Fakta dan Penyebab Venezuela Jatuh Dalam Kebangkrutan

Fakta dan Penyebab Venezuela Jatuh Dalam Kebangkrutan

Naviri Magazine - Venezuela kini menjadi negara yang bangkrut. Jumlah utang mereka jauh lebih besar dibandingkan jumlah kekayaan mereka. Dalam bahasa sederhana, Venezuela sudah kepayahan membayar utang-utang mereka karena “besar pasak daripada tiang”.

Padahal, sebelumnya, Venezuela dikenal sebagai negara kaya, karena menjadi salah satu negara pemilik sumber minyak terbesar di dunia. Sayang, karena minyak itu pula Venezuela kemudian menghadapi nasib tak terbayangakan. Karena terlalu mengandalkan minyak, Venezuela jadi terlena. Ketika harga minyak mengalami kejatuhan, ekonomi Venezuela pun ikut jatuh.

Tentu saja kejatuhan harga minyak bukan satu-satunya penyebab. Bagaimana pun, Venezuela hancur karena beberapa hal krusial, dan berikut ini empat fakta yang menjadi penyebab bangkrutnya negara itu.

Tiga tahun resesi

Venezuela berada di tahun ketiga resesi. Ekonominya diperkirakan mengalami kontraksi 10% tahun ini, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Bahkan, IMF memperkirakan Venezuela akan berada dalam resesi sampai setidaknya pada 2019. Sementara ekonomi menyusut, harga barang meroket. Tahun ini, inflasi diperkirakan akan meningkat 475%, menurut IMF. 

Nilai mata uang Venezuela telah anjlok. USD 1 setara dengan 100 bolivar, tepat dua tahun yang lalu. Namun, hari ini, nilai tukar bolivar mencapai 1.262 bolivar per USD. Tahun pengeluaran pemerintah yang berlebihan pada program-program kesejahteraan, juga aneka fasilitas yang kurang berhasil, menjadi hal penting yang mendorong munculnya krisis.

Harga minyak jatuh 

Venezuela benar-benar memburuk ketika harga minyak mulai terjun pada 2014 lalu. Pasalnya, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan 95% pendapatan berasal dari ekspor minyak. Harga minyak lebih dari USD 100 per barel pada 2014. Namun, saat ini, minyak berkisar USD 50 per barel, setelah jatuh di level terendah USD 26. 

Venezuela telah abai dengan pemeliharaan fasilitas minyak, produksi telah turun ke level terendah dalam 13 tahun. Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, belum membayar perusahaan yang membantu mengekstrak minyak, seperti Schlumberger (SLB). 

Pada musim semi, Schlumberger dan perusahaan lain secara dramatis mengurangi operasi dengan PDVSA, karena tagihan yang belum dibayar.

Kekurangan pangan dan rumah sakit 

Kekurangan pangan di Venezuela menjadi sangat parah tahun ini. Masyarakat Venezuela bahkan harus mencari bahan dasar seperti susu, telur, tepung, sabun dan kertas toilet, di luar negaranya. 

Meskipun pendapatan minyak dan nilai mata uang jatuh, pemerintah terus melakukan kontrol harga yang ketat atas barang yang dijual di supermarket. Ini memaksa importir makanan untuk menghentikan membawa segala sesuatu, karena mereka akan mendapat kerugian besar. 

Namun, baru-baru ini pemerintah berhenti melakukan kontrol harga, dan makanan telah kembali ke supermarket. Sayangnya, harga makanan yang diberikan terlampau tinggi. Selain itu, Venezuela juga berburu penisilin dan obat lainnya di apotek di mana-mana. Rumah sakit umum negara ini telah rusak, menyebabkan orang bahkan bayi mati karena kelangkaan perawatan medis.

Kehabisan uang tunai dan emas 

Venezuela kehabisan uang tunai dengan cepat. Negara itu tidak memiliki cukup uang untuk membayar tagihan jangka panjang. Venezuela tercatat memiliki utang USD 15 miliar hingga akhir 2017. Padahal, bank sentral negara ini hanya memiliki USD 11,8 miliar. 

Pada saat yang sama, satu-satunya sumber kas lain Venezuela, PDVSA, memompa lebih sedikit minyak. Sebagian besar cadangan Venezuela dalam bentuk emas. Jadi, untuk melakukan pembayaran utang tahun ini, Venezuela telah mengirimkan emas batangan ke Swiss. 

Sebelumnya, China diandalkan untuk menyelamatkan Venezuela dan meminjamkan miliaran dolar. Tetapi negeri Tirai Bambu itu telah berhenti memberikan sejumlah pinjaman untuk Venezuela.

Related

International 3417267493375870146

Recent

item