Ini 10 Mitos Keliru dalam Psikologi yang Paling Terkenal di Dunia (Bagian 1)


Naviri Magazine - Sebuah buku baru karya Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, dan Barry L. Beyerstein (Wiley-Blackwell) mengungkapkan 50 mitos psikologi. Mereka semua adalah profesor di bidang psikologi. 

Selain 50 mitos dipaparkan dengan begitu banyak referensi ilmiah (setidaknya 74 referensi), juga diberi sekitar 250 mitos psikologi minor. Secara umum, mitos ini muncul akibat kebudayaan populer, kehidupan sehari-hari, dan lebih jauh lagi faktor-faktor sosiologi dan psikologi itu sendiri. Menurut Lilienfeld et al, inilah 10 mitos terbesarnya.

Mitos Pertama: Kita Hanya Menggunakan 10% Otak Kita

Ini jelas keliru. Otak bekerja secara totalitas sehingga tidak ada bagian otak yang tidak bekerja bagi orang yang normal. Mitos ini berasal dari psikolog William James, satu abad yang lalu. Saat itu ia menulis kalau ia meragukan rata-rata manusia mencapai sekitar 10% potensi intelektualnya. 

Dalam sebuah studi, saat ditanya, “Sekitar berapa persen kekuatan otak potensial manusia yang menurut Anda dipakai sebagian besar orang?” sepertiga mahasiswa psikologi menjawab 10%. 

Dalam waktu lama, para motivator “berpikir positif” memperbesar mitos ini menjadi seolah sebuah fakta. Sebagai contoh, dalam buku How to be Twice as Smart, Scott Witt menulis “Jika Anda seperti orang kebanyakan, berarti Anda hanya memakai sepuluh persen kekuatan otak.” 

Selain itu, terdapat juga daerah korteks diam yang menurut para ahli masa lalu tidak memiliki fungsi, namun sekarang telah terbukti berperan penting untuk bahasa dan berpikir abstrak, dan diganti namanya menjadi korteks asosiasi. 

Masyarakat awam juga mengambil pernyataan ilmuwan kalau mereka belum mengetahui dengan pasti fungsi dari 90% bagian otak, lalu dijadikan seolah fakta bahwa 90% ini berarti tidak berfungsi. 

Akhirnya ada juga yang mengklaim kalau Albert Einstein yang bilang bahwa kecerdasannya hanya berasal dari 10% bagian otaknya. Walau begitu, tidak ada bukti kalau Einstein pernah mengatakan demikian.

Mitos Kedua: Lebih Baik Marah daripada Ditahan

Dalam sebuah survei, 66% mahasiswa percaya kalau lebih baik membiarkan marah itu lepas (katarsis) ketimbang menahannya, karena dapat mengganggu kesehatan. Film Anger Management tahun 2003 juga menyebarkan keyakinan ini dengan menyarankan seorang tokoh memukul bantal atau tas sebagai penyaluran kemarahan. 

Bahkan ada juga psikolog yang menyuruh kliennya berteriak atau melemparkan bola ke dinding saat mereka marah. 

Sayangnya, keyakinan ini sama sekali tidak didukung bukti ilmiah apapun, kalau hal tersebut memang dapat meredakan agresi. Malahan hal tersebut justru akan meningkatkan agresi. Lebih jauh lagi, bermain sepakbola juga dapat meningkatkan agresivitas pemain maupun suporter.

Mitos Ketiga: Penyebab Utama Masalah Kejiwaan adalah Kepercayaan Diri yang Rendah

Mitos ini juga dimunculkan oleh para motivator berpikir positif. Sebuah buku, Self-Esteem Games, memuat 300 aktivitas untuk membantu anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri, seperti mengulang-ulang afirmasi positif yang menekankan keunikan mereka. 

Walau demikian, penelitian menunjukkan kalau kepercayaan diri tidak berhubungan kuat dengan kesehatan mental yang lemah. 

Dalam penelitian komprehensif oleh Roy Baumeister et al yang meninjau lebih dari 15 ribu studi mengenai kepercayaan diri ke segala jenis variabel psikologi, mereka menemukan kalau kepercayaan diri kecil sekali hubungannya dengan kesuksesan hubungan antar manusia, dan tidak berhubungan dengan pasti pada penyalahgunaan obat-obatan. 

