Sejarah Deklarasi Balfour, Awal Mula Konflik Israel dan Palestina (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah Deklarasi Balfour, Awal Mula Konflik Israel dan Palestina - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Dalam diskusi lanjutan tanggal 19 Juni kemudian, Balfour meminta Rothschild dan kawannya (yang nanti akan menjadi presiden Israel pertama) Chaim Weizmann, untuk menyusun rancangan sebuah deklarasi publik. 

Keduanya memenuhi permintaan Balfour dan kemudian mendiskusikannya dengan Kabinet Perang Inggris sepanjang bulan September dan Oktober di tahun yang sama. Ada sejumlah golongan Yahudi Zionis maupun non-Zionis di Inggris yang memberikan masukan.

Persoalan paling mendasar dari rancangan tersebut adalah ketiadaan warga Palestina dalam pembicaraan awal, diskusi rancangan, hingga deklarasinya benar-benar dipublikasikan ke masyarakat dunia. 

Ketiadaan ini, di mata sejarawan, sudah menjadikan Deklarasi Balfour tak adil. Deklarasi Balfour juga dianggap sebagai biang permasalahan pokok mengapa golongan Zionis dipandang sebagai kelompok yang licik sejak awal pendiriannya.

Paragraf pertama Deklarasi Balfour merepresentasikan dukungan Kerajaan Inggris Raya sebagai salah satu kekuatan besar dunia saat itu kepada ideologi Zionisme. Ada perdebatan untuk penggunaan istilah “tanah air nasional” sebab tidak memiliki preseden dalam hukum internasional. 

Dampaknya, di kalangan politisi Inggris dan kalangan Zionis sendiri terjadi perbedaan pendapat apakah bentuk riil dari “tanah air nasional” itu adalah negara atau bukan, demikian catat Washington Post. 
 
Pemerintah Inggris kemudian sibuk menjelaskan bahwa kata-kata “di Palestina” dalam deklarasi tersebut bermakna bahwa rumah baru kaum Yahudi tidak mencangkup seluruh wilayah yang kini dihuni bangsa Palestina—yang pada waktu itu komposisinya meliputi mayoritas muslim, lalu penganut Kristen, baru Yahudi. 

Bagian kedua deklarasi meliputi perkara-perkara yang memuaskan pihak yang kritis terhadap misi kaum Zionis. Pihak-pihak ini paham bahwa dalam praktiknya kaum Zionis dan Pemerintah Inggris mau tak mau mesti melakukan aneksasi sebuah wilayah. 

Tindakan ini mesti dipikirkan konsekuensinya di kemudian hari, dua yang pokok di antaranya adalah pengusiran orang-orang Palestina dari tanahnya dan menguatnya sikap anti-semit skala global secara signifikan. 

Deklarasi Balfour menyebutkan secara jelas bahwa orang-orang Yahudi beraliran Zionis meminta hak-hak politiknya dipenuhi oleh orang-orang Palestina. Sementara itu, orang Palestina sendiri tak mendapatkan hak politik maupun agama yang sama. 

Deklarasi Balfour, dalam kata lain, adalah bentuk lain dari kolonialisme Zionis yang didukung Inggris. Pemerintah Inggris baru menyesali ketiadaan orang Palestina dalam perancangan deklarasi pada tahun 1939. Satu abad kemudian atau di tahun 2017. Penyesalan itu belum berkurang, bahkan tambah memanaskan kritik untuk pemerintah Inggris. 

Awetnya penyesalan didasarkan pada efek yang krusial dan laten setelah Deklarasi Balfour dirilis dan orang-orang Yahudi di Eropa mulai diangkuti ke wilayah Palestina sepanjang tahun 1920-an hingga 1940-an. 

Konflik muncul dan menyeret nyawa banyak warga Palestina yang tak tahu apa-apa—selain bahwa tiba-tiba diusir dari tempat tinggalnya yang sudah dihuni secara turun-temurun, dan akan mendapat konsekuensi mengerikan jika menolaknya. 

Proses panjang dan melelahkan yang didasarkan pada “Mandat Inggris atas Palestina” itu memuncak pada tahun 1948. Orang-orang Yahudi di Palestina saat itu sudah menjelma menjadi kekuatan militer yang sanggup mengusir dan membunuhi lebih banyak orang-orang lokal. 

Di tahun yang sama negara Israel berdiri. Sepanjang puluhan tahun setelahnya mereka terus mencaplok lahan bangsa Palestina, menciptakan gelombang pengusiran masal, pembunuhan, dan tindak pelanggaran hak asasi lainnya. 

Konflik Israel-Palestina dianggap sebagai perseteruan paling laten dalam sejarah peradaban dunia. Kepercayaan orang muslim malah memperkirakan pertikaian ini bersifat abadi. Deklarasi Balfour juga mengubah wajah Timur Tengah selamanya. 

Negara-negara Arab hingga era 1960-an berulang kali perang dengan Israel demi pembelaannya atas Palestina, namun hasilnya selalu mengecewakan. Sebagian ada yang memilih berdamai, sebagian lain masih meneruskan perang urat sarafnya dengan gerombolan Zionis di Israel. 

Related

History 280028244065270702

Recent

item