Ciri-ciri Gejala Omicron yang Paling Banyak Dikeluhkan Pasien


Varian Covid-19 Omicron memang jadi varian yang paling mudah menyebar. Untungnya, sebagian besar masyarakat Indonesia telah menerima vaksin dan beberapa sudah mendapatkan booster. 

Tapi tak ada salahnya juga mengetahui ciri-ciri gejala Omicron paling banyak dikeluhkan, sehingga Anda bisa lebih waspada. 

Kasus Covid-19 varian Omicron semakin melonjak di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memasukkan varian B.1.1.529 ini dalam kategori variant of concern (VoC). 

Menurut Profesor Tim Spector peneliti dari ZOE Covid, aplikasi pelacak Covid-19 di Inggris, saat ini pengujian sangat penting dilakukan lantaran gejala Omicron yang mirip dengan flu biasa. 

Spector mengatakan bahwa data dari aplikasi yang dikembangkannya itu dapat melacak gejala Covid-19 yang banyak dikeluhkan. 

Sebab, sekitar 4,7 juta pengguna aplikasi dapat memasukkan gejala apa saja yang dialami, termasuk gejala klasik Covid-19 seperti demam, batuk, hingga anosmia atau hilangnya kemampuan mencium. 

“Bukti yang ada menunjukkan bahwa orang yang telah menerima dua dosis vaksin biasanya menunjukkan gejala (Omicron) yang tidak terlalu parah, seperti sakit kepala, pilek, bersin, sakit tenggorokan, dan kehilangan kemampuan mencium," papar kepala eksekutif di Royal Society for Public Health, Christina Marriott. 

Sementara ini, informasi terbaru yang tercatat di aplikasi ZOE Covid mengungkapkan lima ciri-ciri gejala Omicron teratas yang banyak dikeluhkan pasien, di antaranya sakit kepala, pilek, bersin-bersin, sakit tenggorokan, dan batuk. 

Ciri-ciri gejala Omicron: 

1. Sakit kepala

Gejala Omicron yang banyak dikeluhkan pasien adalah sakit kepala. Sakit kepala diketahui merupakan salah satu gejala yang paling umum akibat infeksi Covid-19. 

Riset tersebut juga menunjukkan sakit kepala akibat virus corona yang dirasakan pasien mulai dari: Nyeri atau sakit kepala sedang hingga berat; kepala terasa berdenyut, menekan, atau menusuk.

Sakit kepala dapat terjadi di kedua sisi kepala. Sakit kepala berlangsung selama lebih dari tiga hari dan tidak mampu diobati dengan obat penghilang rasa sakit biasa.

2. Pilek

Selama musim dingin di Inggris, pilek menjadi gejala Covid-19 kedua yang paling sering dilaporkan setelah sakit kepala. Setidaknya hampir 60 persen orang yang positif Covid-19 dengan gejala anosmia juga mengeluhkan pilek. 

Para peneliti menggarisbawahi saat tingkat infeksi rendah, kemungkinan besar pilek bukan disebabkan oleh virus corona, tetapi alergi. 

3. Bersin-bersin

Ciri-ciri gejala Omicron yang ditemukan oleh tim peneliti selanjutnya adalah bersin-bersin. Gejala ini, kata mereka, bahkan terjadi pada orang yang sudah divaksinasi Covid-19. 

Di sisi lain, tim menjelaskan bersin tidak selalu mengindikasikan infeksi varian Omicron tetapi bisa menandakan alergi maupun pilek biasa. 

"Meskipun banyak orang dengan Covid mungkin (bergejala) bersin-bersin, itu bukan gejala yang pasti karena bersin sangat umum," tulis para peneliti. 

4. Sakit tenggorokan

Banyak pasien Omicron melaporkan bahwa mereka menderita sakit tenggorokan yang kerap dialami saat pilek maupun radang tenggorokan. 

Studi ZOE Covid mencatat, gejala sakit tenggorokan akibat infeksi Covid-19 cenderung ringan dan berlangsung kurang dari lima hari. Apabila sakit tenggorokan sangat menyakitkan, peneliti berkata mungkin menandakan kondisi kesehatan lainnya, untuk itu Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. 

Berdasarkan data yang terkumpul, hampir setengah dari pasien Covid-19 mengalami sakit tenggorokan yang banyak terjadi pada usia 18 sampai 65 tahun. 

5. Batuk

Batuk terus-menerus umumnya menandakan gejala Covid-19. Akan tetapi, studi ini menunjukkan hanya sekitar empat dari 10 pasien yang merasakan batuk-batuk. 

Adapun gejala batuk yang berkaitan dengan infeksi Covid-19 biasanya batuk kering, bukan batuk berdahak. Gejala ini juga bisa berlangsung sekitar empat atau lima hari bergantung pada derajat penyakit. 

Apabila Anda mengalami batuk dan dibarengi dengan gejala Covid-19 lainnya, segera lakukan tes PCR maupun rapid test antigen. 

“Jika Anda memiliki gejala infeksi pernapasan, Anda harus tetap di rumah untuk mencegah penularan dan melakukan tes (PCR atau rapid test). Mendiagnosis sendiri bisa menyebabkan kasus Covid melonjak lagi," ujar profesor bidang microbial evolutionary genomics di University of Birmingham, Alan McNally. 

Related

Health 9006053525277037262

Recent

item