Kisah Kelahiran dan Kepunahan Kaset yang Pernah Mengubah Wajah Dunia (Bagian 1)


Naviri Magazine - Lou Ottens, teknisi asal Belanda penemu kaset, lahir pada 21 Juni 1926. Ottens remaja menunjukkan kecintaannya pada dunia teknologi, misalnya, dengan membuat receiver (penerima sinyal) radio dari Radio Oranje, stasiun radio pro-demokrasi yang dibatasi ruang geraknya oleh Nazi saat Jerman mengokupasi Belanda. 

Ottens menyebut receiver ciptaannya itu sebagai "Germanenfilter" karena dapat lolos dari signal jammers (alat pengacakan sinyal) milik Nazi.

Usai meraih gelar sarjana di bidang teknik, Ottens bekerja untuk Philips sejak 1952. Delapan tahun berselang, ia dipromosikan menjadi kepala departemen pengembangan produk. Saat mengepalai divisi riset Philips, Ottens melahirkan EL 3585, alat perekam portabel yang sukses besar di pasaran. Menurut Daniel Boffey untuk The Guardian, EL 3585 terjual lebih dari satu juta unit.

Melalui tangan gesitnya, Ottens juga turut serta dalam pengembangan compact disk (CD). Namun, karya yang menjadikan Ottens didaulat sebagai legenda adalah kaset (cassette), modifikasi/penyempurnaan dari reel-to-reel audio tape (kumparan pita magnetik perekam audio) yang, menurut Ottens sendiri, membuatnya "kesal."

Bagi Ottens, pita magnetik perekam suara seharusnya berukuran kecil dan muat di kantong celana. Pada 1963, tatkala ia memperkenalkan kaset ke dunia, Ottens menyebut ciptaannya tersebut "jauh lebih kecil dibandingkan bungkus rokok".

Melalui kongsi Philips-Sony, kaset pun merevolusi dunia dan menjadi medium paling populer bagi musisi di berbagai belahan dunia untuk memperdengarkan karya-karya mereka ke masyarakat. 

Kaset juga kian menggurita sejak Sony memperkenalkan Walkman—alat pemutar kaset yang membuat Ottens sakit hati karena alat ini dibuat oleh Sony, bukan Philips. Jika EL 3585 terjual lebih dari satu juta unit, konon kaset terjual lebih dari 100 miliar unit.

Yang menarik (dan tak dikira Ottens), meskipun kaset dianggap merevolusi dunia musik, benda ini pun susungguhnya punya peran besar dalam kesuksesan Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Iran, sebuah revolusi yang tercatat mengubah dunia Islam.

Kaset Sebagai Alat Dakwah

"Ayatollah Khomeini yang berusia 75 tahun itu terusir dari Iran selama 14 tahun gara-gara kritiknya pada Shah Reza Pahlavi," tutur Ethan Zuckerman dalam buku berjudul Rewire: Digital Cosmopolitans in the Age of Connection (2013). "Namun, tatkala terusir itu, pemerintah Iran tak dapat membungkam mulutnya, membungkam ceramah-ceramah anti-Shah yang ia gaungkan."

Dalam pengasingannya di Irak sejak 1977, hampir setiap hari pada pukul 10 malam, Khomeini menyampaikan ceramah anti-Shah kepada warga Iran yang berkunjung ke Irak—dalam rangka kunjungan suci umat Syiah ke makam Imam Ali. Sebelum orang-orang Iran ini pulang ke negaranya, Khomeini memberikan mereka oleh-oleh: kaset rekaman ceramahnya.

Farid M.S Al-Salim, dalam studi berjudul "Tracing the Role of Technology in Iranian Politics: From the Islamic Revolution of 1979 to the Presidential Election of 2009" (terbit dalam jurnal IOSR-JHSS vol. 21 2016) menyebut konten-konten dalam "kaset Khomeini" umumnya berisi "kebutuhan" warga Iran. 

Khomeini selalu menegaskan bahwa kesulitan hidup yang dialami rakyat Iran disebabkan oleh kesalahan pemerintahan Shah Pahlevi. Tatkala bioskop Rex Cinema di berada di kota Abanda terbakar dan menewaskan ratusan orang, misalnya, Khomeini—dalam kaset ceramahnya yang direkam pada 21 Agustus 1978—menyatakan musibah itu terjadi karena "tindakan tidak manusiawi Shah yang menjauhi syariat Islam."

Selain berisi "kebutuhan", kaset Khomeini juga berisi propaganda ketakutan dan teori konspirasi bahwa Shah mendukung "Yahudi dan orang-orang penyembah sembarang Tuhan yang berusaha untuk menghina dan menaklukkan Iran". 

Banyak yang menganggapnya serius, tapi juga ada yang menilainya sekadar lelucon. Amir Taheri, editor koran Kahyan yang pro-Shah, merasa isi rekaman tersebut lebih mirip "guyonan" Khomeini alih-alih pembakar semangat massa untuk menggulingkan Shah Pahlevi.

Sialnya, fakta berkata lain. Kaset rekaman itu bukan guyonan dan memang berasal dari mulut Khomeini. SAVAK, polisi rahasia Iran yang terkenal kejam, memprediksi lebih dari 100.000 kaset rekaman Khomeini tersebar di seluruh penjuru Iran pada 1978. Kaset-kaset itu didistribusikan dengan label "Sokhanrani Mahzabi".

Pemerintah Shah Pahlevi sendiri berniat menghancurkan dan membendung penyebaran kaset Sokhanrani Mahzabi. Namun, karena didesak Presiden Jimmy Carter, niat itu tak pernah dilakukan. Shah Pahlevi, melalui anak buahnya, yakni Menteri Infomasi Iran bernama Daryoush Homayoun, akhirnya memilih melawan kaset-kaset rekaman Khomeini melalui media pro-pemerintah. 

Baca lanjutannya: Kisah Kelahiran dan Kepunahan Kaset yang Pernah Mengubah Wajah Dunia (Bagian 2)

Related

Technology 3247477899418077032

Recent

item