Kisah Kejatuhan dan Kebangkitan Kembali Perusahaan Apple


“Pada pertengahan 1990-an, Apple berada di ujung tanduk,” papar Jack Nicas dalam laporannya di The New York Times. Alasannya, pasca mengkudeta dan membuang Steve Jobs dari Apple hampir sepuluh tahun sebelumnya, penjual minuman bersoda--alias mantan Presiden Pepsi--bernama John Sculley gagal memimpin Apple. 

Di bawah kendalinya, Apple hanya menghasilkan Newton yang gagal di pasaran. Tidak ada inovasi lain untuk menggantikan lini Mac yang telah uzur.

Nihilnya inovasi diperparah oleh pukulan telak Microsoft. Di bawah kendali Bill Gates, Microsoft memonopoli pasar komputer, mengikat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pembuat komputer untuk menghasilkan PC berharga terjangkau. 

Saking buruknya situasi, Fred Anderson, yang kala itu menjabat Direktur Keuangan Apple, bahkan harus mengeluarkan obligasi--surat pinjaman--senilai $661 juta agar Apple dapat bertahan.

Menurut hitung-hitungan fiskal, Apple rugi $867 juta dan valuasi perusahaan hanya berada di titik $3 miliar di akhir tahun 2007. 

Bandingkan dengan Microsoft. Pada tahun yang sama, perusahaan yang bermarkas di Redmond, Washington tersebut memperoleh pendapatan senilai $11,36 miliar, meningkat 31 persen dibandingkan setahun sebelumnya, $8,67 miliar. Dikurangi biaya pengeluaran, Microsoft untung $3,45 miliar. Artinya, andai kala itu Apple menyerah dan menjual dirinya, sangat mudah bagi Microsoft membelinya.

Tapi Apple tidak menyerah. Masih merujuk Nicas, Apple malah 'berjudi' mengeluarkan uang senilai $400 juta bukan untuk berinovasi, tetapi untuk membeli NeXT, startup ciptaan Steve Jobs pasca diusir dari Apple.

Ada dua alasan utama Apple membeli NeXT. Pertama, pembelian dilakukan untuk 'memaksa' Jobs kembali ke Apple. Saat Jobs akhirnya pulang, jabatan CEO dikembalikan padanya. 

Kedua, Apple mengincar NeXTSTEP, sistem operasi yang diciptakan NeXT. Melalui NeXSTEP, Apple memodernisasi Macintosh, merilis Mac OS X setelahnya. NeXSTEP inilah leluhur sesungguhnya dari macOS modern hari ini, juga iOS, juga iPadOS, bukan Macintosh versi Steve Wozniak--pendiri Apple sesungguhnya.

Perjudian Apple melalui pembelian NeXT berhasil. Di bawah kendali Jobs, Apple mempraktekkan ideologi “Think Different”, fokus pada kekuatan yang mereka miliki dan menciptakan produk berkualitas dari kekuatan itu. Akhirnya, perusahaan yang tengah berada di ujung tanduk itu merilis komputer Mac terbaru, juga Macbook. Tak ketinggalan, Apple pun menciptakan iPod, iPhone, dan iPad.

Produk-produk itu sukses besar.

Pada Agustus 2018, alias 42 tahun selepas didirikan, valuasi Apple menyentuh angka $1 triliun. Dua tahun kemudian, tatkala dunia tengah diguncang pandemi Corona, valuasi Apple semakin berlipat ganda. Wakti itu, Apple adalah perusahaan bernilai $2 triliun, selepas nilai per lembar sahamnya merangkak ke angka $468,65. 

Lebih spesifik, peningkatan dari perusahaan bernilai $1 triliun menjadi $2 triliun terjadi hanya dalam tempo sekitar tiga bulan. Tak lama selepas Amerika Serikat menetapkan Corona sebagai bencana, valuasi Apple sempat turun di bawah $1 triliun. Investor panik menyaksikan keadaan tak menentu akibat pandemi. 

Namun, merujuk Laporan Fiskal Apple (yang belum diaudit) enam bulan terakhir yang berakhir pada Juni, Apple mencatat peningkatan penjualan. Total penjualan produk-produk Apple mencapai angka $170,6 miliar, meningkat dari $166,3 miliar setahun sebelumnya, dengan lini komputer Mac dan iPad sebagai pendongkrak utama. Mac memberikan sumbangsih senilai $19,6 miliar kepada Apple. Sementara iPad sukses menyuntik uang senilai $22,7 miliar.

Dalam laporan CNBC, Jessica Bursztynsky menyebut bahwa peningkatan penjualan Mac dan iPad tak lain disebabkan oleh pandemi yang memaksa banyak orang di seluruh dunia bekerja dari rumah. Mac dan iPad akhirnya menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. 

Fakta ini pun diamini Tim Cook, penerus Jobs. Katanya, kebijakan work from home “jelas-jelas meroketkan penjualan Mac dan iPad”.

Related

Business 8637260011861427789

Recent

Hot in week

item