Air di Dunia Terancam Kandungan Sampah Plastik


Naviri Magazine - Plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk bisa benar-benar terurai. Karena itulah, kita pun diimbau untuk memisahkan sampah organik dan sampah nonorganik. Sampah plastik termasuk sampah nonorganik, yaitu sampah yang tidak bisa atau sulit terurai. Dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa mengurai sampah plastik hingga benar-benar terurai.

Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari atau tak mau tahu dengan hal itu, dan seenaknya membuang sampah plastik ke berbagai tempat. Akibatnya, sampah plastik itu lalu hancur, namun tidak terurai. Hasilnya adalah serpihan-serpihan kecil yang bertebaran di mana-mana. 

Karena sangat kecil, serpihan plastik itu tidak terlihat mata telanjang. Tapi bukan berarti tidak ada. Kenyataannya, saat ini, sampah plastik yang kecil itu menjadi ancaman bagi kebersihan air di dunia.

Potongan-potongan plastik ternyata mengalir dari keran air di seluruh dunia. Kesimpulan tersebut berdasarkan sebuah survei baru terhadap 159 sampel air yang dikumpulkan lebih dari selusin negara dunia. Sebagian besar air keran dari negara-negara tersebut terkontaminasi oleh serat plastik mikroskopis.

Penelitian dilakukan oleh tim Orb Media (sebuah organisasi media nirlaba yang berfokus pada isu-isu pembangunan global) dan University of Minnesota School of Public Health, Amerika Serikat.

Dari pengujian sampel air keran, tim menemukan bahwa 83 persen (4,34 partikel per liter) sampel mengandung mikrofiber plastik. Potongan-potongan mikroplastik yang ditemukan sekecil ukuran 2,5 mikrometer.

Setiap sampel dikumpulkan dengan membuka keran air selama 1 menit sebelum mengisi botol HDPE (high-density polyethylene) 500ml sampai meluap. Sambil meninggalkan air keran tetap terbuka, sampel air dibuang dan diisi dua kali, sebelum diisi untuk ketiga kalinya dan ditutup.

Hal ini dilakukan untuk membilas botol sebelum pengumpulan sampel akhir.

Sebuah survei dilakukan untuk setiap sampel air, yang mencakup nama kolektor sampel dan informasi kontak, hari, dan waktu pengumpulan, serta informasi tentang sumber dan penggunaan umum air yang diambil.

Formulir survei kemudian dikirim ke Orb Media, yang melacak sampel, sementara sampel air itu dikirim ke University of Minnesota untuk diproses. Pengaturan tahapan ini memungkinkan sampel air, yang diidentifikasi hanya melalui nomor ID sampel yang unik, diproses secara buta tanpa prasangka tentang sumber air keran tersebut.

Sampel berasal dari berbagai tempat di AS, Eropa, Indonesia, Uganda, Lebanon, India, dan Ekuador. Tidak ada dari negara-negara tersebut yang memiliki sampel air bebas plastik. Berdasarkan pengujian beberapa sampel dari masing-masing tempat, tingkat kontaminasi terendah sebesar 72 persen, yang dipegang oleh sejumlah negara Eropa.

Angka tertinggi ditemukan di AS dengan tingkat 94 persen, dengan kandungan rata-rata serat plastik 4,8 per 500 ml. Sebanyak 33 sampel dari AS ini diambil dari keran air Trump Tower di New York, Badan Perlindungan Lingkungan AS, dan beberapa gedung Kongres.

Di bawah AS, Lebanon dan India mengikuti, dengan masing-masing 93,8 persen (4,5) dan 82,4 persen (4,0).

Dari Indonesia, diambil sebanyak 21 sampel di Jakarta. Keseluruhannya memiliki persentase kontaminasi 76,2 persen, dengan kandungan rata-rata serat 1,9 per 500 ml. Angka dari Jakarta termasuk rendah dibandingkan semua negara yang menjadi kandidat, sama seperti di Eropa.

Selain dari air keran, sebelumnya juga ditemukan partikel mikroplastik di garam laut. The Guardian turut mencatat bahwa penelitian lain telah menemukan kandungan mikroplastik di laut, makhluk laut, dan makanan seperti bir, madu, gula, bahkan udara. 
Sebuah studi tahun 2014 memperkirakan bahwa pencinta kerang di Eropa mengonsumsi hingga 11.000 potongan plastik kecil per tahun.

Sementara banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan pencemaran mikroplastik di samudera, di mana lebih dari 5 triliun keping plastik mengambang, studi ini adalah penelitian pertama yang dilakukan terhadap air keran.

Related

Science 565337211983311498

Recent

item