Pompeii, Kisah Bencana Dahsyat yang Mengakhiri Segalanya

Pompeii, Kisah Bencana Dahsyat yang Mengakhiri Segalanya

Naviri Magazine - Di hari-hari sekitar bencana Gunung Kelud dan Sinabung, film Pompeii hadir di bioskop. Mungkin oleh karena itu pada hari pertama pemutaran, Pompeii tergolong cukup banyak mengundang penonton. Kota Pompeii dalam film ini luluh lantak oleh letusan Gunung Vesuvius.

Film arahan sutradara Paul WS Anderson ini bisa digolongkan sinema bencana (disaster movie). Kalau boleh menyebut subgenre, mungkin itu sinema gunung meletus. Ada sederet film sejenis, termasuk Dante’s Peak (1997) dan Volcanoes (1997). Yang lebih tua ada Devil’s at 4 O’Clock (1961) dan Krakatoa, East of Java (1969).

Pada film-film tersebut, letusan gunung menjadi titik sentral cerita dan pesona utama. Pompeii sedikit berbeda. Letusan Gunung Vesuvius hanya menjadi gong, dan pemuncak cerita. Bencana menjadi penutup segala-galanya. Termasuk seluruh adegan dan tokoh-tokohnya. Bahkan seisi layar tertutup asap letusan hitam sebagai penanda film berakhir.

Kisah berlatar zaman Kekaisaran Romawi tahun 79 Sebelum Masehi, ketika manusia diperbudak manusia lain. Milo (Kit Harington) melihat keluarganya dibantai Senator Corvus (Kiefer Sutherland). Ketika dewasa, Milo menjadi budak yang dipekerjakan sebagai gladiator di kota Pompeii.

Dalam siklus hidupnya sebagai gladiator, ia bertemu kembali dengan para pembantai keluarganya. Ia menuntut balas. Bersamaan dengan itu, Gunung Vesuvius meletus.

Dramatika

Dengan teknologi grafis komputer, bencana dahsyat seperti gunung meletus bisa dibuat lebih nyata. Lebih ekstrem dari realitas—untuk tidak mengatakan berlebihan. Materi vulkanik berupa lava pijar, awan panas yang bergulung-gulung membakar apa saja, digambarkan begitu hidup, mencekam. Batu yang merah membara menjatuhi rumah dan kepala manusia. Ada pula tsunami dengan ombak merangsek masuk kota.

Bencana itu disuguhkan sebagai pemandangan atau tontonan. Amukan bencana mungkin bisa menarik mata. Tapi, di Pompeii, ia hanya berhenti sebagai tontonan. Bencana itu terkesan berdiri sendiri sebagai bencana. Ia terkesan kurang menyatu dengan seluruh dramatika yang dibangun sejak awal film. Terutama dramatika cinta antara budak dan putri bangsawan.

Atau juga kisah politisi busuk, yaitu Senator Corvus, yang membohongi rakyatnya. Dalam hal ini, peran Kiefer Sutherland mampu menghidupkan kebusukan tokoh Senator Corvus. Ada kisah pula kepahlawanan budak, dan kepengecutan pejabat. Segalanya diakhiri dengan bencana.

Related

World's Fact 2883390432225897622
item