Lebih jauh, mereka menemukan kalau kepercayaan diri berhubungan positif dengan prestasi di sekolah, tapi hubungan interaktif ini lebih condong pada prestasi di sekolah. Artinya, pengaruh prestasi sekolah dalam meningkatkan kepercayaan diri lebih kuat daripada pengaruh kepercayaan diri terhadap prestasi di sekolah. 

Fakta yang paling mengesankan adalah kepercayaan diri yang rendah tidak perlu dan tidak cukup untuk menyebabkan depresi.

Mitos Keempat: Ingatan Manusia Bekerja Seperti Kamera Video

Sudah jelas hal ini adalah mitos. Terlalu sering Anda atau orang lain di sekitar Anda lupa akan sesuatu. Tapi 36% orang percaya kalau otak dapat merekam pengalaman secara sempurna layaknya kamera video. 

Hal ini disebabkan terutama kalau seseorang lupa, ia mungkin tidak sadar kalau ia lupa. Pikirannya jadi kreatif dan menambal ingatan yang hilang tersebut dengan ingatan lain yang entah dari peristiwa apa yang masih ia ingat. Ini menunjukkan kalau sifat ingatan bukan reproduktif (menyalin apa yang kita alami) tapi bersifat rekonstruktif (menambal ingatan). 

Para ilmuwan bahkan mampu membuat subjek penelitiannya percaya sepenuh hati kalau sebuah kejadian fiktif yang dibuat ilmuwan benar-benar terjadi.

Mitos Kelima: Hipnotis adalah Kondisi Khusus yang Berbeda dari Kondisi Sadar

Keyakinan ini muncul dari film dan dunia hiburan. Tapi penelitian menunjukkan, orang yang dihipnotis dapat menolak dan bahkan menentang sugesti penghipnotis, terutama dalam melakukan hal-hal yang berlawanan dengan prinsipnya, seperti menyakiti orang yang mereka tidak sukai. 

Orang yang terhipnotis sepenuhnya dalam kondisi sadar. Pindai otak juga tidak menunjukkan adanya pola khusus di otak orang yang dihipnotis. 

Para ilmuwan mampu membuat orang melakukan apa yang dilakukan oleh orang yang dihipnotis tanpa melakukan hipnotis. Dengan kata lain, hipnotis semata merupakan sebuah prosedur di antara banyak prosedur untuk meningkatkan respons seseorang pada sugesti.

Mitos Keenam: Alat Pendeteksi Kebohongan (Poligraf) adalah Alat yang Akurat

Poligraf ditemukan tahun 1920-an oleh psikologi William Moulton Marston. Alat ini pada dasarnya pengukur tekanan darah sistolik, karena percaya kalau saat orang berbohong, tekanan darah sistoliknya meningkat. Mesin ini kemudian disempurnakan dengan menambahkan pengukuran konduktansi kulit dan pernapasan. 

Selain hal ini belum tentu berhubungan, grafik poligraf yang dihasilkan sulit untuk dianalisa hingga sekarang. Ambil contoh, orang yang jujur tapi berkeringat banyak, dapat disangka sedang berbohong. Belum lagi tidak adanya bukti kalau efek Pinokio (reaksi emosi atau fisiologi yang hanya terjadi saat seseorang berbohong) itu ada. 

Satu-satunya yang bisa ditunjukkan poligraf saat seseorang memakainya adalah bukti bahwa orang tersebut tegang atau tidak. Dengan kata lain, poligraf bukan alat pendeteksi kebohongan tapi alat pendeteksi ketegangan. 

Bagi para penjahat berdarah dingin dan psikopat, mereka dapat lolos dengan mudah lewat alat deteksi kebohongan ini. Dan sudah banyak orang yang tidak bersalah dihukum gara-gara mesin poligraf.

Baca lanjutannya: Ini 10 Mitos Keliru dalam Psikologi yang Paling Terkenal di Dunia (Bagian 2)

Related

Science 1739098434984646489

Recent

item