Nasib Tragis Para PSK di Dunia Selama Pandemi Corona (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Nasib Tragis Para PSK di Dunia Selama Pandemi Corona - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Di sebuah rumah bordil Daulatdia di Bangladesh, petugas polisi menjaga pintu masuk, untuk mencegah masuknya para pelanggan.

"Nazma"

Nazma (bukan nama sebenarnya) mengatakan, seandainya rumah bordil dibuka pun dia tetap khawatir para pelanggannya terkena virus corona.

Ini adalah salah satu rumah bordil terbesar di dunia, sebuah kawasan kumuh yang terdiri dari gudang timah dan gang-gang sempit yang merupakan rumah bagi 1.300 perempuan dan 400 anak-anak mereka.

Rumah bordil tersebut sudah ditutup, membuat banyak perempuan yang bergantung mengandalkan bantuan dari berbagai lembaga bantuan untuk membeli keperluan penting.

"Kami tidak bisa bekerja sekarang ini, jadi kami tidak memiliki penghasilan, ini menakutkan," kata Nazma, yang tidak ingin mengungkap nama aslinya.

Nazma harus menanggung tiga anak yang tinggal bersama kakaknya di desanya. Dia datang ke rumah bordil tersebut 30 tahun yang lalu saat dia baru berusia tujuh tahun. Meskipun dia membutuhkan uang, dia khawatir bila bekerja selama pandemi akan membahayakan. 

"Bahkan jika kita bisa bekerja, nyawa orang-orang beresiko terkena virus. Kita akan takut tidur dengan para pelanggan kita, karena kita tidak tahu siapa yang mengidap," katanya.

Biasanya dia duduk di tepi Sungai Padma, dekat terminal feri utama. Ini adalah pusat transportasi utama yang menghubungkan ibukota Bangladesh, Dhaka dengan distrik selatan negara itu.

Sebelum wabah virus corona merebak, ribuan pengemudi truk akan melewati daerah itu setiap hari, mengirimkan produk pertanian dan barang-barang lainnya ke Dhaka.

Banyak perempuan dan anak-anak yang tinggal di rumah bordil menjadi korban perdagangan manusia.

"Banyak dari mereka yang diculik saat masih anak-anak dan dijual di sana," kata Srabonti Huda, seorang pengacara dan aktivis HAM yang berbasis di Dhaka.

Meskipun pemerintah Bangladesh dan organisasi-organisasi bantuan setempat telah mengirimkan sejumlah dana darurat kepada para perempuan tersebut, Srabonti mengatakan itu tidak cukup, dan ada diantaranya yang tidak menerima bantuan sama sekali.

"Jumlah sumbangan yang mereka terima dari pemerintah bahkan tidak mencakup paket susu bubuk untuk anak-anak," katanya.

Srabonti mengatur pengiriman bantuan pribadi, mendistribusikan paket-paket kebutuhan pokok untuk masing-masing 1.300 perempuan yang terdaftar di rumah bordil.

"Ada seorang perempuan yang mengatakan tidak bisa mendapatkan insulin atau obat diabetes selama lebih dari sebulan," kata Srabonti. "Yang lain mengatakan dia belum bisa membeli obat tekanan darah sejak dimulainya lockdown dua bulan lalu."

Berkurangnya akses ke layanan kesehatan adalah masalah yang dihadapi pekerja seks secara global, menurut Prof Sanders. Masalah ini semakin parah di daerah di mana ada permintaan tinggi untuk obat antivirus reguler dari mereka yang hidup dengan HIV.

"Ada masalah nyata di seputar minimnya akses," katanya.

Prof Sanders bekerja dengan sebuah tim di Nairobi untuk mengembangkan aplikasi "gaya Uber" yang akan memungkinkan pekerja seks memesan obat dengan menggunakan telepon mereka dan mengirimkannya

"Ini dikirim langsung kepada mereka melalui moda transportasi, bukan orang yang datang ke klinik," katanya.

Kembali ke rumah bordil, pekerja seks lain yang tidak ingin disebutkan namanya baru saja menengok putrinya, yang tinggal di di kota terdekat khusus untuk anak-anak pekerja seks.

Bahkan seandainya rumah bordil itu akan dibuka kembali, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk bangkit, katanya.

"Orang-orang takut jika mereka mendatangi kami, mereka mungkin tertular," katanya. "Kami juga takut. Kami mungkin terinfeksi dari mereka. Ketakutan terinfeksi ini akan muncul setiap saat."

Related

International 4144764644068847351

Recent

item