Menelisik Asal Usul Keluarga Atta Halilintar: Siapakah Mereka? (Bagian 1)


Suka-tidak suka, peduli atau tidak sama sekali, harus diakui, Atta Halilintar menjadi sosok yang dikenal jutaan pasang mata. Entah prestasi atau kontroversi, Atta berhasil memasarkan diri lewat platform Youtube untuk merengkuh ketenaran. 

Hanya butuh 6 tahun bagi seorang Atta Halilintar untuk bisa mengumpulkan lebih dari 25 juta subscribers. Situs SocialBlade mencatat, dalam sebulan, Atta bisa meraup laba hingga Rp 5,4 miliar per bulan atau Rp 65 miliar dalam setahun -- hanya dari Youtube.  

Tak bisa dimungkiri, ketenaran Atta berbuah dari keluarganya, Gen Halilintar, yang menelurkan buku perjalanan sepasang suami istri dan 11 anak berjudul “Gen Halilintar My Brother My Builder Malaysia My Second Home”. Dari situ, kekayaan dan kehidupan mewah Gen Halilintar lewat segudang bisnis mulai disorot, termasuk bisnis Atta.  

Adapun Halilintar berasal dari nama ayah Atta, Halilintar Anofial Asmid, pengusaha berjuluk “Sang Duta” dan “Jundullah (tentara Tuhan)”.  

Berawal dari sudut indekos di Depok saat masih berstatus Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia, Halilintar memulai bisnis berskala kecil hingga sukses melebarkan sayap ke berbagai negara bersama istrinya. 

Karier bisnis laris nan moncer Gen Halilintar menuai pertanyaan publik: siapa sesungguhnya sosok Halilintar Anofial?  

Jika merujuk buku “Pengembaraan Sang Duta: Halilintar Muhammad Jundullah” karya Taufik Mustafa, Halilintar adalah sosok yang lekat dengan ajaran agama. Eep Saefulloh Fatah, konsultan politik cum sahabat Halilintar semasa kuliah, sedikit menceritakan sosok ayah Atta itu.  

“Tahun 1995, ia [Halilintar dulu] adalah seorang yang door to door menjajakan karpet, dibantu istri dan seorang temannya yang mantan pengecer koran. Ketika Oktober 2002, saya bertemu kembali dengannya, ia adalah pemimpin sebuah jaringan usaha berskala global,” kata Eep di buku terbitan Giliran Timur. 

Kedekatan Eep dan Halilintar memang tak terjalin lama, namun cukup intens. Sehingga, Eep tahu betul Halilintar memiliki banyak perbedaan ketika mereka dipertemukan kembali. 

Perubahan pola pikir dan berpakaian Halilintar terjadi setelah ia berguru pada Syeikh Ashaari Muhammad At Tamimi, atau Abuya Ashaari, di Malaysia. Sejak berguru pada Abuya pula, putra kelahiran Dumai, Riau itu mendapat nama baru menjadi Halilintar Muhammad Jundullah. 

“Perubahannya yang penting bagi saya bukanlah perubahan gaya berpakaiannya (memakai gamis, membelitkan sorban di lingkar kepala), melainkan caranya bertutur dan topik-topik yang ia pilih dalam pembicaraan,” tutur Eep. 

“Saya merasa Halilintar sudah mengalami semacam pencerahan spiritual yang luar biasa dalam,” sambungnya. 

Halilintar dan Darul Arqam 

Syekh Ashaari atau Abuya--panggilannya, adalah pendiri dan pemimpin Darul Arqam, sebuah organisasi keagamaan Islam yang berbasis di Malaysia. Halilintar sempat menjadi salah satu pengikut.
 
“Kami sempat berbicara cukup panjang di Kantin FISIP UI. Dari sinilah saya mengetahui lebih banyak aktivitas Halilintar sebagai salah seorang tokoh Darul Arqam,” tutur Eep. 

Pengakuan Halilintar sebagai tokoh Darul Arqam juga tercantum dalam buku "Jejak Hizbut Tahrir Indonesia" karya Pusat Data dan Analisa TEMPO. Halilintar bergabung dengan organisasi ini pada 1989 dan menjabat sebagai pimpinan Darul Arqam kawasan Jakarta dan Bogor.  

