Hati-Hati, Perilaku Pamer di Media Sosial Bisa Mendatangkan Petaka

Hati-Hati, Perilaku Pamer di Media Sosial Bisa Mendatangkan Petaka

Perkembangan teknologi informasi di dunia terus berkembang secara masif. Pengguna internet di Indonesia saja saat ini sudah mencapai 200 juta lebih. Perubahan gaya hidup menjadi serba digital menawarkan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan berbagai aktivitas.  

Kemudian masyarakat semakin nyaman dan percaya dalam melakukan aktivitas keuangan digital yang selama ini dianggap berisiko tinggi. Di sisi tingginya aktivitas digital juga membuka potensi buruk, seperti penipuan dan pencurian akun, sehingga masyarakat memerlukan pemahaman terkait keamanan digital.  

Flexing merupakan perilaku memamerkan kekayaan, termasuk pamer yang berlebih-lebihan akan pencapaian. Fenomena flexing di media sosial ini menjadi genre tersendiri dan sangat populer.

Beberapa contoh dari perilaku flexing adalah berfoto dengan barang mewah milik pribadi, membagikan foto barang mewah, memamerkan foto pribadi dengan pencapaian yang dimiliki, menulis kisah tentang kekayaan yang dimiliki.  

"Berlebihan berbagi di media sosial akan rentan dengan peretasan data pribadi," ujar Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia, Cut Meutia Karolina.  

Lebih lanjut dia mengatakan, flexing akan membawa kerugian jika kebablasan. Salah satunya informasi penting yang bocor secara tidak sengaja dari ketidaksadaran sewaktu berlebihan membagikan informasi di media sosial, padahal perlindungan data pribadi sebagai aspek keamanan digital. 

Secara nyata, perilaku flexing akan mempermudah pelaku kejahatan di dunia maya melakukan aksinya. Ibarat pemilik rumah memberikan kunci untuk membobol rumah kepada pelaku kejahatan.  

Perilaku flexing yang biasanya tanpa sadar dilakukan ikut mengungkap data pribadi yang sering menjadi konten. Antara lain pengungkapan data KTP, data Ijazah, identitas lengkap vaksinasi, foto lengkap kartu kredit, foto lengkap kartu keluarga, termasuk data kesehatan.

Tak hanya terkait dengan perilaku pamer di media sosial. Keamanan digital yang turut menjadi perhatian saat aktivitas berinternet semakin masif adalah berbelanja online.  

Pegiat Literasi Digital dan Dosen Fikom Universitas Pancasila, Anna Agustina, mengungkapkan, interaksi pengguna internet di Indonesia semakin tinggi untuk belanja online. Bahkan kini generasi milenial sudah terbiasa untuk bertransaksi membeli game online.  

Menurutnya, pengguna sering kali kurang detail memerhatikan izin layanan saat mengunduh aplikasi, di mana biasanya pihak pengelola meminta akses. Begitu juga penekanan pada kerahasiaan password, alamat email, nomor telepon, rekening bank dan berbagai jenis data yang mungkin bocor, hingga bisa dimanfaatkan untuk kejahatan di dunia maya. 

"Ingat kembali bahwa keamanan digital sebagai proses untuk memastikan pengguna layanan digital, baik secara daring dan luring dapat dilakukan secara aman. Tidak hanya untuk mengamankan data yang kita miliki, melainkan juga melindungi data pribadi yang bersifat rahasia," kata Anna.  

Related

Internet 7253906198427539446

Ads

Topic

Recent

item