Sejarah dan Fakta Kelam di Balik Keindahan dan Kehebatan Dubai

Sejarah dan Fakta Kelam di Balik Keindahan dan Kehebatan Dubai

Sebelum 1697, Tsar Rusia Peter Agung terpesona dengan Eropa melalui buku-buku serta surat kabar yang dibacanya. Melalui pengetahuan yang dimiliki tentang Eropa dan berkaca pada keadaan negeri yang dipimpinnya, Peter menganggap bahwa Rusia, tanah suku-bangsa Rus, tertinggal jauh dibandingkan negeri-negeri jiran. 

Tak ingin terus-terusan tertinggal, Peter mencanangkan proyek ambisius: memodernisasi segala aspek kehidupan agar Rusia persis seperti Eropa. Menurut Peter, modernisasi akan berhasil seandainya ia pergi ke Eropa dan "mencuri" segala ilmu pengetahuannya demi kepentingan bangsa. 

Sayangnya, terakhir kali seorang Tsar Rusia menginjakkan kaki di Eropa, yang terjadi adalah invasi. Tak ingin membuat kegaduhan, Peter memutuskan pergi dengan menyamar sebagai Peter Mikhailov, tukang kayu asal Rusia yang berniat mengasah kemampuan di Eropa. 

Pada 1697, Peter memulai petualangannya, menginjakkan kaki di Inggris, Prancis, Jerman, dan, terutama, Belanda. Bagi Peter, Belanda adalah "pusat kekuatan Eropa" saking suksesnya menguras kekayaan Nusantara. Plus, segala ilmu pengetahuan bersarang di Belanda. Kekaguman inilai yang membuat sang kaisar tak ragu magang kerja selama empat bulan di Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di Amsterdam. 

Tak disangka, usai tinggal di Amsterdam sebagai karyawan magang, cinta lokasi (dalam arti sesungguhnya) tumbuh dalam hati Peter. Sang kaisar ini jatuh cinta pada Amsterdam. Usai kembali Rusia, Peter mendirikan Sankt Pieter Burk a.k.a St. Petersburg alias, diturunkan dari bahasa Belanda, "kotanya St. Peter." Kota yang berdiri di atas tanah kosong di penghujung Sungai Neva ini adalah tiruan Amsterdam, baik dari segi bangunan maupun segala fasilitas publiknya. 

Lebih dari dua abad berlalu, kebijakan Peter menyalin-tempel Amsterdam ditiru penguasa lain. Bukan oleh Tsar Nicholas II—yang tewas disikat Bolshevik—melainkan Sheikh Rashid bin Makhtoum bin Hasher. Peter membangun Petersburg, Rashid membangun Dubai di Jazirah Arab. 

Dalam A History of Future Cities (2014), Daniel Brook menyatakan Dubai tak pernah dibangun selayaknya sebuah kota hingga abad ke-20 meskipun menjadi titik temu perdagangan dan pelayaran (dan kini penerbangan) antara Eropa, Asia, dan Afrika. Pasalnya, Dubai berdiri di atas hamparan padang pasir yang mempersulit aktivitas manusia. 

Semenjak kelahiran kota ini (kira-kira 2.000 tahun yang lalu), Dubai akhirnya hanya menjadi "kota mati". Bahkan, tatkala berkuasa di Dubai pada abad ke-18, Inggris tak membangun apa pun di sana, dan membiarkan kota itu dikuasai para sheikh lokal. Kini ketertinggalan Dubai adalah sejarah. 

Setelah Kekaisaran Persia menaikkan tarif bersandar bagi kapal-kapal di pelbagai pelabuhan miliknya pada awal abad ke-20, Sheikh Makhtoum bin Hasher, penguasa Dubai kala itu, bersiasat dan mendeklarasikan semua pelabuhan di Dubai gratis disinggahi, tanpa pajak. Kebijakan ini membuat Dubai akhirnya dipilih pelayar/pedagang sebagai tempat bersandar. Dus, jadilah Dubai "kota persinggahan". 

Sejak itu Dubai bertransformasi menjadi "kota hidup" yang mulai bisa membiayai pelbagai pembangunan. Nahas, karena mendirikan bangunan di atas padang pasir bukan pekerjaan mudah dan berbiaya mahal, Sheikh Makhtoum membangun Dubai sebagai kota yang biasa-biasa saja. Saking biasanya, para saudagar Inggris menyebut Dubai "kota yang tertinggal di abad ke-17". 

Pembangunan yang biasa-biasa saja ini akhirnya terhenti kala minyak mengucur deras dari tanah Dubai pada 1966. Boom minyak membuat Sheikh Rashid bin Makhtoum bin Hasher, Emir Dubai yang baru saja naik takhta menggantikan ayahnya, memodernisasi Dubai secara masif. Ia menyulap kota gersang itu menjadi "London". 

Sebagaimana Peter Agung melihat Amsterdam, Sheikh Rashid bin Makhtoum bin Hasher memandang London sebagai kota yang "sempurna". Sheikh Makhtoum meminta bantuan arsitek-arsitek asal Inggris untuk menyulap Dubai, "dari kota di dunia ketiga—atau mungkin dunia keempat—menjadi kota nomor satu di dunia dalam 15 tahun." 

Dan, karena Sheikh Makhtoum menganggap minyak tak akan selamanya muncul dari tanah Dubai, ia meminta pembangunan yang dilakukan para arsitek Inggris tersebut "dibuat seolah-olah minyak tidak pernah ada di Dubai." 

Sayangnya, belum juga Dubai berubah menjadi London, selayaknya kisah klasik orang kaya baru, Sang Emir berubah pikiran. Ia memerintahkan para pembantunya untuk mencari "semua keindahan di seluruh dunia dan menirunya" di Dubai. Keputusan ini membuat Dubai kini menjadi kota modern tanpa arah. Ia membangun pelbagai infrastruktur yang membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum—mulai dari Burj Khalifa, Burj Al Arab, hingga Palm Islands—tetapi tak terintegrasi dengan baik. 

Tak hanya itu, karena pembangunan di Dubai berbiaya super mahal, properti harus ditebus kocek tebal bagi masyarakat yang menginginkannya. Nahas, jauh semenjak Sheikh Makhtoum berkuasa, Dubai merupakan kota yang lebih banyak diisi pendatang. Lebih tepat, pendatang ilegal yang tidak memiliki cukup uang. 

Walhasil, segala kemewahan Dubai hanya dapat dinikmati kalangan kaya, yakni ekspatriat—karena istilah imigran hanya untuk kaum miskin—asal Eropa. Dubai, sebagaimana dipaparkan Ahmed Kanna dalam buku berjudul Dubai: The City as Corporation (2011), akhirnya bukan bertransformasi menjadi London, tetapi, kota yang sangat tersegregasi. Kota di mana yang kaya mengisolasi diri dari yang miskin. 

Semrawut di sekitar hunian orang miskin berada, megah di titik-titik orang kaya berkumpul. Layak ditempati pemilik Lamborghini, tetapi tidak untuk pengguna transportasi publik. Di tempat inilah perbudakan modern menjadi tulang punggung ekonomi bangsa. Selain "City of Gold," Dubai adalah "City of Slaves," simpul Nicholas Cooper, peneliti asal University of New Mexico. 

Related

International 8428846297260070563

Ads

Topic

Recent

item