Mengulik Metode Hercule Poirot Mengungkap Kasus-kasus Misterius


Naviri Magazine - Para penggemar Sherlock Holmes maupun Hercule Poirot kadang bertanya-tanya, siapakah yang lebih hebat antara Holmes dan Poirot? Tentu saja dua detektif itu sama-sama hebat, meski keduanya memiliki metode berbeda dalam memecahkan suatu kasus.

Metode Hercule Poirot bisa dikatakan jauh berbeda dari Holmes. Sementara metode Holmes memiliki nama dan dasar teori yang jelas, kita hampir tidak menemukan metode Poirot secara pasti. 

Dia diceritakan bukan orang dengan ilmu dan pengetahuan yang luas dan komprehensif (sebagaimana Holmes yang berlatar saintis dan peneliti). Poirot mengandalkan kecerdasan otaknya, dia sering menyebutnya “sel-sel kelabu” (little grey cell), dan instingnya yang terlatih. Dan tentu saja insting adalah sesuatu yang tidak bisa diterangkan maupun diabaikan.

Poirot tidak terlalu menyibukkan diri dalam fakta-fakta fisik, walaupun tetap dimasukkan dalam interpretasinya. Deduksinya terutama berdasarkan pengetahuannya yang dalam tentang psikologi manusia. Dia selalu menguji kepribadian semua orang yang terlibatm dan hubungan masing-masing orang. 

Dia mempunyai kemampuan yang lebih untuk melihat perasaan orang-orang yang diinterograsinya, apakah pura-pura atau sungguh-sungguh. Dia juga memiliki naluri tajam, intuisi yang sangat kuat, yang merupakan hasil dari perjalanan panjangnya bekerja dalam bidang kejahatan.

Bagian utama dari investigasinya merupakan interogasi terhadap orang-orang yang dicurigai atau terkait. Dengan kecerdikan dalam memilih kata-kata yang membuat lawan bicara bisa mengugkapkan hal-hal yang perlu diketahui tanpa di sadarinya, karena merasa tidak sedang di curigai. 

Tapi kemudian, tiba-tiba, Poirot melontarkan pertanyaan menjebak, sementara si tersangka tidak menyadari. Akhirnya, dia bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kembali kejahatan yang sudah dilakukan.

Poirot juga selalu mempertimbangkan dua hal penting untuk setiap tersangka, yaitu motif dan kesempatan. Sebagai seorang yang ahli dalam psikologi, dia tahu dengan baik bahwa motif sering berkaitan dengan uang, cinta, atau balas dendam. 

Uang biasanya lebih dominan, sehingga pertanyaan pertama adalah siapa yang diuntungkan dengan kematian korban, dan selanjutnya adalah apakah si tersangka memiliki kesempatan untuk membunuh.

Related

Entertaintment 7988535782096930846

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item