Begini Proses Penambangan Bitcoin hingga Uang Virtual Itu Tercipta di Dunia


Naviri Magazine - Sebagai mata uang virtual, Bitcoin bisa dibilang penemuan yang fenomenal. Ia tidak hanya mempengaruhi jutaan orang di dunia, tapi juga ikut mengubah cara orang dalam menilai uang. 

Sebelumnya, orang hanya mengenal uang konvensional, yaitu mata uang yang dikeluarkan oleh bank yang keberadaannya diakui pemerintah. Di luar itu memang ada benda-benda yang sama bernilai dan dapat digunakan untuk memperoleh uang. Misalnya emas. Tapi benda-benda semacam emas adalah benda-benda yang terlihat, yang dapat dijual atau ditukar dengan sejumlah uang.

Hal semacam itu berubah setelah munculnya Bitcoin. Meski disebut mata uang, Bitcoin tidak terlihat atau tidak memiliki wujud pasti. Meski begitu, orang-orang mengakui keberadaannya, sekaligus mengakui nilainya.

Bitcoin, selayaknya emas, diperoleh melalui dua cara: membeli atau menambang. Cara pertama merupakan yang termudah untuk memperoleh Bitcoin. Orang tinggal mendatangi bursa penjualan Bitcoin ataupun individu-individu pemilik Bitcoin untuk kemudian melakukan proses transaksi jual-beli. Sementara menambang, selayaknya emas, membutuhkan tenaga dan kemampuan tertentu untuk memperolehnya.

Menambang Bitcoin, meskipun sering diidentikkan dengan menambang emas, secara mendasar memiliki cara kerja yang sangat berbeda. Dalam kasus emas, menambang diartikan sebagai proses mengambil emas dari suatu tempat tertentu. Namun, untuk kasus Bitcoin, menambang diartikan sebagai imbalan yang diberikan Bitcoin atas bantuan yang diberikan si penambang. 

Imbalan yang diberikan Bitcoin berhubungan dengan cara kerja mata uang digital itu. Bitcoin, sebagai mata uang digital, memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan mata uang konvensional. Jika mata uang konvensional dikendalikan atau diatur suatu insitusi bernama bank, Bitcoin diberdayakan melalui komunitas. 

Sekitar 10 menit sekali, Bitcoin merilis informasi terkait transaksi terakhirnya. Rilisan informasi itu tercetak dalam bentuk cryptographic hash, suatu tanda tangan digital unik yang terdiri dari beberapa digit numerik atas suatu data digital. Data digital dalam kasus ini merupakan transaksi Bitcoin yang terjadi. Angka “1000” misalnya, memiliki hash “40510175845988f13f6162ed8526f0b09f73384467fa855e1e79b44a56562a58”. 

Penambang Bitcoin, melalui perangkat komputer atau mesin khusus, diberdayakan oleh Bitcoin untuk menebak nilai input dari cryptographic hash yang dirilis Bitcoin. Ini dilakukan untuk memvalidasi apakah transaksi Bitcoin yang dilakukan merupakan transaksi sebenarnya ataukah tidak. 

Suatu mesin yang digunakan untuk menambang, menjadikan transaksi pertama Bitcoin berikut cryptographic hash-nya sebagai patokan untuk menebak input dari cryptographic hash yang kemudian dirilis Bitcoin. Atas bantuan validasi yang diberikan ini, Bitcoin, melalui algoritma yang tertanam di dalamnya, memberikan imbalan.

Semakin hari, Bitcoin yang ditambang akan semakin sulit. Ini terjadi, selain semakin banyak saingan, karena Bitcoin mematok batas dirinya sendiri di angka 21 juta keping Bitcoin. Bitcoin tak akan bertambah jumlahnya selepas mencapai angka 21 juta kelak.

Menambang Bitcoin jelas bukan perkara mudah dan murah. Selain menggunakan komputer atau laptop rumahan, menambang Bitcoin kini diwadahi dengan mesin khusus bernama ASIC atau Application Specific Integrated Circuit. ASIC merupakan chip khusus yang dibuat untuk pekerjaan spesifik, dalam hal ini menambang Bitcoin.

Salah satu kelompok penambang Bitcoin terbesar ialah sebuah kelompok yang berlokasi di Ordos, Cina. Merujuk laporan yang diterbitkan Quartz, kelompok penambang dengan 50 pekerja itu menjalankan 21 ribu mesin khusus untuk menambang Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Jumlah kekuatan mesin penambang itu merepresentasikan 4 persen kekuatan pemrosesan di jaringan Bitcoin. 

Related

Technology 2585392657653448347

Recent

item