Kasus Penembakan Berdarah dan Masalah Kepemilikan Senjata di AS

Kasus Penembakan Berdarah dan Masalah Kepemilikan Senjata di AS

Insiden penembakan di sekolah dasar Robb di Uvalde, Texas, Amerika Serikat, pada 24 Mei 2022 merupakan salah satu peristiwa paling tragis di negara Paman Sam dalam satu dekade terakhir.

Total 19 anak dan dua orang dewasa tewas dalam insiden tersebut. Pelaku, Salvador Ramos, merupakan seorang siswa berusia 18 tahun yang tinggal di komunitas setempat. Ia kemudian tewas ditembak polisi di tempat kejadian.

Sebelum insiden di Texas, peristiwa penembakan dengan jumlah korban paling banyak terjadi pada 14 Desember 2012 di Sandy Hook Elementary School. Kala itu seorang pemuda 20 tahun, Adam Lanza, memberondongkan tembakan yang menewaskan 26 orang, dengan 20 di antaranya anak-anak berusia enam hingga tujuh tahun.

Usai tragedi berdarah di Texas, Presiden AS Joe Biden kembali menyerukan pengetatan aturan kepemilikan senjata yang selama ini menjadi perdebatan sengit.

"Atas nama Tuhan, kapan kita akan mendukung reformasi hukum kepemilikan senjata (gun lobby)? Ini waktunya mengubah rasa sakit dan kehilangan dalam aksi nyata bagi seluruh orang tua dan warga di negara ini. Kita harus memperjelas kepada para pejabat terpilih: Ini waktunya beraksi," ucap Biden dalam pernyataan pers.

Meski insiden penembakan terus terjadi, hukum kepemilikan senjata di AS memang belum berubah dan terus menjadi isu sengit di Kongres.

Sebagian besar legislator, terutama kaum konservatif, masih banyak menganggap kepemilikan senjata merupakan bentuk kebebasan dalam demokrasi.

Penembakan di SD Robb juga bukan yang pertama terjadi. Bahkan, sejak awal 2022, menurut data CNN Internasional, terjadi 38 insiden penembakan di sekolah dan universitas AS sejak awal tahun.

Sementara itu, menurut Gun Violence Archive (GVA), total ada 212 insiden penembakan massal di AS sejak awal hingga pertengahan 2022.

Related

International 2691374533958931698

Recent

item