"Dulu saya awam tentang agama, hanya sibuk bermain golf," tutur Halilintar. 

Bagi sebagian orang, Darul Arqam memang organisasi yang tidak asing. Berpusat di Malaysia, sejak 1968, Abuya Ashaari menjaring lebih dari 100 ribu orang untuk bergabung dan tersebar di ASEAN, termasuk Indonesia. 

Gerakannya berfokus pada banyak sektor, khususnya ekonomi. Dalam "Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara Orde Baru" karya Daniel Dhakidae, Darul Arqam menganut prinsip 'Berdikari' menjalankan penghidupan. Intinya, Darul Arqam menganjurkan jemaahnya untuk berbisnis sesuai syariat demi mensucikan diri kepada Tuhan dengan menyumbangkan harta. 

Darul Arqam memiliki 40 buah perkampungan, 200 sekolah, kilang, rumah sakit, hingga mini market. Besarnya modal dan banyaknya keanggotaan Darul Arqam membuat pemerintah Malaysia menaruh curiga pada gerakan ini, baik secara akidah maupun kendaraan politik dan kekuasaan.  

Mengutip tulisan Abdul Rahman Haji Abdullah dalam "Pemikiran Islam di Malaysia: sejarah dan aliran", sumber pokok penggerak Darul Arqam adalah semangat jihad atau pengorbanan jiwa dan harta di kalangan anggota atau pengikutnya. 

Apa maksudnya? Mereka yang memiliki penghasilan tetap harus bersedia dipotong gaji hingga 10 persen setiap bulan, bahkan lebih. Tujuan ajarannya: Melalui proses pendidikan hati atau jiwa sufi, lahir sifat-sifat dermawan di kalangan mereka, sehingga orang-orang kaya menjadi 'bank' bagi yang memerlukan. 

Dalam perjalanannya, ajaran Darul Arqam dianggap menyimpang lantaran Abuya Ashaari mengakui dirinya merupakan Bani Tamim, atau pendamping Imam Mahdi.  

Di beberapa sumber sekunder, Abuya mengaku pernah berdialog dengan Nabi Muhammad SAW. Ia meyakini gurunya, Syeikh Syuhaimi -- yang sudah wafat asal Wonosobo, adalah Imam Mahdi, dan Ashaari adalah penerus Syuhaimi. 

Farahwahida Mohd Yusof dalam buku “Al-Arqam & ajaran aurad Muhammadiah: satu penilaian”, menyebut, Aurad Muhamadiah yang diajarkan Abuya Ashaari adalah sesat dan syirik karena sangat mengkultuskan Abuya Ashaari.  

“Puncak dari rasa taksub (fanatik) ini menghasilkan tindak balas ahli hingga sanggup membelakangkan (melawan) ibu-bapak, keluarga, meninggalkan sesi pengajian di Institusi Pengajian Tinggi (kampus, sekolah), memberi ketaatan dan kesetiaan yang tinggi kepada Ashaari, tidak berani membantah keputusannya, terutang budi dan kebergantungan hidup, menyayangi keluarga dan orang kanan Ashaari lebih daripada ibu-bapak sendiri, membenci pemerintah, dan menyerahkan seluruh harta dan jiwa raga untuk diurus selia (diatur) oleh Ashaari,” tulisnya.  

“Dalam kata lain, untuk mencintai Allah dan menjadi orang yang bertakwa, seseorang perlu terlebih dahulu mencintai Asaari sepenuh hati. Bukti kecintaan adalah dengan melakukan pengorbanan harta secara besar-besaran,” kata Farahwahida Mohd Yusuf, ahli teologi dan pemikiran Islam di Malaysia

Darul Arqam juga dituding sempat menyiapkan dan melatih 300 pasukan berani mati di Thailand. Atas dasar inilah, organisasi Darul Arqam resmi dilarang oleh Malaysia pada 1994, selain bertentangan dengan akidah ahli sunnah wal jamaah. Abuya Ashaari sempat ditahan setahun, lalu berganti status menjadi tahanan rumah, pindah ke Pulau Labuan hingga akhirnya bebas murni pada 2004. 

Baca lanjutannya: Menelisik Asal Usul Keluarga Atta Halilintar: Siapakah Mereka? (Bagian 2)

Related

Celebrity 2108439756021397348

Recent

item