Panduan Lengkap untuk Mengenal dan Memahami Musik Metallica (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Panduan Lengkap untuk Mengenal dan Memahami Musik Metallica - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sisi Ballad Metallica

Beberapa tahun sebelum Metallica jadi band paling penting dalam kancah heavy metal, satu-satunya cara agar band metal bisa diterima oleh radio mainstream dan televisi kabel adalah dengan menggubah lagu-lagu ballad. Cinderella, Poison, Skid Row, Warrant, Whitesnake—semua band ini masuk chart dan laris diputar lagunya gara-gara bikin lagu ballad yang dilengkapi solo gitar virtuoso. 

Metallica—yang jelas-jelas berseberangan dengan band-band hair metal ini—ternyata juga pernah mengikuti formula yang sama. Kurang ballad apalagi coba (beberapa part) lagu-lagu macam “One” dan “Welcome Home (Sanitarium)”? 

Tapi namanya juga Metallica, dua lagu ini bukan lagu tentang patah hati. Keduanya tentang ketakutan personal yang begitu gelap. Cuma, kalau ngomong sisi ballad Metallica, tak ada yang pantas disandingkan dengan “Nothing Else Matters,” lagu paling bermakna sekaligus paling dikenal dari seluruh diskografi Metallica. 

Lagu ini membuktikan bahwa lirik-lirik yang kelam bisa dibungkus menjadi lagu ballad yang megah. Syahdan, lagu itu dan track setelahnya “Hero Of The Day” berhasil melunturkan stigma bahwa ballad adalah akal-akalan anak hair metal biar albumnya laku. 

Berkat dua lagu itu pula, kita bisa menyimpulkan bahwa Metallica punya andil dalam perkembangan lagu ballad gelap. Tanpa ballad gelap ala Metallica, kita sepertinya harus membayangkan musik metal tanpa ballad-ballad megah di album-album band seperti Tool atau Mastodon.

Sisi Rock N Roll Metallica

Kalau kalian pernah penasaran band-band apa saja yang didengarkan oleh Hammett, Hetfield, dan Ulrich saat remaja, geber saja album Garage Inc (1998). 

Berisi lagu-lagu cover yang direkam Metallica di dekade ‘80 dan ‘90-an, double album ini adalah sebentuk penghormatan personil Metallica pada musisi yang pernah mereka puja dari Black Sabbath, Budgie, Diamond Head, dan Bob Seger, hingga band-band punk layaknya Discharge dan The Misfits.

Beberapa tahun sebelum Garage Inc dirilis, sisi rock ‘n’ roll Metallica sebenarnya pernah muncul di beberapa lagu. “2 X 4” dari album Load misalnya punya cita rasa roadhouse yang kuat. Track lainnya, Fuel, sejatinya adalah lagu blues yang dimainkan dengan sangat kencang. 

Track-track kurang terkenal seperti “Prince Charming” dari album Reload dan “Sweet Amber” dari album St. Anger lebih kedengaran seperti masa awal Queens Of The Stone Age daripada album-album awal Megadeth. 

Bahkan, jiwa rock ‘n’ roll Hetfield cs juga sempat nongol di Hardwired, di tengah-tengah album yang diniatkan kembali ke khitah Metallica sebagai band thrash metal, band berusia 36 tahun ini memainkan “Now That We’re Dead,” lagu sepanjang tujuh menit yang terdengar seperti outtake album British Steel-nya Judas Priest.

Sisi Eksperimental Metallica

Bagi mereka yang kenal Metallica lewat satu atau dua lagi saja (biasanya Enter Sandman dan Nothing Else Matters), Metallica adalah band yang kurang nyeni dan berbudaya. Ini jelas-jelas anggapan yang tak berdasar. 

Bahkan ketika personelnya masih rajin pakai vest denim, Metallica kerap menutup konsernya dengan komposisi Ennio Morricone “The Ecstasy of Gold,” yang diambil dari score film spaghetti western legendaris karya Sergio Leone, The Good, The Bad And The Ugly. 

Begitu pun ketika mereka jadi komersil di album Load / Reload, Metallica bekerja sama dengan seniman Anton Corbijn untuk menggarap video klip single-single di dua album, dan Andres Serrano guna mendesain sampul album mereka. Lantas, Kalau ukuran nyeni sebuah adalah luasnya referensi, maka Metallica adalah band yang nyeni dan eksperimental abis. 

Buktinya, mereka mengcover lagu Nick Cave And The Bad Seeds segigih mereka memainkan ulang lagu-lagu The Misfits. Lalu, kalau sebuah band baru dibilang berbudaya lantaran bikin karya dengan rocker yang artsy, maka ketahuilah kalau Metallica pernah kerja bareng dnegan Marianne Faithfull dan Lou Reed. Plus, jangan lupa, Metallica adalah satu-satu band thrash metal yang meliris album live bersama iringan San Francisco Symphony pada 1999. 

Intinya, Metallica bukan band yang kerjaanya bikin riff-riff cepat yang njelimet. Reintepretasi orkestra lagu-lagu Metallica di album S&M di atas kertas jadi album yang jelek. Nyatanya, album itu malah berhasil menguatkan kemegahan sinematik lagu-lagu seperti “For Whom The Bell Tolls” dan “Of Wolf And Man”. 

Beberapa materi di Death Magnetic punya durasi di atas tujuh menit, tapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan “Junior Dad,” lagu pembuka album kolaborasi Metallica dan Lou Reed, Lulu. 

“Junior Dad” adalah lagu terpanjang Metallica. Durasinya nyaris 20 menit lengkap dengan nuansa post-rock yang epik dan puisi Lou Reed di sana-sini. Pada lagu-lagu inilah, kita menemukan bahwa Metallica adalah band yang nyeni.

Related

Music 7670443545128389223

Recent

item