian 1)

Kisah Penemuan Naskah Laut Mati yang Misterius

Naviri Magazine - Ada banyak manuskrip penting dari zaman kuno, yang ditemukan di zaman modern. Manuskrip-manuskrip itu umumnya ditulis tangan, menggunakan bahasa-bahasa tertentu yang eksis di masa lalu.

Beberapa bahasa kadang tidak dikenali di zaman sekarang, dan butuh waktu lama untuk memahami isinya. Yang jelas, melalui manuskrip-manuskrip dari zaman kuno tersebut, orang-orang di zaman sekarang bisa mendapat banyak pengetahuan tentang masa lalu.

Salah satu manuskrip zaman kuno yang sangat terkenal adalah manuskrip yang disebut Naskah Laut Mati. Manuskrip itu terkenal karena isinya dinilai kontroversial. Baca lebih lanjut: Konspirasi Rahasia i Balik Raibnya Naskah Laut Mati

Uraian berikut ini adalah terjemahan dari buku “Makhtutat al Bahri al Mayit” yang ditulis Ahmad Osman.

Siapakah orang-orang yang mendiami wilayah Qumran antara pertengahan abad ke-2 SM hingga pertengahan abad 1M, yang menyembunyikan manuskrip-manuskrip misterius di gua-gua Laut Mati?

Para ilmuwan sepakat bahwa naskah-naskah kuno tulisan tangan yang ditemukan di Qumran itu adalah milik sekte Yahudi yang menamakan diri mereka "Esenes". Sebutan mereka dengan nama tersebut menjadi bahan perdebatan di kalangan para ahli. Profesor Abbas Mahmud Al-Aqqad, dalam buku "Hayat Almasih" (Kehidupan Almasih) edisi kedua, mengemukakan sebagai berikut,

"Pendapat yang paling akurat dari berbagai tesis yang ada adalah bahwa orang-orang yang khusyuk, yang menghuni rumah peribadatan di Qumran, adalah sekelompok sekte Esenes, salah satu sekte konservatif dan sangat keras mempertahankan hukum-hukum agama Yahudi, yang menantikan keselamatan mereka dengan datangnya Sang Juru Selamat yang dijanjikan.

“Sekte ini juga sempat kami singgung dalam tulisan kami, 'Kejeniusan Almasih'. Merupakan kelompok bani Israel yang paling bersih dari perbuatan dosa dan hawa nafsu. Dalam tingkat keberagamaan, mereka terbagi menjadi tiga kelas.

“Dalam sumpah kesetiaan, mereka bersumpah untuk menjaga rahasia kelompoknya, dan sesudah itu mereka diharamkan untuk bersumpah secara benar atau palsu seumur hidup. Mereka beriman pada hari kiamat, kebangkitan dan kerasulan Almasih sang Juru Selamat. Pendapat kami bahwa nama Esenes berasal dari derivasi "asi" yang berarti tabib."

Para ilmuwan sejarah berbeda pendapat, berkenaan dangan asal penamaan Esenes. Sebagaimana tersebut di atas, Profesor Aqqad menyebutnya berasal dari akar kata “asi” dalam bahasa Aramaik berarti tabib. Tetapi bisa jadi pula kata itu berasal dari kata "ast", bukannya "esen" tetapi "asen".

Meskipun diketahui bahwa mereka mempergunakan ramuan obat-obatan untuk terapi penyembuhan berbagai macam penyakit, namun mereka bukan para tabib, dan tidak terdapat satu pun tulisan kuno yang memperkuat dugaan bahwa mereka berprofesi sebagai tabib.

Nama kelompok Esenes tertulis dalam bahasa Yunani, dalam karya sejarah Philo Judaeus, Josephus Flavius, dan Pliny the Elder, masing-masing dalam ungkapan "Esenoy" atau "Esau". Sedangkan nama orang yang menisbatkan dirinya kepada nama itu disebut "Esawi".

Persoalan mendasar yang dihadapi oleh para peneliti adalah, meskipun asal kata nama kelompok ini merupakan peristilahan lokal, namun mereka mendapatinya hanya tertulis dalam bahasa Yunani. Untuk itu, pertu dilacak asal kata istilah tersebut.

