Kisah Nabi Daud (3): Datangnya Wabah dan Asal Usul Baitul Maqdis

Kisah Nabi Daud (3): Datangnya Wabah dan Asal Usul Baitul Maqdis

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Nabi Daud 2: Menjadi Raja dan Petarung Tak Terkalahkan). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Para Nabi adalah manusia yang menjadi contoh teladan umat. Jika ia melakukan kesalahan, maka Allah segera memperingatkannya untuk meluruskan kesalahannya. Demikian pula dengan Nabi Daud.

Ia memiliki istri 99 orang. Ketika itu memang tidak ada pembatasan jumlah istri yang boleh dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang lelaki biasa untuk memiliki banyak istri, terlebih lagi seorang raja.

Nabi Daud ingin menggenapkan istrinya menjadi 100 orang. Pada suatu hari, datanglah dua orang lelaki, mengadu kepada Nabi Daud. Seorang di antara mereka berkata, "Saudaraku ini memiliki kambing 99 ekor, sedang aku hanya memiliki seekor, tetapi ia menuntut dan mendesakku agar menyerahkan kambingku yang seekor itu kepadanya, supaya jumlah kambingnya genap 100 ekor. Ia membawa berbagai alasan yang tak bisa kubantah karena aku tak pandai berdebat."

Nabi Daud lalu bertanya pada lelaki yang satu lagi, "Benarkah ucapan saudaramu itu?"

"Benar," jawab lelaki itu.

Berkatalah Daud dengan marah, "Jika demikian halnya, maka saudaramu telah berbuat zalim. Aku tidak akan membiarkanmu meneruskan perbuatanmu yang semena-mena itu, atau engkau akan mendapat hukuman pukulan pada wajah dan hidungmu!"

"Hai Daud!" kata lelaki itu, "sebenarnya engkaulah yang pantas mendapat hukuman yang kau ancamkan kepadaku. Bukankah engkau telah mempunyai 99 istri? Tetapi mengapa kau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah bertunangan dengan pemuda yang menjadi tentaramu sendiri? Padahal pemuda itu sangat setia dan berbakti kepadamu."

Nabi Daud tercengang mendengar ucapan yang tegas dan berani dari lelaki itu. Ia berpikir keras, siapakah sesungguhnya kedua orang ini? Tetapi tiba-tiba kedua pria itu sudah lenyap dari pandangannya. Tahulah Nabi Daud bahwa ia telah diperingatkan Allah melalui malaikat-Nya. Ia segera bertaubat memohon ampun kepada Allah, dan Allah menerima taubatnya.

Pelanggaran terhadap Hari Sabath

Suatu ketika, rakyat Nabi Daud AS bersepakat untuk melanggar ketentuan yang menyatakan hari Sabtu (Sabath) sebagai hari besar untuk Bani Israil, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Musa AS.

Hari Sabat dikhususkan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT, menyucikan hati dan pikiran dengan berzikir dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya, serta memperbanyak amal, dan diharamkan melakukan kesibukan-kesibukan yang bersifat duniawi.

Penduduk desa Ailat di tepi Laut Merah juga mematuhi perintah itu. Pada hari Sabtu, mereka tidak menangkap ikan, tetapi pada hari Sabtu justru ikan-ikan di laut banyak menampakkan diri. Akhirnya, penduduk Ailat tidak dapat menahan diri untuk melanggar larangan hari Sabtu. Hari Sabtu itu mereka gunakan untuk mengumpulkan ikan.

Azab Allah SWT pun turun kepada mereka. Wajah mereka diubah menjadi wajah yang amat buruk, kemudian terjadi gempa bumi yang dahsyat. Kisah ini diriwayatkan dalam surat Al-A'râf: 163-166.

Asal-usul Baitul Maqdis

Pada suatu hari, berjangkit penyakit kolera di wilayah kerajaan yang dikuasai Nabi Daud AS. Banyak rakyat yang mati karena penyakit ini. Nabi Daud kemudian berdoa kepada Allah, agar menghilangkan wabah, dan hilanglah penyakit itu.

Untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah, Nabi Daud mengajak putranya, Sulaiman, untuk membangun tempat suci, yaitu Baitul Maqdis, yang sekarang kita kenal sebagai Masjidil Aqsha di Yerusalem, Palestina. Tempat inilah yang menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Ka'bah.

Related

Moslem World 3052965222630402234

Recent

item