Kiat Cari Untung Investasi Setelah Emas Antam Tembus Rp 1 Juta

Kiat Cari Untung Investasi Setelah Emas Antam Tembus Rp 1 Juta, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam tembus Rp1 juta per gram pada pekan lalu. Level itu merupakan harga tertinggi emas Antam sepanjang masa.

Harga emas Antam tersebut seiring sejalan dengan emas dunia yang semakin menguat  ke level US$1.973,71 per troy ons pekan lalu. 

Kenaikan terjadi karena penyebaran virus corona. Virus telah mendorong pasar mengalihkan dana investasinya ke aset emas, salah satunya emas.

Perlukah Anda mengikuti aksi pasar tersebut? Lalu bagaimana Anda harus menempatkan dana pada emas supaya investasi yang dilakukan tetap menguntungkan?

Berikut ini, tip dari perencana keuangan.

Jangka waktu panjang

Perencana Keuangan dari Finansial Consulting Eko Endarto mengatakan tidak ada salahnya untuk mulai investasi emas saat ini. Namun, jika ingin berinvestasi emas saat ini sebaiknya untuk tujuan jangka menengah hingga panjang.

"Kalau tujuannya untuk mendapatkan keuntungan cepat, ini bukan waktunya karena harganya sudah cukup tinggi," ujarnya.

Sebagai gambaran, jangka waktu pendek adalah investasi di bawah satu tahun atau di bawahnya. Lalu, lebih dari satu tahun berarti jangka menengah, sedangkan di atas lima tahun adalah investasi jangka panjang.

Membeli bertahap

Eko menyarankan untuk membeli emas secara bertahap. Sejalan dengan itu, investor tetap harus memperhatikan pergerakan harga logam mulia. Ketika harganya turun, investor bisa kembali menambah kepemilikan emasnya.

"Sisanya, simpan dulu uangnya tunai, ketika mulai turun masukan kembali sedikit lagi secara periodik," imbuhnya.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menambahkan investor sebaiknya tidak mencicil pembelian emas melalui toko online. Jika investor memiliki modal investasi dalam jumlah besar, sebaiknya langsung membeli emas dalam ukuran gram secara tunai.

"Jumlahnya sedikit atau banyak itu bergantung dari uang menganggur yang dimiliki," ujarnya.

Prediksi harga emas

Emas merupakan aset safe haven atau aman karena mempunyai tingkat risiko rendah. Sebagai aset safe haven, Eko menuturkan harga emas cenderung naik ketika terjadi ketidakpastian global.

Dalam konteks saat ini, terjadi ketidakpastian global akibat pandemi Covid-19. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa memprediksi kapan virus ini akan berakhir, sehingga menimbulkan ketidakpastian.

"Kita tidak tahu emas akan naik lagi atau tidak, tapi dengan kondisi seperti ini ada kemungkinan emas akan naik lagi," ucapnya.

Selain itu, harga emas juga berpotensi naik apabila terjadi guncangan ekonomi. Pasalnya, investor memburu aset aman untuk melindungi investasinya.

Jika melihat gambaran ekonomi global maupun domestik saat ini, sudah bukan rahasia lagi jika pandemi menekan pertumbuhan ekonomi hampir semua negara.

Bahkan, beberapa negara sudah masuk jurang resesi. Indonesia sendiri, diprediksi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani akan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 di rentang minus 3,54 persen hingga 5,08 persen dengan titik tengah 4,3 persen.

"Kalau kuartal II besok krisis, emas akan naik lagi," katanya.

Andy menambahkan layaknya instrumen investasi lainnya, harga emas berpotensi naik juga turun. Namun, penurunan emas tidak tajam dibandingkan dengan aset berisiko.

"Apakah kemudian harganya akan naik, iya. Apakah kemungkinan harga turun, iya. Hanya saja sebagai lindung nilai mata uang, logam mulia mulai menarik," katanya.

Pilihan instrumen lain

Emas bukanlah satu-satunya instrumen investasi. Pilihan instrumen investasi ini, kata Andy disesuaikan dengan profil risiko investor.

Untuk mereka yang cenderung memilih risiko rendah atau konservatif instrumen yang disarankan menempatkan modalnya pada Surat Berharga Negara (SBN). Pasalnya, SBN memiliki underlying investasi (aset dasar) dijamin negara.

Toh, saat ini pemerintah menawarkan SBN ritel mulai Rp1 juta sehingga terjangkau.

Untuk pilihan lebih moderat atau risiko sedang, maka pilihan investasinya adalah reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap.

Kedua jenis reksa dana itu modalnya ditempatkan pada pada instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan obligasi yang jatuh tempo di bawah satu tahun.

Sedangkan untuk investor dengan kecenderungan risiko tinggi, ia menyarankan penempatan dana di reksa dana saham maupun investasi langsung kepada saham.

Related

Tips 7912698243068384633

Recent

item