Hewan-hewan yang Rela Mati demi Bisa Kawin dan Beranak-Pinak


Naviri Magazine - Sebagian hewan bisa kawin berkali-kali selama hidup mereka yang panjang, dan selama itu pula mereka menghasilkan banyak anak atau keturunan. Bertahun-tahun kemudian, seiring usia yang makin tua, mereka pun mati secara alami. Namun, ada pula sebagian hewan yang hanya mampu kawin satu kali dalam seumur hidup mereka. Begitu selesai kawin, mereka mati.

Dalam biologi, ada istilah strategi reproduksi yang disebut semelparuty. Dalam kondisi tersebut, hewan akan mencurahkan seluruh energi reproduktifnya untuk sekali kawin sampai akhirnya mati.

Salah satu hewan yang paling dikenal karena menggunakan strategi reproduksi ini adalah antechinus jantan, mamalia Australia bertubuh kecil dan berumur pendek. Makhluk ini biasanya bercinta secara gila-gilaan, terkadang bahkan bisa selama 14 jam. Setelah itu, hewan tersebut mengalami kerusakan sistem imun fatal, dan mati akibat kelelahan. 

Bisa dibilang, itu adalah pengorbanan orang tua: Antechinus jantan mati setelah memastikan dirinya telah menyebarkan spermanya secara luas dan jauh. “Sebagai imbalannya, spesies ini menghasilkan lebih banyak keturunan,” kata Jeyaraney Kathirithamby, entomolog di Universitas Oxford.

Selain antechinus, ada hewan lain yang juga bercinta sampai mati. Salmon pasifik, misalnya, akan mati setelah memproduksi ratusan hingga ribuan telur.

Belalang sembah juga akan mati setelah bereproduksi. Adakalanya, si betina akan memangsa pejantan dengan memenggal kepalanya.

Parasit bersayap pintal

Parasit bersayap pintal betina dari ordo Strepsiptera memproduksi 2.000-750.000 larva, dalam satu-satunya masa kawin mereka. Hewan ini juga memiliki gaya hidup yang aneh: si betina mengubur diri dalam tubuh hewan inang, seperti lebah soliter, dan tak pernah pergi dari situ. 

Karena hidup dalam tubuh inang, mereka tak membutuhkan sayap, mata, kaki, atau antena. Satu-satunya bagian tubuh yang menonjol dari inang hanyalah saluran reproduksinya. Saluran yang terbuka ini memungkinkan pejantan menginseminasi betina, dan larva merangkak ke dunia luar.

Parasit bersayap pintal jantan yang hanya hidup selama enam jam, terbang berkeliling mencari betina untuk mereka kawini. Tak lama setelah kawin, pejantan pun akan mati. Setelah larva keluar, betinanya juga akan mati.

Pengorbanan laba-laba

Laba-laba betina dikenal suka memangsa pasangannya setelah kawin. Tapi laba-laba betina juga berkorban demi anak-anaknya. Seperti laba-laba S.lineatus. Setelah bertelur dan menetaskan telur-telurnya, induk laba-laba S.lineatus akan sengaja bertelur untuk makanan anak-anaknya. 

Setelah makanan habis, induk laba-laba akan membiarkan dirinya dimakan oleh anak- anaknya. Hal ini juga untuk melatih insting predator anak-anaknya agar siap menghadapi dunia luar.

Sementara itu, laba-laba jantan dari genus Argiope akan mengorbankan dirinya untuk memastikan bahwa ia merupakan satu-satunya ayah bayi-bayi dari satu betina. Laba-laba jantan memiliki dua organ penghantar sperma yang disebut pedipalp. Saat kawin, mereka memasukkan kedua organ tersebut ke dua organ penampung sperma pada betina. 

Laba-laba Argiope akan mati setelah memasukkan pedipalp yang kedua. Setelah mati, bagian tubuh si pejantan akan menggantung pada alat genital si betina, sehingga pejantan lain akan kesulitan kawin dengan betina tersebut.

Pejantan Argiope juga sering kali kawin dengan betina yang baru ganti kulit, sehingga si betina tidak bisa memangsanya. Tetapi, jika dia mengawini betina yang lebih tua, si betina akan segera memangsanya setelah si pejantan mati.

Binatang berkantung mati karena kelelahan kawin

Para peneliti di Australia mengatakan, sejumlah spesies binatang berkantung mati karena kelelahan kawin pada masa berkembang biak. Para ilmuwan menyelidiki mengapa sejumlah hewan berkantung jantan mati, tidak lama setelah masa berkembang biak.

Penelitian menunjukkan faktor di balik ini adalah masa berkembang biak yang pendek, dan binatang jantan harus berebut betina.

Dalam studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, disebutkan bahwa binatang berkantung jantan ini selain mati karena kelelahan, juga akibat penyakit setelah kawin.

"Selalu ada akibat dalam proses reproduksi... hewan-hewan ini tidak mengatur waktu sedemikian rupa, namun melakukannya serentak pada waktu pendek," kata salah seorang peneliti, Diana Fishser, dari Universitas Queensland.

"Hewan-hewan ini kawin selama 12 atau 14 jam dengan banyak binatang betina, dengan menggunakan semua energi untuk bersaing dengan jantan lain," kata Fisher. "Akibatnya, mereka mati karena kawin dengan cara ekstrem." 

Sebelum ini, para ilmuwan menduga sejumlah binatang berkantung jantan yang mati setelah berhubungan seks karena perkelahian dengan binatang jantan lain.

Studi yang juga melibatkan para peneliti dari Universitas Sydney Australia dan Universitas Tasmania itu membandingkan 52 spesies binatang berkantung yang makan serangga di Australia, Papua Nugini, dan Amerika Selatan.

Para ilmuwan menemukan bahwa binatang berkantung yang kecil, seperti hewan mirip tikus, antechinus dan phascogales, termasuk dalam kategori ini.

Related

Science 3062178805065493411

Recent

item