Jasa Hapus Akun Medsos Makin Marak di Indonesia, Ini Kisah di Baliknya (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Jasa Hapus Akun Medsos Makin Marak di Indonesia, Ini Kisah di Baliknya - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Nadya menyebut pekerjaan ini bisa dilakukan hanya bermodalkan ponsel dan browser. Ketika orderan masuk, ia akan meminta dua hal sebagai syarat pengerjaan: tangkapan layar akun yang mau dihapus dan kartu identitas klien. 

Setelah sepakat soal harga, yang biasanya dibayarkan di akhir, Nadya mulai bekerja. Ia menyebut tugasnya kurang lebih menjadi perwakilan klien untuk mengajukan penghapusan akun kepada pihak platform.

“Aku menghapusnya secara sah dan legal, jadi enggak nge-hack gitu. Aku langsung minta [penghapusan] akun ke [misalnya] pihak Instagram-nya, makanya menggunakan [kartu] identitas,” jelas perempuan asal Riau itu. “Enggak semua akun bisa dihapus, misalnya foto klien kurang jelas, itu bakal susah [ngurusnya] karena sulit meyakinkan pihak Instagram kalau akun tersebut benar-benar akunnya [klien saya].”

Cara pengajuan inilah yang diajarkan di bimbel Iffah, sehingga tidak bisa Nadya jelaskan secara detail. Rahasia perusahaan terpenting itu harus dijaga para “murid” macam Nadya. Harus ada persetujuan para "mentor" kalau ingin membuka bimbel. Apabila ketahuan menyebarkan tutorial diam-diam, ia bisa kena ‘blacklist’.

Nadya mengaku, akun TikTok adalah yang termudah, namun ia merasa cara penghapusan setiap waktu bisa berubah sehingga penyedia jasa hapus akun perlu terus belajar. 

“Beberapa cara udah enggak berfungsi lagi. Dulu Facebook enggak [perlu] pakai [kartu] identitas bisa dihapus, sekarang harus pakai identitas. Kalau enggak pakai identitas sebenarnya kami bisa, tapi harganya beda, karena yang proses bukan aku, tapi mentor aku [Iffah],” jelasnya.

Iffah memang menyebut ada dua cara menghapus akun klien. Pertama, menggunakan kartu identitas. Kedua, tanpa menggunakan kartu identitas. Cara kedua ini Iffah klaim sebagai penemuannya sendiri. 

“Di tempat lain kayaknya belum ada. Cara [tanpa kartu identitas] ini juga enggak ada bimbelnya, karena benar-benar penemuan sendiri,” jelas Iffah. Meski mahal, dibanderol sekitar Rp250-300 ribu, pelanggan merasa lebih nyaman karena tak harus menyerahkan foto kartu identitasnya kepada orang asing.

Iffah menceritakan banyak koleganya yang minta diajari cara menghapus akun tanpa identitas, sampai bersedia membayar Rp25 juta untuk ikut kursus. Namun, karena takut ilmu tersebut disebarkan secara tidak bertanggung jawab, sampai saat ini Iffah masih menolak.

Dejo, cowok 20 tahun penyedia jasa layanan hapus akun asal Surakarta, menyebut permintaan hapus akun sangat tinggi karena mayoritas klien malu sama aib masa kecil dan masa muda yang mereka umbar di Facebook. Cuit-cuitan alay jaman galau di Twitter, sampai foto tanpa jilbab dari klien yang kini sudah berhijab, juga jadi permintaan yang rutin masuk kepadanya. Di antara beragam order itu, kadang ia menemukan pelanggan aneh.
 
“Saya pernah dapat calon customer, ingin menghapus akun Facebook milik seorang perempuan. Kata dia, bapaknya sering chat dengan wanita ini. Klien saya minta akun Facebook si ‘pelakor’ ini dihapus biar mereka lost contact. Ya, kami enggak bisa bantu,” kata Dejo.

Dalam hal-hal begini, Iffah lebih senior dan berpengalaman menghadapinya. Ada satu kasus berkesan di benak Iffah. Salah satu kliennya pernah memohon agar foto bersama mantan dihapus, sebab pacar yang sekarang menolak menikahinya apabila foto itu masih beredar di internet. Ada-ada saja problematika romansa. Tapi itu bukan yang paling epic.

“Pernah ada bocah masih SMP, minta tolong saya hapusin akunnya Atta Halilintar. Pas saya bilang enggak bisa, dia bilang, ‘Tolong, Kak, saya benci dia.’ Saya sampai geleng-geleng sendiri,” cerita Iffah sambil terkekeh. “Banyak lah yang minta saya ngapus akun selebgram atau artis yang mereka benci.”

Related

Internet 5653741782613889681

Recent

Hot in week

item