Netflix, Raksasa Baru Industri Televisi Dunia

 Netflix, Raksasa Baru Industri Televisi Dunia

Naviri.Org - Televisi adalah tontonan populer, dan hampir setiap rumah memiliki pesawat televisi. Penonton televisi pun merentang dari anak-anak sampai orang tua. Terkait televisi, penonton bisa dibilang tidak memiliki hak apa pun untuk menentukan apa yang ingin ditontonnya, selain hanya mengikuti tontonan yang disuguhkan stasiun televisi. Artinya, kalau pentonton tidak menyukai suatu tontonan, mereka tidak bisa apa-apa, selain mungkin hanya berpindah chanel ke stasiun lain.

Bayangkan jika kita, sebagai penonton televisi, memiliki hak dan kemampuan untuk menonton apa pun yang kita suka. Bayangkan jika kita bisa memilih tontonan seperti apa yang kita nikmati, khususnya film-film apa saja yang ingin kita tonton. Pasti akan menyenangkan, kalau saja ada televisi yang menyediakan pilihan semacam itu.

Kini, pilihan semacam itu telah ada, dan disediakan oleh Netflix.

Industri televisi selalu berhasil melahirkan raksasa baru, sekaligus mengubur raksasa tua yang tak bisa lagi beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman. Di Amerika Serikat, raksasa tua yang mulai terkubur dan ditinggalkan bernama televisi kabel. Sedangkan raksasa yang kini tumbuh besar menjulang bernama Netflix.

Netflix mengawali bisnisnya dari pengantaran DVD pada 1998. Ekspansi berlanjut ke bisnis streaming pada 2007. Kini, Netflix sudah tumbuh besar menjadi streaming video terbesar dunia dengan 75 juta pelanggan. Perusahaan yang bermarkas di Los Gatos, California, ini juga sudah masuk ke 190 negara, termasuk Indonesia.

Tumbuh pesat di era digital

Membesarnya bisnis Netflix ini tak lepas dari berkembangnya internet dan menjamurnya ponsel pintar atau smartphone. Keduanya mengikis ketergantungan masyarakat terhadap televisi. Orang dengan mudah nonton tayangan kapan pun, di mana pun. Inilah yang ditawarkan oleh layanan streaming seperti Netflix.

Pada Januari 2016, lembaga riset dan think tank Pew Research Center mengeluarkan hasil riset di Amerika Serikat tentang penggunaan ponsel pintar untuk menonton film atau layanan televisi berbayar seperti Netflix dan Hulu Plus. Hasilnya, penggunaan ponsel pintar untuk menonton film atau televisi berbayar meningkat pesat dari 15 persen pada 2012 menjadi 33 persen pada 2015.

Siapa saja yang paling banyak menonton film atau televisi melalui ponsel pintar? Sekitar 52 persennya adalah anak muda umur 18 hingga 29 tahun, yang juga kerap disebut sebagai generasi digital. Jumlah itu diikuti oleh 36 persen orang berusia 30 hingga 49 tahun, bagian dari Generasi X yang walaupun bukan digital native, tapi masih akrab dengan dunia digital.

Sementara lembaga perlindungan konsumen, Consumer Reports, melakukan survei pada 2012, tentang penyedia jasa televisi internet paling populer di Amerika Serikat. Hasilnya, Netflix keluar sebagai jawara dengan pelanggan sekitar 81 persen.

Pada laporan akhir tahun 2015, Netflix mengklaim punya sekitar 61 juta pelanggan. Jumlah itu naik dari 57 juta pelanggan pada 2014. Netflix sendiri memperkirakan jumlah pelanggannya sudah mencapai 75 juta orang. Ini artinya, semakin banyak orang yang menggunakan televisi internet.

Jumlah pertumbuhan pelanggan ini juga berdampak besar terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan. Kuartal terakhir 2015 ditutup dengan pendapatan sebesar USD 1,6 miliar dengan kontribusi keuntungan sekitar USD 270 juta. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan pendapatan pada kuartal terakhir 2014, yakni sebesar USD 1,3 miliar, dengan kontribusi keuntungan USD 178 juta. Netflix menargetkan pendapatan sebesar USD 1,8 miliar pada kuartal pertama 2016. Dengan pertumbuhan pelanggan yang cepat, Netflix optimistis target itu akan tercapai.

Baca juga: Fakta dan Rahasia di Balik Kesuksesan Netflix

Related

Business 3147519800678908986

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item