Mengenal GERD Anxiety: Kaitan Antara Asam Lambung dan Kecemasan


Kalau pernah berurusan dengan kecemasan, kamu mungkin sudah tak asing lagi dengan gejala fisik yang kerap menyertai perasaan tidak nyaman ini. Manifestasi fisik kecemasan atau anxiety bisa berbeda-beda pada setiap individu, tetapi umumnya meliputi tekanan di dada, nyeri atau mati rasa di tangan dan kaki, atau sakit kepala terus-menerus sepanjang hari. 

Untuk beberapa orang, kecemasan dan refluks asam memiliki hubungan yang kuat, terkadang memperburuk gejala dan terkadang juga bisa menjadi pemicu. 

Beberapa penelitian mencurigai hubungan antara anxiety dan penyakit refluks gastroesofagus (gastroesophageal reflux disease atau GERD). Berikut ini pembahasan selengkapnya.

1. Perbedaan gejala GERD dan anxiety

Pada dasarnya, kedua kondisi medis ini memang berbeda. GERD adalah kondisi kronis akibat dari frekuensi refluks asam lambung ke kerongkongan/esofagus. Jika tak ditangani, GERD dapat mengakibatkan esofagitis hingga kanker esofagus.

Refluks asam lambung tidak aneh, tetapi jika terlalu sering (minimal 2 kali) dalam seminggu, kondisi ini tergolong GERD. Tidak jarang, gejala-gejala GERD sering disalahartikan sebagai penyakit jantung dan sebaliknya. Dilansir Medical News Today, beberapa gejala GERD yang perlu diperhatikan adalah:
  • Nyeri ulu hati (heartburn)
  • Mual dan/atau muntah
  • Sakit perut
  • Nyeri di perut atau dada
  • Sakit saat menelan
  • Napas berbau tidak sedap

Juga merupakan reaksi alamiah tubuh, kecemasan adalah reaksi tubuh menghadapi stres. Dengan kata lain, tidak aneh jika manusia cemas. Akan tetapi, jika kecemasan tersebut berlarut-larut dan mengganggu kehidupan sehari-hari, maka bisa menjadi gangguan (disorder). Beberapa gejala umum kecemasan mencakup:
  • Peningkatan detak jantung
  • Gugup dan gelisah
  • Kedutan otot
  • Merasa amat canggung secara fisik dan mental
  • Hiperventilasi
  • Perasaan takut yang konstan
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Munculnya masalah pencernaan seperti akumulasi gas, diare, dan sembelit
  • Kesulitan tidur

Tidak jarang, dalam beberapa kasus, gejala-gejala kecemasan juga menyebabkan serangan panik dengan intensitas yang lebih dahsyat.

2. Gejala GERD dan anxiety yang saling overlapping

Bisa dilihat kalau GERD dan anxiety adalah dua kondisi dengan set gejala yang berbeda. Akan tetapi, GERD dan anxiety memiliki gejala-gejala yang saling tumpang tindih. Dilansir Verywell Health, gejala-gejala tersebut adalah:
  • Penurunan kualitas tidur
  • Mual dan/atau muntah
  • Nyeri dada
  • Nyeri perut

3. Potensi hubungan antara GERD dan anxiety

Hubungan antara GERD dan anxiety tidak begitu banyak ditelusuri. Akan tetapi, berbagai penelitian menduga kalau GERD dan kecemasan saling bertautan. Menurut penelitian di Korea Selatan (Korsel), ada beberapa alasan mengapa kecemasan bisa berhubungan dengan GERD, yaitu:

Kecemasan mengurangi tekanan pada sfingter esofagus bawah, sehingga asam lambung naik ke esofagus.

Stres dan kecemasan menyebabkan tegangan otot. Jika terjadi di otot perut, maka asam lambung bisa terdorong ke atas.

Tingkat kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu, para peneliti Korsel juga mengungkapkan kalau gejala-gejala GERD dapat meningkatkan kecemasan.

Penelitian di China yang dimuat dalam World Journal of Gastroenterology mengungkapkan bahwa kecemasan dapat memicu hingga memperparah gejala GERD. Karena tingginya prevalensi GERD dan kecemasan secara bersamaan, beberapa peneliti menduga kalau kecemasan bisa menjadi diagnosis dini GERD.

Menurut sebuah studi di Australia yang dimuat dalam jurnal BMC Psychiatry, kecemasan diduga meningkatkan intensitas gejala GERD, terutama heartburn dan nyeri perut bagian atas. Oleh karena itu, adanya kecemasan diyakini membuat pasien lebih sensitif terhadap sensasi sakit dan nyeri pada gejala GERD.

Lalu, para peneliti di Pakistan menemukan bahwa pasien GERD dengan gejala nyeri dada memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi. Di sisi lain, nyeri dada tersebut membuat para pasien GERD takut akan penyakit parah lainnya, sehingga meningkatkan kecemasan mereka.

4. Pengobatan untuk GERD dan anxiety

Karena anxiety dan GERD bisa menciptakan sebuah lingkaran setan yang membuat hidup merana, maka penting untuk bisa menangani keduanya. Mengutip Healthline, kombinasi obat-obatan bisa digunakan untuk merawat kondisi GERD dan kecemasan, yaitu:
  • Obat bebas: antasid
  • H-2-receptor blockers (H2 blocker): famotidine dan cimetidine
  • Proton pump inhibitor (PPI): esomeprazole dan rabeprazole
  • Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI): fluoxetine dan citalopram
  • Benzodiazepine: alprazolam dan lorazepam
  • Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI): duloxetine dan venlafaxine
  • Psikoterapi: terapi perilaku kognitif (CBT)

Selain kombinasi obat-obatan, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan di rumah untuk melegakan gejala-gejala GERD dan kecemasan. Apa saja?
  • Mengonsumsi makanan dan minuman bergizi seimbang
  • Menghindari makanan atau minuman yang dapat memicu heartburn atau refluks asam lambung
  • Berolahraga rutin (dengan intensitas ringan) seperti jalan santai atau joging
  • Mempraktikkan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, yoga, taici, atau meditasi
  • Menghindari konsumsi kafein, alkohol, atau zat-zat adiktif 

5. Kapan harus periksa ke dokter?

Meskipun hubungan antara GERD dan anxiety belum diketahui betul, tetapi kecemasan bisa memicu atau memperparah gejala GERD. Sering kali, refluks asam lambung dan kecemasan bisa ditangani sendiri di rumah. Akan tetapi, jika kecemasan dan GERD sudah parah atau tak tertahankan, jangan berpikir dua kali untuk berkonsultasi ke dokter dan psikolog atau psikiater.

Jika GERD dibiarkan, maka dapat menyebabkan komplikasi fatal dan bukan tidak mungkin gejala penyakit jantung menyamar jadi GERD. Hal tersebut juga berlaku untuk kecemasan. Selain itu, karena gejala-gejala GERD dan anxiety bisa saling tumpang tindih, pemeriksaan dokter sangat diperlukan untuk mendapat diagnosis yang akurat.

Related

Health 1652796653419697325

Recent

item