Sebagian peneliti mengasumsikan istilah itu berasal dari bahasa Aramaik atau Ibrani; namun mereka tidak kunjung sepakat pada kata tertentu yang menunjukkan bahwa kelompok tersebut pernah berdiam di wilayah Palestina.

Meski demikian, di sana terdapat indikasi kuat yang menghubungkan kelampok Esenes dengan Nabi Yesaya, yang membelot dari kelompok Pendeta Rumah Suci, dan memilih hidup menyendiri menantikan kedatangan Sang Juru Selamat pada akhir zaman (hari kiamat).

Para peneliti telah menemukan tiga bagian dalam Kitab Yesaya, ditulis selama kurun waktu dua abad, antara abad ke-6 hingga abad ke-4 SM.

Apapun alasannya, di antara jemaat yang mendiami wilayah Qumran bersama Nabi Yesaya terdapat hubungan yang erat—berkat penemuan di dalam gua-gua hunian mereka—dengan tulisan-tulisan Nabi Yesaya dalam jumlah besar, dan mereka menafsirkan tulisan-tulisan itu dengan metode khusus yang menjadi rahasia di antara mereka, terutama bagian-bagian yang berkenaan dengan "Hamba Tuhan" dan kelahiran "Emanuel".

Naskah-naskah itu pula yang diandalkan oleh para penulis Injil untuk mengisyaratkan kelahiran Isa Almasih, yang mereka sebut sebagai "nubuwat Sang Guru di masa mendatang".

Mengetahui asal kata dari peristilahan ini barangkali tidak sedemikian sulit, jika kita mengingat bahwa huruf "ain" dalam bahasa Arab dan pada semua bahasa Semitik akan menjadi "alif" dalam bahasa-bahasa Eropa, di antaranya bahasa Yunani.

Menurut penjelasan Pliny, dalam buku "Natural History", sesungguhnya kelompok Esenes mendiami wilayah antara kota Yericho (Ariha) kawasan lembah Jordan di utara dan kota `Ein Juda di tepian Laut Mati di selatan. Kawasan yang sama di mana terletak wilayah tak berpenghuni di Qumran.

Paska kedatangan orang-orang Yahudi dari Babel, para pendeta Yahudi berhasil menyeru manusia pada ajaran agama Yahudi, yang didirikan berdasarkan penafsiran mereka yang sangat khusus atas Taurat Musa. Dan berdasarkan retorika penafsiran itu pula, para pendeta menyusun ulang format kitab suci Yahudi.

Bersamaan dengan dibolehkannya orang-orang Yahudi untuk membangun kembali rumah suci kaum Yebusi oleh penguasa Parsi, maka rumah suci itu menjadi pusat kegiatan peribadatan para pendeta.

Ibadah Yahudi, yang dilakukan oleh kelompok pendeta, terdiri dari ritual-ritual tertentu, yang penting di antaranya adalah menyembelih hewan kurban, yang dilakukan oleh para pendeta di rumah suci setiap hari, terlebih pada hari Sabat atau hari-hari raya. Orang­orang Yahudi awam, masing-masing diminta untuk mempersembahkan sebagian hasil usaha mereka untuk rumah suci.

Oleh sebab jabatan kependetaan menjadi status yang sifatnya turun temurun dalam garis keturunan keluarga "para pendeta", maka secara otomatis "status kependetaan" itu selanjutnya membentuk hirarki baru dalam masyarakat Yahudi, yang mampu mendatangkan sumber kekayaan yang cukup melimpah.

Dengan masuknya komunitas aristokrat dan para pedagang, hirarki tersebut selanjutnya menjadi populer sebagai Sekte Saduki atau Sedukhem. Kelas sosial Yahudi tersebut kemudian memegang otoritas atas bangsa Yahudi melalui ritus-ritus keagamaan.

Tidak ada doa atau upacara keagamaan lainnya yang berlangsung dalam agama Yahudi yang dapat dilaksanakan sendiri oleh para pemeluk, baik di rumah atau di tempat peribadatan lain, melainkan harus datang ke Rumah Suci di Jerusalem dan mempersembahkan kurban kepada para pendeta.

Baca lanjutannya: Kisah Penemuan Naskah Laut Mati yang Misterius (Bagian 2)

Related

Mistery 7899104610695400263

Recent

item