Mengungkap Kebohongan Media Tentang Yahudi-Israel

Mengungkap Kebohongan Media Tentang Yahudi-Israel

Naviri Magazine - Media memiliki penaruh besar dalam mempengaruhi opini massa, khususnya media-media yang memiliki jangkauan besar. Karenanya, media sering dianggap sebagai salah satu pilar demokrasi, dan dituntut untuk selalu objektif dalam menyuguhkan fakta atau berita.

Sayangnya, sebagian media kadang memiliki kepentingan tertentu, yang menjadikan mereka tidak sepenuhnya objektif. Dalam memberitakan konflik antara Israel dan Palestina, misalnya, beberapa media menunjukkan dukungan kepada salah satu pihak, dan meninggalkan objektivitas.

Seorang jurnalis asal Belgia dan penulis buku “Israel, Let’s Talk About It”, Michael Collon, mengecam media Eropa yang telah beberapa dekade membohongi publik untuk mendukung Israel. Dalam bukunya, Collon menulis sepuluh kebohongan besar yang disebarkan oleh media barat tentang Israel. Berikut ini rinciannya: 

Kebohongan pertama:
Israel didirikan sebagai reaksi pembantaian terhadap Yahudi selama Perang Dunia II 

Ini benar-benar salah. Faktanya, Israel mendominasi proyek yang disetujui pada Kongres Zionis Pertama di Basel, Switzerland, pada tahun 1897, ketika orang Yahudi memutuskan untuk menduduki Palestina. Orang Yahudi kembali ke tanah nenek moyangnya setelah mereka diusir pada tahun 70 M. 

Menurut Collon, ini adalah dongeng. Ia telah berbicara dengan sejarawan terkenal Israel, Shlomo Sand, dan sejarawan lainnya, tentang hal ini. Mereka yakin bahwa eksodus yang disebutkan Israel tidak ada, sehingga istilah kembali ke tanah nenek moyang juga tak ada artinya. 

Pada masa-masa itu, orang-orang yang tinggal di Palestina tidak meninggalkan tanah mereka. Mereka yang mengklaim ingin pulang ke tanah nenek moyangnya sebenarnya berasal dari Eropa Barat dan Timur, serta Afrika Utara. 

Sand mengatakan bahwa bangsa Yahudi itu tidak ada. Orang-orang Yahudi tidak memiliki sejara bahasa ataupun kebudayaan. Satu-satunya yang mengakar bagi mereka adalah agama mereka. Tapi agama tidak membuat sebuah bangsa. 

Kebohongan kedua:
Ketika para imigran Yahudi menduduki Palestina, tanah itu dalam keadaan kosong 

Ini juga bohong, karena terdapat data dari beberapa dokumen dan bukti bahwa pada abad ke-19 sejumlah produk pertanian Palestina diekspor ke beberapa negara, termasuk Perancis. 

Beberapa orang mengatakan bahwa rakyat Palestina secara sukerela meninggalkan Tanah Airnya. Tentu saja ini juga kesalahan besar. Sejarawan Israel, Benny Morris dan Ilan Pappe, mengatakan bahwa rakyat Palestina telah diusir dari tanah mereka secara paksa. 

Kebohongan ketiga:
Israel adalah satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, dan harus dilindungi

Pada kenyataannya, kata Collon, hukum-hukum yang berlaku di Israel justru kontradiktif dengan asas demokrasi. Israel adalah rezim yang tidak memiliki hukum yang mendefinisikan dengan jelas wilayah teritorinya. Padahal semua negara di dunia memiliki batasan teritori yang jelas. 

Israel terus melakukan proyek ekspansi tanpa batasan. Hukum Israel juga sangat rasis. Mereka menyebut Israel sebagai negara Yahudi tempat penduduk non-Yahudi tidak dianggap sebagai manusia. 

Kebohongan keempat:
Amerika disebut berusaha melindungi demokrasi di Timur Tengah, dengan melindungi Israel

Faktanya, bantuan keuangan Amerika ke Israel tiap tahun mencapai US$3 miliar. Uang ini dipakai untuk membombardir negara-negara tetangga Israel. Di Timur Tengah, perhatian Amerika hanyalah bagaimana supaya arus minyak tidak terganggu. 

Kebohongan kelima:
Amerika mencari kesepakatan antara Israel dengan Palestina

Ini juga kebohongan besar. Sejumlah industri senjata Eropa bekerja sama dengan industri militer Israel, dan mendukung mereka secara finansial. Ketika rakyat Palestina melakukan pemilihan umum untuk memilih pemerintahan mereka, Eropa tidak mengakuinya, dan memberikan lampu hijau pada Israel untuk menyerang Jalur Gaza. 

Ketika seseorang berbicara tentang fakta-fakta ini, dan sejarah Israel serta Palestina, lalu saat ada yang mengatakan bahwa Amerika memiliki kepentingan dalam situasi ini, orang itu akan disebut antisemitisme. 

Menurut Collon, faktanya ketika kita mengkritisi Israel, bukan berarti kita telah bertindak rasis atau antisemitisme. Kita hanya mengkritisi sistem pemerintahan yang tidak mengakui kesetaraan antara Yahudi, Muslim, dan Kristen, serta menghancurkan perdamaian di antara pengikut agama yang berbeda. 

Kebohongan keenam:
Media massa mengatakan bahwa rakyat Palestina adalah penyebab kekerasan dan terorisme 

Collon mengatakan, justru militer Israel yang penuh kekerasan. Demi merampas tanah Palestina, mereka tega berbuat kejam. Isu yang sering mengemuka adalah tidak ada solusi terkait konflik Israel-Palestina. 

Menurut Collon, solusi tetap ada. Satu-satunya solusi untuk menghentikan Israel adalah tekanan publik terhadap antek-antek Israel di Amerika dan Eropa, serta belahan dunia lainnya. Dan media massa pun tidak perlu menahan diri untuk memberitakan fakta sesungguhnya tentang Palestina.

Related

International 3349465571801355082

Recent

item