Diam-diam, Polusi Udara Kurangi Harapan Hidup Manusia hingga 2 Tahun

Diam-diam, Polusi Udara Kurangi Harapan Hidup Manusia hingga 2 Tahun, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Para ilmuwan di berbagai belahan dunia sedang berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin dan obat untuk mengendalikan berbagai penyakit, terutama yang sedang mewabah, virus corona. Di sisi lain, ada masalah lain yang lebih berbahaya untuk kesehatan, yaitu polusi udara.

Berdasarkan penelitian terbaru, risiko kesehatan yang paling berbahaya berkaitan dengan kualitas udara. Hal itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh para ilmuwan yang tergabung dalam Indeks Hidup Kualitas Udara (AQLI).

AQLI melaporkan bahwa polusi udara dapat mengurangi harapan hidup manusia di dunia hingga hanpir 2 tahun. Hal ini berkaitan dengan pedoman WHO terkait peningkatan harapan hidup dengan memerhatikan tingkat paparan yang aman, standar kualitas udara nasional yang ada, atau tingkat kualitas udara.

Polusi udara sendiri memang sudah menjadi penyebab penurunan harapan hidup manusia selama dua dekade terakhir. Partikula polusi memiliki dampak yang paling buruk dibandingkan dengan virus dan penyakit menular seperti TBC, HIV/Aids, merokok bahkan perang. 

Indeks mengonversi polusi udara partikulat (sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil) menjadi dampak terhadap kesehatan manusia. Ditemukan bahwa China pernah menjadi negara dengan udara yang paling tercemar di dunia, meski sekarang cukup membaik.

Seperempat populasi global tinggal di empat negara Asia yang punya tingkatan polusi tertinggi yakni di Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Polusi di India dan Bangladesh amat parah hingga mengurangi rata-rata rentang hidup warganya, bahkan hingga hampir 5 tahun.

Selain itu, polusi udara partikulat merupakan masalah besar di seluruh Asia Tenggara, di mana risiko kebakaran hutan berpadu dengan padatnya lalu lintas dan uap dari pembangkit listrik. Sekitar 89 persen dari 650 juta penduduk di kawasan itu, seperti Jakarta, Singapura, Ho Chi Minh dan Bangkok, terpapar polusi udara yang berlebihan.

Di sisi lain, ada beberapa negara di Eropa, serta Amerika Serikat, dan Jepang, berhasil meningkatkan kualitas udara. Meski begitu, secara umum AQLI memprediksi polusi udara menjadi salah satu penyebab pengrangan harapan hidup rata-rata warga bumi.

AQLI memproyeksikan populasi yang terpapar tingkat polusi 44 persen lebih tinggi dari 20 tahun lalu, rata-rata mengalami pengurangan harapan hidup sebanyak lima tahun. Pendiri AQLI, Michael Greenstone, menekankan pentingnya masalah tersebut.

"Meskipun ancaman corona sangat serius dan patut mendapat perhatian, menyikapi polusi udara dengan keseriusan yang sama akan memungkinkan miliaran orang hidup lebih lama dan lebih sehat," kata Greenstone dikutip Science Alert.

Greenstone mengutip beberapa penelitian yang telah menunjukkan kaitan polusi udara dengan corona. Pencemaran udara juga menjadi salah satu faktor risiko utama dari COVID-19.

Dia mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan perbaikan kualitas udara setelah pandemi. Dia mengatakan tidak ada cara yang lebih efektif guna mengurangi polusi udara selain solusi kebijakan publik yang kuat.

Related

Science 9143720056489282973

Recent

item