Kisah Tan Malaka dan Fakta Sejarah di Balik Kematiannya (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Tan Malaka dan Fakta Sejarah di Balik Kematiannya - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Namun, para pemimpin Republik, baik sipil maupun militer, telah memunggungi alternatif ini. Mereka merasa perlu (demi pelbagai alasan politik dalam dan luar negeri) untuk menuliskan suatu akhir tentang perjuangan itu. Tujuan ini paling mudah tercapai dengan menghancurkan nama baik dan kredibilitas Tan Malaka.

Apa saja akibat jangka panjang dari kegagalan Peristiwa 3 Juli 1946? Menurut Anderson, peristiwa itu mengakibatkan perubahan penting dalam pembagian kue kekuasaan dan kewenangan di kalangan kepemimpinan Republik. 

Di satu pihak, kedudukan Sudirman dan komando tinggi tentara jelas menjadi lemah. Timbul demoralisasi dahsyat di kalangan militer, dan Divisi III benar-benar menjadi berantakan. Baru tiga bulan kemudian seorang panglima anyar berhasil dilantik. Bahkan pada waktu itu Sudirman terpaksa menerima calon dari perwira-perwira bawahan setelah calonnya sendiri ditolak secara memalukan.

Di sisi lain, masih menurut Anderson, peranan pemimpin partai-partai politik dalam peristiwa itu juga kurang dapat dibanggakan. Memang pemerintahan gaya parlementer akhirnya dipulihkan pada 2 Oktober seiring dilantiknya kabinet Sjahrir ke-III. Kabinet ini adalah versi yang lebih luas sekaligus lebih kaku jalannya tinimbang yang ke-II, namun jelas wibawa dan wewenangnya lebih rendah daripada yang sebelumnya.

Sukarno adalah satu-satunya tokoh yang muncul dari krisis itu—dan dengan kekuasaan bertambah. Bila sebagian besar anggota Kabinet Bucho menghilang ke penjara pasca-3 Juli, pemimpin pemerintahan Republik yang perdana itu justru menjalankan peran yang lebih sentral tinimbang sebelumnya. 

Krisis itu telah memperlihatkan, bahwa Sukarno satu-satunya orang yang mampu menarik dukungan dari semua golongan. Masa pemerintahan presidensial itu, meskipun hanya sebentar–dari Juli sampai September–merampungkan rehabilitasi politiknya dan menciptakan preseden kuat untuk masa mendatang: kapan pun negara dalam keadaan genting karena ancaman dari dalam atau luar, Bung Karno—dengan ekspresi spirit nasionalisme Indonesianya yang tak tertandingi—menjadi tempat mengadu.

Selain itu, pembungkaman Tan Malaka telah mengakhiri setiap harapan yang pernah ada, bahwa Indonesia akan memilih jalan perjuangan ketimbang jalan diplomasi. Kemungkinan bahwa jalan perjuangan akan ditempuh barangkali senantiasa kecil, mengingat sifat kepemimpinan politik Indonesia kala itu, termasuk latar sosial dan orientasi politiknya, ditambah pengalaman sejarahnya. 

Akan tetapi, setelah Juli bahkan kemungkinan yang tipis ini pun lenyap. Pada bulan-bulan berikutnya pasukan Belanda semakin bertambah di Nusantara. 

Dipadu dengan kecerkasan manuver politik Hubertus Johannes van Mook yang mengerahkan kelompok-kelompok dari luar Jawa untuk menentang Republik, penambahan jumlah militer ini memperkuat daya tawar Belanda untuk memaksa para pemimpin Republik memberikan konsesi-konsesi yang semakin besar. Puncaknya adalah Perjanjian Renville pada Januari 1948.

Alfian, dalam esai “Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian” (Abdullah, dkk.: 1978: 131-173), meneroka bahwa gerakan pemuda sebagai kekuatan politik adalah aspek paling menonjol pada awal Revolusi Indonesia. Di punggung pemudalah Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin pertama-tama berkuasa, dengan janji kemerdekaan yang selama ini dingkari zaman Belanda dan Jepang. 

Akan tetapi, janji itu lekas terbawa angin. Persekutuan pemuda dan pemerintah tampaknya dihasilkan oleh kesalahpahaman masing-masing. Semakin lama kabinet-kabinet Sjahrir berkuasa, semakin besar kekecewaan dalam barisan pemuda itu, kecuali di kalangan segelintir pemuda berpendidikan tinggi yang menemukan dalam diri Sjahrir suatu model untuk diri mereka sendiri, serta dalam harapan pribadi Sjahrir perihal terbentuknya masyarakat demokratis liberal ala Barat, suatu pegangan batin yang bisa mereka terima.

Menurut Rudolf Mrazek dalam “Tan Malaka: A Political Personality’s Structure of Experience,” Indonesia, (Oktober 1972: 1-48), sebagian besar juga karena dukungan pemudalah, Persatuan Perdjoengan menemukan daya dorongnya yang pertama. Selama masa yang singkat, Tan Malaka hadir menawarkan suatu kemerdekaan yang dekat dengan hati pemuda. 

Namun setelah bertahun-tahun mengembara seorang diri, dan tak mempunyai kader-kader yang militan dan cakap, tokoh kamitua itu tidak mampu melindungi diri dan menjadi korban persaingan antar elite, serta pertentangan antara pemimpin pemerintah dan tentara. 

Walaupun secara naluriah dia memiliki hubungan dengan pemuda, dan sifat pandangan Tan Malaka sesuai dengan pandangan mereka, tugas membangun barisan nasional nan radikal dan terpadu, yang dimotori oleh gerakan pemuda, rupanya betul-betul berada di luar kemampuannya. Pada Juli 1946, janji Moeslihat tidak kurang ilusifnya tinimbang janji Perdjoeangan Kita.

Bukan berarti pemuda menolak organisasi dan kepemimpinan, tapi bahwa organisasi dan kepemimpinan yang diterapkan haruslah berakar dalam tradisi pemuda. Dalam pelbagai cara yang berbeda, pondok pesantren dan asrama telah menawarkan cara hidup yang berdisiplin dan tanpa pamrih dalam upaya menggapai tujuan-tujuan yang luhur. 

Dari lembaga-lembaga ini banyak gerakan pemuda memperoleh gaya dan simbol yang khas. Akan tetapi, gaya dan simbolisme dalam diri mereka tidak cukup untuk menyalurkan arus pasang pemuda menjadi suatu kekuatan revolusioner yang terpadu (Anderson 2018: 476-7). 

Tentara dan badan perjuangan itu sendiri tidak cukup memadai; dan dengan kegagalan untuk menempa mereka ke dalam suatu struktur nasional yang terpadu, gerakan pemuda ditakdirkan untuk terus masygul. Oleh sebab itu, Revolusi tidak pernah menjadi lebih dari suatu “revolusi nasional”; ia berakhir pada 1949, tatkala Belanda menyerahkan kedaulatan sah atas hampir seluruh kepulauan Nusantara ke tangan Republik.

Seumur hidupnya yang dibaktikan untuk Indonesia, Tan Malaka hanya punya satu setel pakaian, buku tulis, helm, dan topi. Pemikiran revolusioner Tan Malaka melampaui zaman. 

Related

Indonesia 7174137498542250153

Recent

item