Toxic Parents: Ketika Orang Tua Tidak Sadar Saat Merusak Anaknya Sendiri


Naviri Magazine - Tanggung jawab yang diletakkan di pundak orangtua untuk membesarkan anak kerap memberi mereka hak untuk mengarahkan si anak sesuai kehendak mereka. Tidak semua orangtua membimbing anak dengan mempertimbangkan apa yang diinginkan atau dibutuhkan si anak sendiri. Sebagian dari mereka meletakkan keinginan mereka sendiri di atas kepentingan si anak atas nama "kebaikan untuk anak".

Sikap mengkritik tanpa henti, mengancam, dan kerap mengucapkan hal-hal buruk tentang anak merupakan ciri pertama orangtua "beracun". Berapa kali pun anak mencetak prestasi, setinggi apa pun capaiannya, tidak ada apresiasi yang keluar dari orangtua macam itu, selama tidak sesuai dengan keinginan mereka. Giliran si anak melakukan kesalahan, hujan cemooh dan hukuman dari orangtua yang menanti dirinya.

Di sisi lain, sikap terlalu memanjakan dan selalu mengikuti kemauan anak juga bisa merusak anak. Ketiadaan batasan yang ditunjukkan dalam pola pengasuhan orangtua membuat anak merasa di konteks lain pun, ia patut menjadi pusat perhatian, terpenuhi setiap kemauannya, bahkan berpikir superior dibanding orang-orang sekitarnya.

Berikutnya, tanda orangtua beracun terlihat dari diri mereka yang sulit sekali atau bahkan tidak bisa menerima kondisi atau keputusan anaknya. 

Dimuat The New York Times, psikiater Richard Friedman bercerita, suatu hari salah seorang pasiennya yang berusia 20-an datang dalam kondisi depresi. Setelah menggali pengalaman si pasien, Friedman mengetahui bahwa salah satu pemicu gangguan psikis pasiennya itu adalah penolakan dari orangtuanya setelah ia mengaku gay.

“Pada suatu makan malam [setelah pengakuan si pasien], ayahnya mengatakan kepada dia bahwa lebih baik kalau dia saja yang meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu daripada saudaranya,” tulis Friedman.

Orangtua yang sering mengabaikan anak pun tergolong orangtua beracun. Pengabaian dapat terjadi karena kesibukan kerja, tekanan dalam proses pengasuhan, masalah keuangan, atau hal lainnya. Alasan apa pun yang mendasari hal tersebut, kebutuhan emosional anak tidak akan tercukupi sehingga berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya kelak.

Sikap beracun yang ditunjukkan orangtua dapat berhubungan dengan aneka faktor, satu di antaranya adalah nilai-nilai budaya yang dipegang dalam keluarga, misalnya terkait peran gender, pola pengasuhan, serta pembagian hak bagi setiap anggota keluarga. Faktor lainnya adalah pengulangan sikap beracun yang pernah diterima si orangtua dari ibu-bapaknya sendiri.

Related

Psychology 7026917319582234322

Recent

item