Cantik, Pintar, Terkenal, tapi Sulit Mendapat Pacar (1)

Cantik, Pintar, Terkenal, tapi Sulit Mendapat Pacar

Naviri.Org - Nikita adalah wanita yang merasa dirinya sangat cantik, dan sempurna. Kenyataannya dia memang cantik, dan pintar, dan terkenal di kalangan sosialita. Tapi wanita yang merasa sempurna itu mengalami satu masalah klasik—dia sulit mendapat pasangan. Sampai usianya melewati 30 tahun, dia tetap belum mendapat pacar—sesuatu yang sangat diinginkannya.

Sering kali Nikita membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain yang mudah mendapat pasangan, dan Nikita melihat bahwa dirinya lebih segalanya dibandingkan mereka. Tetapi kenapa wanita-wanita lain itu yang justru mudah mendapat pasangan, sementara dia yang sempurna malah sulit mendapat pasangan? Nikita memang punya teman-teman lelaki. Tetapi para lelaki itu hanya tertarik untuk menjadi teman, dan tampaknya tidak tertarik menjadi pasangannya. Sementara lelaki-lelaki yang mau jadi pacarnya, dinilai kurang memenuhi syarat.

Kadang, Nikita curhat pada teman dan sahabat, mengenai kegalauan yang dirasakannya. Dia jujur bertanya pada mereka, apa kekurangan dirinya, hingga tampaknya tidak ada lelaki yang tertarik mendekati? Biasanya, teman atau sahabat Nikita hanya menjawab, “Menurutku kamu baik-baik saja, dear. Kalau sampai sekarang belum dapat jodoh, ya memang belum takdirnya, sih.”

Itu jawaban klise, pikir Nikita. Sebagai wanita cerdas, dia menyadari bahwa mendapat pasangan tidak sekadar “takdir yang belum waktunya”. Dia punya teman, seorang wanita yang juga seperti dirinya. Teman Nikita adalah wanita cantik yang sangat taat beragama—sosok yang katanya disukai para lelaki. Tetapi, kenyataannya, teman Nikita juga tampaknya kesulitan mendapat pasangan.

Nikita pernah membahas temannya tersebut dengan seorang teman lelaki, dan bertanya, “Menurutmu, kenapa dia sulit mendapat pasangan, padahal cantik dan sangat taat beragama?”

Teman lelakinya menjawab lugas, “Yang membuat para lelaki menjauh dari dirinya, karena dia sangat sok alim dan sok suci. Sebagai lelaki, terus terang aku tertarik kepadanya. Oh, dia jenis wanita yang didambakan lelaki—cantik dan taat beragama. Tapi aku sangat tidak tertarik dengan sikapnya yang membosankan. Aku lebih menyukai wanita yang biasa-biasa saja, tapi sikapnya menyenangkan dan membuat nyaman.”

Mendengar tuturan jujur itu, Nikita pun introspeksi. Jika temannya yang cantik dan taat beragama dijauhi para lelaki karena sikapnya, apakah dirinya sendiri juga mengalami hal sama? Dengan segala objektivitas, Nikita menilai dirinya sendiri sebagai wanita yang seharusnya mudah mendapat pasangan. Jika kenyataan sebaliknya, maka tentu ada sesuatu yang menyebabkan. Tapi apa...?

Sering kali, kita mudah menilai orang lain dan melihat kekurangan mereka. Tetapi, kita sering sulit menilai dan melihat kekurangan diri sendiri. Begitu pula Nikita. Dia tidak mampu menemukan kekurangannya, meski telah berupaya sekuat tenaga melakukan. Nikita telah mencoba meminta tolong teman-teman dekat, meminta mereka agar menunjukkan apa kekurangannya, tetapi teman-teman Nikita rata-rata menjawab, “Menurutku, kamu oke-oke saja, kok.”

Didorong penasaran—dan karena ingin mendapat pasangan—Nikita lalu memutuskan menemui seorang psikolog. Dia sengaja mencari psikolog yang sama-sama wanita, dan keibuan, agar lebih nyaman. Kepada psikolog yang ditemuinya, Nikita menjelaskan dengan jujur keadaan dirinya, gaya hidupnya, kebiasaan-kebiasaannya, teman-temannya—apa pun. Sang psikolog menyimaknya baik-baik, kadang mengajukan beberapa pertanyaan, dan Nikita menjawab dengan jujur.

Di akhir sesi, sang psikolog memberitahu dengan nada bersahabat, “Satu-satunya masalahmu, tampaknya, adalah sikap dan ucapanmu. Itulah yang menjadikan para lelaki menjaga jarak darimu.”

Selintas, Nikita menyadari, dia memang suka bersikap seenaknya—khas wanita yang merasa dirinya dipuja. Ucapannya juga kadang seenaknya, meski mungkin terdengar kasar atau tidak sopan. Bagi Nikita, ucapannya yang kadang kasar itu justru menjadi daya tariknya. “Teman-teman saya tidak menganggap itu masalah,” ujar Nikita membela diri di hadapan psikolog yang ditemuinya.

“Tentu saja.” Sang psikolog tersenyum. “Tentu saja teman-temanmu tidak mempermasalahkan itu, karena mereka teman-temanmu. Teman-teman kita adalah orang-orang baik yang bisa menerima diri kita apa adanya. Tetapi, kalau tidak salah ingat, kau tidak sedang risau mencari teman—kau sedang risau mencari pasangan.”

Nikita terdiam.

Sang psikolog melanjutkan, “Ketika mencari teman, kita menerima siapa pun sebagaimana orang lain menerima kita apa adanya. Tetapi ketika mencari pasangan, kita tentu memiliki kriteria tertentu. Begitu pula orang lain. Kenyataannya, meski kita punya ribuan teman, kita hanya memilih satu pasangan—yang kita anggap terbaik. Sekali lagi, begitu pula orang lain.”

Setelah ucapannya mengendap, sang psikolog melanjutkan, “Teman-temanmu tidak mempersoalkan sikap atau ucapanmu yang kadang kasar, sebagaimana kau pun tidak mempersoalkan sikap atau ucapan teman-temanmu. Kalian berteman, dan memang itulah asyiknya pertemanan. Kau tidak pernah mempersoalkan apakah temanmu punya jerawat atau tidak, sebagaimana temanmu tidak pernah mempersoalkan bagaimana gaya hidupmu. Sekali lagi, itulah teman. Sayangnya, hal yang sama tidak terjadi pada orang yang kita harapkan menjadi pasangan.”

“Bagi wanita secantik dirimu,” lanjut sang psikolog pada Nikita, “tentu sangat mudah mendapat pasangan. Tapi kenyataannya tidak. Kenapa? Karena kau memiliki kriteria tertentu—sejumlah syarat yang kauharapkan dimiliki calon pasanganmu. Tentu aja tidak masalah, karena itu hakmu. Tetapi jangan lupa, calon pasanganmu juga memiliki kriteria serupa—sejumlah syarat yang diharapkan untuk dimiliki calon pasangannya.”

Tanpa sadar Nikita menganggukkan kepala.

Baca lanjutannya: Cantik, Pintar, Terkenal, tapi Sulit Mendapat Pacar (2)

Related

Psychology 2327297855567207616

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item